China Diduga Gunakan Rumah Sakit Jiwa untuk Bungkam Kritikus Politik

Senin, 03 Februari 2025 - 10:45 WIB
loading...
A A A
Para pembangkang, aktivis, dan whistleblower di China sering dituduh menderita "psikosis politik" atau penyakit mental lain. Setelah dilembagakan, mereka menjadi sasaran pengobatan paksa, sengatan listrik, dan isolasi—metode yang dirancang tidak hanya untuk menghukum, tetapi juga menghancurkan semangat mereka.

Pemerintah China telah berulang kali membantah tuduhan pelecehan psikiatris, dengan menganggap klaim tersebut sebagai "propaganda Barat”. Namun, kesaksian terperinci dan laporan investigasi menggambarkan gambaran yang sangat berbeda.

Mempersenjatai Fasilitas Psikiatri


Organisasi-organisasi hak asasi manusia seperti Amnesty International dan Human Rights Watch (HRW) telah mengumpulkan bukti pelecehan yang meluas, termasuk kesaksian dari mantan tahanan yang menceritakan bahwa mereka dibius secara paksa dan dilarang berhubungan dengan dunia luar.

Mempersenjatai psikiatri untuk meredam oposisi pelecehan psikiatris di China memiliki beberapa tujuan bagi CCP.

Pertama, hal ini memungkinkan pemerintah untuk melewati jalur hukum dan menghindari pengadilan publik yang mungkin menarik perhatian internasional. Dengan melabeli para kritikus sebagai orang sakit mental, rezim China dapat membenarkan penahanan mereka sebagai tindakan kemanusiaan, bukan tindakan politik.

Kedua, penggunaan fasilitas psikiatri mengirimkan pesan mengerikan kepada masyarakat: perbedaan pendapat tidak akan ditoleransi, dan mereka yang menentang status quo berisiko kehilangan kebebasan dan kewarasan mereka.

Selain itu, stigma yang dikaitkan dengan penyakit mental dalam masyarakat China menambah lapisan kontrol lainnya. Dengan melabeli para pembangkang sebagai orang tidak stabil secara mental, CCP merusak kredibilitas mereka dan memastikan mereka dikucilkan dari masyarakat.

Keterasingan sosial ini semakin membuat orang lain enggan berbicara, menciptakan lingkungan di mana penyensoran diri menjadi norma.

Pengungkapan Li Yixue telah menghidupkan kembali seruan untuk tindakan internasional terhadap pelanggaran hak asasi manusia China.

Aktivis dan organisasi di seluruh dunia telah mendesak pemerintah untuk meminta pertanggungjawaban China melalui sanksi dan tekanan diplomatik. Namun, tindakan yang berarti telah dibatasi, dan terhalang oleh pengaruh ekonomi dan kemitraan strategis China.

Perserikatan Bangsa-Bangsa dan badan-badan global lainnya kadang-kadang membahas masalah pelecehan psikiatrik di China, tetapi upaya mereka menemui perlawanan. Posisi China sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB memberinya pengaruh signifikan untuk menangkis kritik.

Selain itu, banyak negara enggan membahayakan hubungan dagang dengan China, yang semakin mempersulit upaya mengatasi pelecehan ini.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
AS Kerahkan Sistem Rudal...
AS Kerahkan Sistem Rudal Canggih Typhon ke Jepang, Dapat Menargetkan China
Pertama Kalinya, China...
Pertama Kalinya, China Pamer Peluncuran Rudal Hipersonik Dongfeng-17 sebagai Pesan untuk AS
Studi: Surplus Ekspor...
Studi: Surplus Ekspor China Kian Tekan Peluang Industri Negara Berkembang
AS Berencana Bangun...
AS Berencana Bangun Persediaan Senjata Siap Tempur di Australia
Ini Alasan Trump Puji...
Ini Alasan Trump Puji Putin dan Xi Jinping atas Kesepakatan Damai AS-Iran
China Tangkap 2 Pemimpin...
China Tangkap 2 Pemimpin Gereja Bawah Tanah yang Berpengaruh, Apa Pemicunya?
Standar Keselamatan...
Standar Keselamatan Kendaraan Listrik Baru China Lebih Ketat!
Israel Bom Lebanon,...
Israel Bom Lebanon, Iran Murka Bakal Kembali Tutup Selat Hormuz
Kisah Anjing Lucu Curi...
Kisah Anjing Lucu Curi Perhatian selama Piala Dunia 2026, Punya Arti Spesial buat Pemiliknya
Rekomendasi
Wujudkan Liburan Impian...
Wujudkan Liburan Impian Tanpa Beban dengan Cashback Rp350.000
Sidang Kasus Tudingan...
Sidang Kasus Tudingan Ijazah Palsu Jokowi Digelar di PN Jakarta Timur
Purbaya Buka Peluang...
Purbaya Buka Peluang Kerek Dana Transfer ke Daerah di 2027 hingga Rp90 Triliun
Berita Terkini
Rusia Tembak Jatuh 80...
Rusia Tembak Jatuh 80 Drone Ukraina, Kremlin Luncurkan Rudal Balistik Iskander
6 PM dalam 10 Tahun...
6 PM dalam 10 Tahun 44 Hari, Seperti Apa Politik Antrean di Inggris?
Jepang Naikkan Biaya...
Jepang Naikkan Biaya Visa sebanyak Lima Kali Lipat, Apa Pemicunya?
Tuntut Menteri Pendidikan...
Tuntut Menteri Pendidikan Mundur, Pendukung Partai Kecoa Berkemah di Jalanan
4 Pemicu PM Inggris...
4 Pemicu PM Inggris Keir Starmer Mundur, dari Pemberontakan Internal hingga Terlalu Banyak Janji
Iran dan AS Berdamai,...
Iran dan AS Berdamai, Upacara Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei Digelar selama 6 Hari
Infografis
Pertama Kali, Israel...
Pertama Kali, Israel Gunakan THAAD untuk Cegat Rudal dari Yaman
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved