Pandemi Corona Memburuk, Siswa Eropa Kembali Bersekolah
Rabu, 02 September 2020 - 09:15 WIB
loading...
A
A
A
Bagaimanapun, para guru dan orang tua di Spanyol masih merasa kurang cukup dengan protokol kesehatan yang diterapkan pemerintah. Guru di Fuenabrada, Mercedes Sardina, juga skeptis dengan perekrutan guru baru untuk menutupi kekurangan tenaga pendidik menyusul akan diperbanyaknya kelas mengajar.
“Semuanya dilakukan serbamendadak sehingga kami belum siap. Ibarat kata, kita mau menikah, tapi kita belum punya persiapan apa-apa, sedangkan tanggal pernikahan sudah dekat,” ujar Sardina, dikutip Reuters.
Para orang tua juga menilai peraturan pemerintah dalam penanggulangan Covid-19 tidak detail dan tidak cukup.
Di Prancis, Persatuan Guru juga menilai protokol kesehatan masih perlu diperluas dan ditimbang kembali. “Pemerintah terlalu fokus pada peraturan di dalam kelas. Mereka lupa siswa punya banyak aktivitas. Di perpustakaan, misalnya, apakah buku yang dikembalikan dapat dipinjam langsung siswa lain atau harus melewati prosedur?” kata guru Sophie Venetitay.
Para orang tua sebenarnya menghadapi dilema. Di satu sisi, mereka ingin anaknya kembali beraktivitas dan belajar di luar rumah. Di sisi lain, mereka cemas anaknya akan terinfeksi Covid-19. Dua putusan itu memiliki konsekuensinya masing-masing. Sekolah bahkan dapat ditutup kembali jika angka penularan terbilang tinggi.
Beberapa negara bagian di Amerika Serikat (AS) seperti Georgia, Mississippi, Tennessee, dan Indiana juga mulai membuka aktivitas sekolah. Namun, CNN melaporkan terjadi peningkatan hingga 90% kasus korona pada anak-anak di AS. Seperti dilaporkan American Academy of Pediatrics and the Children's Hospital Association, beberapa klaster terjadi di Florida, Georgia, dan Mississippi. (Baca juga: Begini Suasana Hari Pertama Pembatasan aktivitas Warga Depok)
Sementara itu, jumlah kasus Covid-19 di AS telah melampaui 6 juta atau hampir seperempat dari total kasus dunia. Data Universitas Johns Hopkins menyebutkan, 1 juta kasus baru dalam waktu kurang dari sebulan. Adapun lebih dari 183.000 orang telah meninggal dunia. Jumlah kasus secara global melampaui 25 juta, dengan lebih dari 846.000 kematian terkait Covid-19.
“Semuanya dilakukan serbamendadak sehingga kami belum siap. Ibarat kata, kita mau menikah, tapi kita belum punya persiapan apa-apa, sedangkan tanggal pernikahan sudah dekat,” ujar Sardina, dikutip Reuters.
Para orang tua juga menilai peraturan pemerintah dalam penanggulangan Covid-19 tidak detail dan tidak cukup.
Di Prancis, Persatuan Guru juga menilai protokol kesehatan masih perlu diperluas dan ditimbang kembali. “Pemerintah terlalu fokus pada peraturan di dalam kelas. Mereka lupa siswa punya banyak aktivitas. Di perpustakaan, misalnya, apakah buku yang dikembalikan dapat dipinjam langsung siswa lain atau harus melewati prosedur?” kata guru Sophie Venetitay.
Para orang tua sebenarnya menghadapi dilema. Di satu sisi, mereka ingin anaknya kembali beraktivitas dan belajar di luar rumah. Di sisi lain, mereka cemas anaknya akan terinfeksi Covid-19. Dua putusan itu memiliki konsekuensinya masing-masing. Sekolah bahkan dapat ditutup kembali jika angka penularan terbilang tinggi.
Beberapa negara bagian di Amerika Serikat (AS) seperti Georgia, Mississippi, Tennessee, dan Indiana juga mulai membuka aktivitas sekolah. Namun, CNN melaporkan terjadi peningkatan hingga 90% kasus korona pada anak-anak di AS. Seperti dilaporkan American Academy of Pediatrics and the Children's Hospital Association, beberapa klaster terjadi di Florida, Georgia, dan Mississippi. (Baca juga: Begini Suasana Hari Pertama Pembatasan aktivitas Warga Depok)
Sementara itu, jumlah kasus Covid-19 di AS telah melampaui 6 juta atau hampir seperempat dari total kasus dunia. Data Universitas Johns Hopkins menyebutkan, 1 juta kasus baru dalam waktu kurang dari sebulan. Adapun lebih dari 183.000 orang telah meninggal dunia. Jumlah kasus secara global melampaui 25 juta, dengan lebih dari 846.000 kematian terkait Covid-19.
Lihat Juga :