Donald Trump Tunjuk Eks Jenderal Dan ‘Razin' Caine Jadi Panglima Militer Baru AS
Minggu, 23 Februari 2025 - 06:03 WIB
loading...
A
A
A
Hegseth telah berterus terang tentang kebijakan Keberagaman, Kesetaraan, dan Inklusi (DEI) yang berdampak buruk pada operasi militer, dan sebelumnya menyarankan pemecatan Jenderal Brown dan para pemimpin tinggi lainnya.
Sebelum menjadi menteri pertahanan, Hegseth menulis tentang Brown beberapa kali dalam bukunya, "The War on Warriors”, pernah mempertanyakan apakah Brown layak dipromosikan menjadi jenderal tertinggi Amerika.
"Standar militer, yang dulu menjadi ciri khas kompetensi, profesionalisme, dan hasil 'misi pertama', secara resmi telah digantikan oleh prioritas yang terbangun," tulisnya.
"Anda pikir CQ Brown akan berpikir intuitif tentang ancaman eksternal dan kesiapan internal? Tidak mungkin. Dia membangun jabatan jenderalnya dengan patuh mengejar posisi radikal politisi sayap kiri, yang pada gilirannya menghadiahinya dengan promosi,” lanjut dia dalam bukunya.
Sebelum diangkat sebagai CCJS, Brown menjabat sebagai kepala staf Angkatan Udara ke-22 dari tahun 2020 hingga 2023. Dia mencatat lebih dari 3.000 jam terbang sebagai pilot pesawat tempur, termasuk 130 jam dalam pertempuran.
Sedangkan Caine telah mencatat lebih dari 2.800 jam terbang denganjet tempur F-16, termasuk lebih dari 100 jam dalam pertempuran.
Hegseth mengatakan dia juga meminta nominasi untuk posisi Kepala Operasi Angkatan Laut dan Wakil Kepala Angkatan Udara. Dua jabatan itu sebelumnya dipegang oleh Laksamana Lisa Franchetti dan Jenderal James Slife.
"Pejabat yang memegang peran penting ini, Laksamana Lisa Franchetti dan Jenderal James Slife, masing-masing, memiliki karier yang terhormat," tulis Hegseth. "Kami berterima kasih kepada mereka atas pengabdian dan dedikasi mereka kepada negara kita."
Hegseth sebelumnya juga menyebut Franchetti dalam bukunya, mengkritik kurangnya pengalaman tempurnya dan mengejek gelar masternya dari perguruan tinggi daring Universitas Phoenix.
Sebelum menjadi menteri pertahanan, Hegseth menulis tentang Brown beberapa kali dalam bukunya, "The War on Warriors”, pernah mempertanyakan apakah Brown layak dipromosikan menjadi jenderal tertinggi Amerika.
"Standar militer, yang dulu menjadi ciri khas kompetensi, profesionalisme, dan hasil 'misi pertama', secara resmi telah digantikan oleh prioritas yang terbangun," tulisnya.
"Anda pikir CQ Brown akan berpikir intuitif tentang ancaman eksternal dan kesiapan internal? Tidak mungkin. Dia membangun jabatan jenderalnya dengan patuh mengejar posisi radikal politisi sayap kiri, yang pada gilirannya menghadiahinya dengan promosi,” lanjut dia dalam bukunya.
Sebelum diangkat sebagai CCJS, Brown menjabat sebagai kepala staf Angkatan Udara ke-22 dari tahun 2020 hingga 2023. Dia mencatat lebih dari 3.000 jam terbang sebagai pilot pesawat tempur, termasuk 130 jam dalam pertempuran.
Sedangkan Caine telah mencatat lebih dari 2.800 jam terbang denganjet tempur F-16, termasuk lebih dari 100 jam dalam pertempuran.
Hegseth mengatakan dia juga meminta nominasi untuk posisi Kepala Operasi Angkatan Laut dan Wakil Kepala Angkatan Udara. Dua jabatan itu sebelumnya dipegang oleh Laksamana Lisa Franchetti dan Jenderal James Slife.
"Pejabat yang memegang peran penting ini, Laksamana Lisa Franchetti dan Jenderal James Slife, masing-masing, memiliki karier yang terhormat," tulis Hegseth. "Kami berterima kasih kepada mereka atas pengabdian dan dedikasi mereka kepada negara kita."
Hegseth sebelumnya juga menyebut Franchetti dalam bukunya, mengkritik kurangnya pengalaman tempurnya dan mengejek gelar masternya dari perguruan tinggi daring Universitas Phoenix.
(mas)
Lihat Juga :