Zelensky dan Trump Bertengkar, Rusia Ledek Ukraina Gagal Total
Minggu, 02 Maret 2025 - 05:36 WIB
loading...
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky (kiri) bertengkar dengan Presiden AS Donald Trump di hadapan media di Gedung Putih. Foto/Screengrab video CBS Evening News
A
A
A
MOSKOW - Pemerintah Rusia semakin meledek Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dengan menyebutnya sebagai pemimpin yang mengalami kegagalan total dalam dalam politik dan diplomatik.
Ledekan ini sebagai respons atas kunjungan Zelensky ke Washington yang berakhir dengan pertengkarannya dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di hadapan media di Gedung Putih pada hari Jumat waktu Washington.
“Itu adalah kegagalan politik dan diplomatik total bagi Kyiv,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova.
Baca Juga: Bertengkar di Depan Media, Trump: Zelensky Belum Siap untuk Perdamaian
Zelensky terlibat cekcok hebat dengan Trump dan Wakil Presiden AS JD Vance, membuat kunjungannya berakhir tiba-tiba tanpa penandatanganan perjanjian penyerahan mineral tanah langka Ukraina kepada Amerika seperti yang direncanakan sebelumnya.
Selama cekcok sengit di Oval Office, Zelensky menolak permintaan Trump untuk merundingkan perdamaian dengan Moskow, yang menyebabkan Trump menuduhnya tidak tahu berterima kasih, bertaruh dengan Perang Dunia III, dan tidak mau mengakhiri konflik.
Zakharova mengkritik perilaku yang sangat kasar Zelensky di Washington.
”Tindakannya menegaskan dia adalah ancaman paling berbahaya bagi masyarakat dunia sebagai penghasut perang yang tidak bertanggung jawab,” katanya.
Dia menekankan bahwa Moskow telah berulang kali menyoroti ketidakcakapan, korupsi, dan ketidakmampuan Zelensky untuk bernegosiasi.
"Semua orang harus menyadari betapa tidak ambigunya ledakan seperti itu dari pemimpin teroris ini," katanya dalam sebuah pernyataan di Telegram, seperti dikutip dari Russia Today, Minggu (2/3/2025).
“Dalam kondisi politik yang semakin memburuk saat ini bagi rezim Kyiv, [Zelensky] tidak dapat menunjukkan rasa tanggung jawab dan karena itu terobsesi untuk melanjutkan perang, menolak perdamaian, yang baginya akan seperti kematian,” paparnya.
Zakharova menggambarkan teguran Trump terhadap Zelensky di Gedung Putih sebagai "teguran serius" yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam politik dan diplomasi internasional.
Dia menegaskan bahwa insiden ini juga menyoroti kelemahan politik dan degradasi moral yang mendalam dari para pemimpin Eropa yang terus mendukung Zelensky, yang dia gambarkan sebagai "gila" dan tidak terhubung dengan kenyataan.
Setelah pertengkaran tersebut, negara-negara Uni Eropa, termasuk Prancis, Jerman, dan Polandia bergegas membela Zelensky dan menyatakan dukungan mereka untuk Ukraina.
Pertemuan yang gagal itu telah menimbulkan kekhawatiran tentang dukungan AS di masa mendatang untuk Ukraina. Kunjungan Zelensky awalnya dimaksudkan untuk menyelesaikan kesepakatan yang memberikan akses AS ke mineral tanah langka Ukraina. Gagalnya perundingan telah membuat kesepakatan itu tidak jelas.
Ledekan ini sebagai respons atas kunjungan Zelensky ke Washington yang berakhir dengan pertengkarannya dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di hadapan media di Gedung Putih pada hari Jumat waktu Washington.
“Itu adalah kegagalan politik dan diplomatik total bagi Kyiv,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova.
Baca Juga: Bertengkar di Depan Media, Trump: Zelensky Belum Siap untuk Perdamaian
Zelensky terlibat cekcok hebat dengan Trump dan Wakil Presiden AS JD Vance, membuat kunjungannya berakhir tiba-tiba tanpa penandatanganan perjanjian penyerahan mineral tanah langka Ukraina kepada Amerika seperti yang direncanakan sebelumnya.
Selama cekcok sengit di Oval Office, Zelensky menolak permintaan Trump untuk merundingkan perdamaian dengan Moskow, yang menyebabkan Trump menuduhnya tidak tahu berterima kasih, bertaruh dengan Perang Dunia III, dan tidak mau mengakhiri konflik.
Zakharova mengkritik perilaku yang sangat kasar Zelensky di Washington.
”Tindakannya menegaskan dia adalah ancaman paling berbahaya bagi masyarakat dunia sebagai penghasut perang yang tidak bertanggung jawab,” katanya.
Dia menekankan bahwa Moskow telah berulang kali menyoroti ketidakcakapan, korupsi, dan ketidakmampuan Zelensky untuk bernegosiasi.
"Semua orang harus menyadari betapa tidak ambigunya ledakan seperti itu dari pemimpin teroris ini," katanya dalam sebuah pernyataan di Telegram, seperti dikutip dari Russia Today, Minggu (2/3/2025).
“Dalam kondisi politik yang semakin memburuk saat ini bagi rezim Kyiv, [Zelensky] tidak dapat menunjukkan rasa tanggung jawab dan karena itu terobsesi untuk melanjutkan perang, menolak perdamaian, yang baginya akan seperti kematian,” paparnya.
Zakharova menggambarkan teguran Trump terhadap Zelensky di Gedung Putih sebagai "teguran serius" yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam politik dan diplomasi internasional.
Dia menegaskan bahwa insiden ini juga menyoroti kelemahan politik dan degradasi moral yang mendalam dari para pemimpin Eropa yang terus mendukung Zelensky, yang dia gambarkan sebagai "gila" dan tidak terhubung dengan kenyataan.
Setelah pertengkaran tersebut, negara-negara Uni Eropa, termasuk Prancis, Jerman, dan Polandia bergegas membela Zelensky dan menyatakan dukungan mereka untuk Ukraina.
Pertemuan yang gagal itu telah menimbulkan kekhawatiran tentang dukungan AS di masa mendatang untuk Ukraina. Kunjungan Zelensky awalnya dimaksudkan untuk menyelesaikan kesepakatan yang memberikan akses AS ke mineral tanah langka Ukraina. Gagalnya perundingan telah membuat kesepakatan itu tidak jelas.
(mas)
Lihat Juga :