Israel-Hamas Gencatan Senjata, Warga Gaza Menangis Gembira Sambil Teriak Allahu Akbar
Kamis, 16 Januari 2025 - 07:49 WIB
loading...
A
A
A
Bagi sebagian orang, kegembiraan bercampur dengan kesedihan.
Ahmed Dahman (25) mengatakan hal pertama yang akan dilakukannya saat kesepakatan mulai berlaku adalah membawa pulang jenazah ayahnya, yang tewas dalam serangan udara Israel di rumah keluarga tahun lalu, dan memberinya pemakaman yang layak.
"Saya merasakan campuran kebahagiaan karena nyawa terselamatkan dan pertumpahan darah dihentikan," kata Dahman, yang seperti Ghada mengungsi dari Kota Gaza dan tinggal di Deir Al-Balah.
"Namun, saya juga khawatir dengan guncangan pascaperang yang akan kita lihat di jalan-jalan, rumah-rumah kita yang hancur, ayah saya yang jenazahnya masih tertimbun reruntuhan," ujarnya.
Ibunya, Bushra, mengatakan bahwa meskipun gencatan senjata tidak akan mengembalikan suaminya. "Setidaknya itu dapat menyelamatkan nyawa orang lain," katanya.
"Saya akan menangis, seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya. Perang brutal ini tidak memberi kami waktu untuk menangis,” kata ibu yang menangis itu, berbicara kepada Reuters melalui aplikasi obrolan.
Iman Al-Qouqa, yang tinggal bersama keluarganya di tenda terdekat, masih tidak percaya.
Ahmed Dahman (25) mengatakan hal pertama yang akan dilakukannya saat kesepakatan mulai berlaku adalah membawa pulang jenazah ayahnya, yang tewas dalam serangan udara Israel di rumah keluarga tahun lalu, dan memberinya pemakaman yang layak.
Hari Penuh Kebahagiaan dan Kesedihan
"Saya merasakan campuran kebahagiaan karena nyawa terselamatkan dan pertumpahan darah dihentikan," kata Dahman, yang seperti Ghada mengungsi dari Kota Gaza dan tinggal di Deir Al-Balah.
"Namun, saya juga khawatir dengan guncangan pascaperang yang akan kita lihat di jalan-jalan, rumah-rumah kita yang hancur, ayah saya yang jenazahnya masih tertimbun reruntuhan," ujarnya.
Ibunya, Bushra, mengatakan bahwa meskipun gencatan senjata tidak akan mengembalikan suaminya. "Setidaknya itu dapat menyelamatkan nyawa orang lain," katanya.
"Saya akan menangis, seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya. Perang brutal ini tidak memberi kami waktu untuk menangis,” kata ibu yang menangis itu, berbicara kepada Reuters melalui aplikasi obrolan.
Iman Al-Qouqa, yang tinggal bersama keluarganya di tenda terdekat, masih tidak percaya.
Lihat Juga :