4 Fakta Salwan Momika Si Pembakar Al-Quran Ditembak Mati saat Live TikTok di Swedia
Jum'at, 31 Januari 2025 - 14:18 WIB
loading...
A
A
A
Sedangkan Dinas Keamanan Swedia mengatakan polisi memimpin penyelidikan.”Tetapi kami mengikuti perkembangan peristiwa dengan seksama untuk melihat dampak apa yang mungkin terjadi pada keamanan Swedia,” katanya.
Tahun lalu, lembaga itu mengatakan pemerintah Iran telah menggunakan jaringan kriminal di Swedia untuk melakukan tindakan kekerasan terhadap negara, kelompok, dan individu lain.
Momika, seorang penganut Kristen, mendapatkan perlindungan polisi selama demo membakar Al-Quran dan saat menghadiri pengadilan sebelumnya terkati aksinya tersebut,
Namun pengacara Momika; Anna Roth, mengatakan kepada kantor berita TT, bahwa sejauh pengetahuannya, kliennya tidak mendapatkan perlindungan di rumah.
Pengungsi Irak itu sudah merasa tidak aman sejak aksinya membakar Al-Quran berulang kali di Swedia.
"Dia sangat menyadari bahwa ada ancaman besar terhadapnya. Ada harga yang harus dibayar untuk kepalanya," kata Roth.
Pada bulan Maret 2024, Momika meninggalkan Swedia untuk mencari suaka di Norwegia, dan mengatakan kepada Agence France-Presse bahwa kebebasan berekspresi dan perlindungan hak asasi manusia di Swedia adalah "kebohongan besar".
Norwegia mendeportasinya kembali ke Swedia hanya beberapa minggu kemudian.
Badan migrasi Swedia ingin mendeportasi Momika karena memberikan informasi palsu pada aplikasi izin tinggalnya, tetapi tidak dapat melakukannya karena dianggap dapat menghadapi penyiksaan dan perlakuan tidak manusiawi di Irak.
Tahun lalu, lembaga itu mengatakan pemerintah Iran telah menggunakan jaringan kriminal di Swedia untuk melakukan tindakan kekerasan terhadap negara, kelompok, dan individu lain.
4. Momika Merasa Tak Aman sejak Bakar Al-Quran
Momika, seorang penganut Kristen, mendapatkan perlindungan polisi selama demo membakar Al-Quran dan saat menghadiri pengadilan sebelumnya terkati aksinya tersebut,
Namun pengacara Momika; Anna Roth, mengatakan kepada kantor berita TT, bahwa sejauh pengetahuannya, kliennya tidak mendapatkan perlindungan di rumah.
Pengungsi Irak itu sudah merasa tidak aman sejak aksinya membakar Al-Quran berulang kali di Swedia.
"Dia sangat menyadari bahwa ada ancaman besar terhadapnya. Ada harga yang harus dibayar untuk kepalanya," kata Roth.
Pada bulan Maret 2024, Momika meninggalkan Swedia untuk mencari suaka di Norwegia, dan mengatakan kepada Agence France-Presse bahwa kebebasan berekspresi dan perlindungan hak asasi manusia di Swedia adalah "kebohongan besar".
Norwegia mendeportasinya kembali ke Swedia hanya beberapa minggu kemudian.
Badan migrasi Swedia ingin mendeportasi Momika karena memberikan informasi palsu pada aplikasi izin tinggalnya, tetapi tidak dapat melakukannya karena dianggap dapat menghadapi penyiksaan dan perlakuan tidak manusiawi di Irak.
(mas)
Lihat Juga :