Pria Lebih Genius dari Einstein Ini Klaim Tahu yang Terjadi setelah Kematian, Berikut Penjelasannya
Minggu, 05 Januari 2025 - 13:08 WIB
loading...
A
A
A
"Bisa dibilang, sepanjang hidup Anda, jika Anda bereinkarnasi lagi dan lagi, semua reinkarnasi itu bersifat metasimultan,” terangnya. "Ada perasaan bahwa semuanya terjadi sekaligus di ranah non-terminal."
Namun, kata dia, keadaan seperti itu bukanlah akhirat. Menurutnya, itu lebih seperti berada di dalam superkomputer di mana segala sesuatu ada di sekitar manusia, tetapi tidak ada yang terjadi pada saat yang bersamaan.
Dia mengatakan akhirat adalah sesuatu yang sama sekali berbeda. Itu melibatkan perubahan mendalam dalam seluruh keberadaan seseorang, menggerakkan “jiwa” atau kesadaran melampaui diri fisik atau mental.
Langan memandang Tuhan sebagai identitas sifat-sifat tertentu yang dapat dilihat di sekitar kita, tetapi belum tentu “Dewa” di surga.
Dia menyebut CTMU sebagai “Teori Segalanya” yang sejati. Teori ini didasarkan pada tiga asumsi utama, yang pertama adalah bahwa realitas terbuat dari informasi dalam bentuk bahasa.
Ini adalah salah satu pandangan tentang hipotesis simulasi diri, yang menyatakan bahwa segala sesuatu adalah informasi yang didefinisikan manusia sebagai pikiran.
Asumsi kedua adalah bahwa realitas bersifat “transtemporal”, yang berarti bahwa hal-hal dari satu garis waktu dapat memengaruhi hal-hal di garis waktu lain.
Dan yang ketiga adalah bahwa realitas yang kita simulasikan sendiri mengandung “substrat” dari informasi ini—“kesadaran bersama” yang muncul dari dalam pencipta atau simulator itu sendiri.
Namun, kata dia, keadaan seperti itu bukanlah akhirat. Menurutnya, itu lebih seperti berada di dalam superkomputer di mana segala sesuatu ada di sekitar manusia, tetapi tidak ada yang terjadi pada saat yang bersamaan.
Dia mengatakan akhirat adalah sesuatu yang sama sekali berbeda. Itu melibatkan perubahan mendalam dalam seluruh keberadaan seseorang, menggerakkan “jiwa” atau kesadaran melampaui diri fisik atau mental.
Langan memandang Tuhan sebagai identitas sifat-sifat tertentu yang dapat dilihat di sekitar kita, tetapi belum tentu “Dewa” di surga.
Dia menyebut CTMU sebagai “Teori Segalanya” yang sejati. Teori ini didasarkan pada tiga asumsi utama, yang pertama adalah bahwa realitas terbuat dari informasi dalam bentuk bahasa.
Ini adalah salah satu pandangan tentang hipotesis simulasi diri, yang menyatakan bahwa segala sesuatu adalah informasi yang didefinisikan manusia sebagai pikiran.
Asumsi kedua adalah bahwa realitas bersifat “transtemporal”, yang berarti bahwa hal-hal dari satu garis waktu dapat memengaruhi hal-hal di garis waktu lain.
Dan yang ketiga adalah bahwa realitas yang kita simulasikan sendiri mengandung “substrat” dari informasi ini—“kesadaran bersama” yang muncul dari dalam pencipta atau simulator itu sendiri.
(mas)
Lihat Juga :