Siapa Joseph Aoun? Presiden Lebanon yang Jadi Kepanjangan Tangan dengan Arab Saudi dan AS
Selasa, 14 Januari 2025 - 12:28 WIB
loading...
A
A
A
Presiden baru diperkirakan akan menghadapi beberapa tantangan akibat krisis ekonomi dan politik selama bertahun-tahun yang memengaruhi kondisi kehidupan di Lebanon.
Perang Israel baru-baru ini di Lebanon juga meninggalkan kerusakan besar di seluruh negeri yang mengharuskan presiden berupaya untuk mendapatkan hibah dan sumbangan internasional dari negara-negara untuk membantu pembangunan kembali negara tersebut.
Baca Juga: Konspirasi Menghantui Bencana pada Awal 2025
Perjanjian gencatan senjata tersebut bertujuan untuk mengakhiri pertempuran selama lebih dari 14 bulan antara tentara Israel dan kelompok Hizbullah sejak dimulainya perang Gaza pada Oktober 2023.
Berdasarkan ketentuan gencatan senjata, Israel diharuskan menarik pasukannya di selatan Garis Biru -- perbatasan de facto -- secara bertahap, sementara tentara Lebanon akan dikerahkan di Lebanon selatan dalam waktu 60 hari.
Data dari Kementerian Kesehatan Lebanon menunjukkan bahwa sejak serangan Israel terhadap Lebanon dimulai pada 8 Oktober 2023, sedikitnya 4.063 orang telah tewas, termasuk wanita, anak-anak, dan petugas kesehatan, sementara 16.664 lainnya terluka.
Para analis mengatakan Aoun, yang akan berusia 61 tahun pada hari Jumat dan dianggap sebagai pria yang memiliki "integritas pribadi", bisa menjadi kandidat yang tepat untuk akhirnya menggantikan Michel Aoun – tidak ada hubungan keluarga – yang masa jabatannya sebagai presiden berakhir pada Oktober 2022.
Selusin upaya sebelumnya untuk memilih seorang presiden gagal di tengah ketegangan antara Hizbullah dan para penentangnya, yang menuduh kelompok Syiah itu berusaha memaksakan kandidat pilihannya.
Sejak mengambil alih komando militer pada tahun 2017, ia mengarahkan lembaga tersebut melalui krisis keuangan nasional yang menghancurkan mata uang dan dengan itu nilai gaji prajuritnya, mengguncang lembaga yang telah mendukung stabilitas internal sejak perang saudara 1975-90.
Aoun memainkan peran kunci dalam menopang gencatan senjata 60 hari yang ditengahi oleh AS dan Prancis pada bulan November. Persyaratan tersebut mengharuskan militer Lebanon untuk dikerahkan ke Lebanon selatan saat pasukan Israel dan Hizbullah menarik pasukan.
Pria yang jarang bicara ini seharusnya dapat mengandalkan hubungan baiknya dengan seluruh kelas politik Lebanon yang terpecah, serta dukungan nyata dari Amerika Serikat dan Arab Saudi, untuk membuatnya terpilih.
"Aoun memiliki reputasi integritas pribadi”, kata Karim Bitar, pakar hubungan internasional di Universitas Saint-Joseph Beirut, kepada AFP.
Ia menjadi terkenal setelah memimpin angkatan darat dalam pertempuran untuk mengusir kelompok ISIS dari daerah pegunungan di sepanjang perbatasan Suriah.
Perang Israel baru-baru ini di Lebanon juga meninggalkan kerusakan besar di seluruh negeri yang mengharuskan presiden berupaya untuk mendapatkan hibah dan sumbangan internasional dari negara-negara untuk membantu pembangunan kembali negara tersebut.
Baca Juga: Konspirasi Menghantui Bencana pada Awal 2025
3. Menjalankan Kesepakatan Gencatan Senjata dengan Israel
Melansir Anadolu, Aoun mengawasi pengerahan pasukan di Lebanon selatan berdasarkan kesepakatan gencatan senjata dengan Israel yang mulai berlaku pada 27 November.Perjanjian gencatan senjata tersebut bertujuan untuk mengakhiri pertempuran selama lebih dari 14 bulan antara tentara Israel dan kelompok Hizbullah sejak dimulainya perang Gaza pada Oktober 2023.
Berdasarkan ketentuan gencatan senjata, Israel diharuskan menarik pasukannya di selatan Garis Biru -- perbatasan de facto -- secara bertahap, sementara tentara Lebanon akan dikerahkan di Lebanon selatan dalam waktu 60 hari.
Data dari Kementerian Kesehatan Lebanon menunjukkan bahwa sejak serangan Israel terhadap Lebanon dimulai pada 8 Oktober 2023, sedikitnya 4.063 orang telah tewas, termasuk wanita, anak-anak, dan petugas kesehatan, sementara 16.664 lainnya terluka.
4. Kepanjangan Tangan AS dan Arab Saudi
Secara luas dianggap sebagai pilihan utama AS, serta negara adidaya regional Arab Saudi, ia dianggap sebagai pihak yang paling tepat untuk mempertahankan gencatan senjata yang rapuh dan menarik negara tersebut keluar dari keruntuhan finansial.Para analis mengatakan Aoun, yang akan berusia 61 tahun pada hari Jumat dan dianggap sebagai pria yang memiliki "integritas pribadi", bisa menjadi kandidat yang tepat untuk akhirnya menggantikan Michel Aoun – tidak ada hubungan keluarga – yang masa jabatannya sebagai presiden berakhir pada Oktober 2022.
Selusin upaya sebelumnya untuk memilih seorang presiden gagal di tengah ketegangan antara Hizbullah dan para penentangnya, yang menuduh kelompok Syiah itu berusaha memaksakan kandidat pilihannya.
Sejak mengambil alih komando militer pada tahun 2017, ia mengarahkan lembaga tersebut melalui krisis keuangan nasional yang menghancurkan mata uang dan dengan itu nilai gaji prajuritnya, mengguncang lembaga yang telah mendukung stabilitas internal sejak perang saudara 1975-90.
Aoun memainkan peran kunci dalam menopang gencatan senjata 60 hari yang ditengahi oleh AS dan Prancis pada bulan November. Persyaratan tersebut mengharuskan militer Lebanon untuk dikerahkan ke Lebanon selatan saat pasukan Israel dan Hizbullah menarik pasukan.
5. Memiliki Kemampuan Diplomasi
Melansir France 24, jenderal dengan bahu lebar dan kepala plontos ini telah meningkatkan pembicaraan dengan pejabat asing yang berkunjung sejak menjadi panglima angkatan darat.Pria yang jarang bicara ini seharusnya dapat mengandalkan hubungan baiknya dengan seluruh kelas politik Lebanon yang terpecah, serta dukungan nyata dari Amerika Serikat dan Arab Saudi, untuk membuatnya terpilih.
"Aoun memiliki reputasi integritas pribadi”, kata Karim Bitar, pakar hubungan internasional di Universitas Saint-Joseph Beirut, kepada AFP.
Ia menjadi terkenal setelah memimpin angkatan darat dalam pertempuran untuk mengusir kelompok ISIS dari daerah pegunungan di sepanjang perbatasan Suriah.
Lihat Juga :