Bos NATO Klaim Punya Rahasia Akhiri Perang Ukraina yang Bikin Putin Tak Berani Lagi

Senin, 03 Februari 2025 - 13:06 WIB
loading...
Bos NATO Klaim Punya...
Sekjen NATO Mark Rutte klaim memiliki ide rahasia untuk akhiri perang Rusia-Ukraina yang membuat Presiden Rusia Vladimir Putin tak akan berani lagi mencoba menaklukkan Kyiv. Foto/Sputniknews
A A A
BRUSSELS - Sekretaris Jenderal (Sekjen) NATO Mark Rutte mengeklaim sudah memiliki ide yang dia rahasiakan untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina.

Menurut bos aliansi tersebut, idenya akan membuat Presiden Rusia Vladimir Putin tidak akan berani lagi untuk mencoba menaklukkan Kyiv di masa mendatang.

Dalam wawancara dengan surat kabar Jerman, Bild, yang diterbitkan pada 1 Februari, Rutte ditanya apakah perdamaian antara kedua negara itu mungkin terjadi.

"Kita harus memastikan bahwa (Putin) tidak akan pernah lagi menaklukkan bahkan satu kilometer persegi pun Ukraina," jawabnya, seraya menambahkan hal terpenting yang harus dilakukan NATO saat ini adalah mendukung Kyiv dengan persenjataan dan pelatihan bagi para prajuritnya.

Baca Juga: Sekutu Desak NATO Tunjukkan Kekuatan pada Rusia, Ini Alasannya

Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa jika Ukraina memutuskan untuk memasuki perundingan damai, maka ia harus membawa Putin ke meja perundingan.

"Saya tidak dapat menjelaskan kepada Anda secara pasti bagaimana perundingan ini akan berlangsung," katanya.

“Saya sudah memiliki ide tentang seperti apa komposisi ini nantinya. Namun, kami tidak ingin membuat Putin lebih pintar dari yang sudah ada,” lanjut mantan Perdana Menteri Belanda tersebut.

"Kami merahasiakannya sedikit. Hanya akhirnya yang pasti—Putin tidak akan pernah mencoba lagi setelah ini,” imbuh dia.

Rutte menolak menjelaskan lebih lanjut tentang idenya tersebut.

Dia juga ditanya selama wawancara tentang arah invasi skala penuh Rusia, dan apakah Ukraina bersama sekutu Barat-nya kalah mengingat kemajuan pasukan Moskow yang terus menerus di Donbas.

"Front bergerak ke arah yang salah. Namun, berapa harganya?," katanya, seraya menambahkan: "Rusia membayarnya dengan 1.000 hingga 1.500 orang per hari yang meninggal atau terluka parah. Namun, Rusia tidak mencapai tujuan mereka.

"Dan tugas kita adalah memastikan bahwa mereka tidak akan pernah mencapai tujuan mereka. Jadi, Ukraina tidak kalah dan kita harus mendukung mereka untuk mencapai posisi yang kuat,” paparnya.

Komentar tersebut muncul sehari setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan bahwa timnya telah terlibat dalam diskusi "sangat serius" dengan pihak Rusia tentang cara mengakhiri perang di Ukraina.

Sebagai tanggapan, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan kepada AP bahwa pembicaraan tentang perang yang tidak melibatkan Ukraina "sangat berbahaya."

"Mereka mungkin memiliki hubungan mereka sendiri, tetapi berbicara tentang Ukraina tanpa kami—itu berbahaya bagi semua orang," kata Zelensky

Zelensky mengatakan bahwa langkah pertama bagi Ukraina adalah mengadakan pertemuan tingkat tinggi dengan Trump, sehingga Kyiv dan Washington dapat mengembangkan rencana mereka sendiri untuk gencatan senjata. Kemudian, kedua belah pihak dapat beralih ke diskusi yang melibatkan Rusia.

"Saya yakin bahwa, pertama dan terutama, kita (harus) mengadakan pertemuan dengan (Trump), dan itu penting. Dan itu, omong-omong, adalah sesuatu yang diinginkan semua orang di Eropa," kata Zelensky.

“Setelah pertemuan itu, kita harus beralih ke semacam format pembicaraan dengan Rusia," paparnya.

"Dan saya ingin melihat Amerika Serikat, Ukraina, dan Rusia di meja perundingan. ... Dan, sejujurnya, suara Uni Eropa juga harus ada di sana. Saya pikir itu akan adil, efektif. Tetapi bagaimana hasilnya, saya tidak tahu,” imbuh Zelensky.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Tiru Strategi Iran,...
Tiru Strategi Iran, Ukraina Tembakkan 323 Drone ke Wilayah Rusia pada Malam Hari
10 Mata-mata Perang...
10 Mata-mata Perang Dingin yang Tak Pernah Takut Mati
Putin: Negara-negara...
Putin: Negara-negara Barat Secara Terbuka Mengatakan Mereka Bersiap Perangi Rusia
Tegang dengan NATO,...
Tegang dengan NATO, Pesawat Pengebom Nuklir Rusia Berkeliaran di Arktik
Trump Ancam Tak Tolong...
Trump Ancam Tak Tolong Negara-negara NATO karena Tolak Bantu AS Melawan Iran
Hongaria Bersihkan Jaringan...
Hongaria Bersihkan Jaringan Viktor Orban, Ini 3 Alasan Rusia Akan Kehilangan Aliansi Utama
Teken Kerja Sama Hukum,...
Teken Kerja Sama Hukum, Indonesia dan Rusia Perkuat Mutual Legal Assistance
Penembakan Massal di...
Penembakan Massal di Sekolah Filipina Tewaskan 3 Siswa, 2 Pelaku Remaja Ditahan
Inggris Ganti Perdana...
Inggris Ganti Perdana Menteri 7 Kali dalam 10 Tahun, Ada Apa?
Rekomendasi
Mengapa Umat Islam Dianjurkan...
Mengapa Umat Islam Dianjurkan Berpuasa di Hari Asyura? Ini Penjelasannya
Sekolah Garda Terdepan...
Sekolah Garda Terdepan Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Belajar
KPK Periksa Eks Sekjen...
KPK Periksa Eks Sekjen MPR Ma'ruf Cahyono sebagai Tersangka Kasus Gratifikasi
Berita Terkini
Mengapa Negara-negara...
Mengapa Negara-negara Arab Khawatir Kesepakatan Iran Jadi Titik Balik yang Membawa Bencana?
Ketika Paris Lebih Panas...
Ketika Paris Lebih Panas dari Makkah, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Rugi Besar Akibat Kalah...
Rugi Besar Akibat Kalah Perang, Trump Minta Tambahan Dana Rp1.572 Triliun
Demi Lindungi Negara-negara...
Demi Lindungi Negara-negara Arab, AS Janjikan Perdamaian Abadi dengan Iran
Seluruh WNI di Venezuela...
Seluruh WNI di Venezuela Aman, Gedung KBRI di Caracas Tidak Rusak
Badan Intelijen AS Kehilangan...
Badan Intelijen AS Kehilangan Akses ke Alat AI Mythos 5, Apa Pemicunya?
Infografis
Sistem Perang Elektronik...
Sistem Perang Elektronik Rusia Bikin Senjata NATO Jadi Rongsokan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved