3 Warga Israel dan 183 Warga Palestina akan Dibebaskan dalam Pertukaran Tahanan Terbaru
Sabtu, 01 Februari 2025 - 14:15 WIB
loading...
A
A
A
Pada hari Kamis, Hamas membebaskan tiga warga Israel dan lima tawanan Thailand dan Israel membebaskan 110 tahanan Palestina setelah menunda proses setelah kerumunan orang menyerbu salah satu titik serah terima tawanan.
Melaporkan dari Jalan al-Rashid di Gaza, Tareq Abu Azzoum dari Al Jazeera mengatakan bagi banyak warga Palestina di Gaza, kembalinya para tahanan Palestina adalah "kemenangan yang sangat simbolis" yang melambangkan ketahanan.
Namun, dia mengatakan banyak orang terkejut dengan kekacauan yang terjadi saat pembebasan tawanan Israel pada hari Kamis.
"Ini termasuk pembebasan Arbel Yehud, yang dikritik karena sama sekali tidak terorganisir dan tidak memiliki martabat yang diharapkan selama momen-momen sensitif seperti itu," ungkap dia.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah menuai kritik di negaranya karena tidak menyegel kesepakatan tawanan-tahanan di awal perang setelah kegagalan keamanan yang memungkinkan para pejuang yang dipimpin Hamas menerobos batas Gaza-Israel dan menyerbu komunitas Israel di dekatnya.
Namun, ada juga penentangan terhadap kesepakatan saat ini, yang menurut beberapa kritikus di Israel membuat nasib sebagian besar tawanan menjadi tidak menentu dan Hamas masih berdiri sebagai entitas dominan di Gaza.
Baca juga: Militer Israel Mundur dari Perlintasan Rafah, Serahkan Kendali pada Pasukan Uni Eropa
Melaporkan dari Jalan al-Rashid di Gaza, Tareq Abu Azzoum dari Al Jazeera mengatakan bagi banyak warga Palestina di Gaza, kembalinya para tahanan Palestina adalah "kemenangan yang sangat simbolis" yang melambangkan ketahanan.
Namun, dia mengatakan banyak orang terkejut dengan kekacauan yang terjadi saat pembebasan tawanan Israel pada hari Kamis.
"Ini termasuk pembebasan Arbel Yehud, yang dikritik karena sama sekali tidak terorganisir dan tidak memiliki martabat yang diharapkan selama momen-momen sensitif seperti itu," ungkap dia.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah menuai kritik di negaranya karena tidak menyegel kesepakatan tawanan-tahanan di awal perang setelah kegagalan keamanan yang memungkinkan para pejuang yang dipimpin Hamas menerobos batas Gaza-Israel dan menyerbu komunitas Israel di dekatnya.
Namun, ada juga penentangan terhadap kesepakatan saat ini, yang menurut beberapa kritikus di Israel membuat nasib sebagian besar tawanan menjadi tidak menentu dan Hamas masih berdiri sebagai entitas dominan di Gaza.
Baca juga: Militer Israel Mundur dari Perlintasan Rafah, Serahkan Kendali pada Pasukan Uni Eropa
(sya)
Lihat Juga :