Siapa yang Kerjai Jet Siluman F-35 Israel saat Serang Iran, S-300 Rusia atau Pentagon?
Jum'at, 15 November 2024 - 08:52 WIB
loading...
A
A
A
Pejabat Israel menyatakan keterkejutannya atas kemampuan radar Iran untuk mendeteksi jet F-35 Adir mereka, yang memaksa mereka untuk menembakkan muatan rudal balistik sebelum mencapai posisi peluncuran optimal yang dimaksudkan.
Menurut laporan tersebut, peluncuran rudal awal ini merupakan kejadian yang tak terduga, yang mencerminkan kemampuan canggih sistem radar Iran dalam mendeteksi pesawat siluman.
Ini menandai pertama kalinya sistem pertahanan udara Iran atau Rusia berhasil "mengunci" F-35 Israel, yang membuat pimpinan militer Israel lengah.
Pada bulan April 2024, Rusia dan Iran dilaporkan memetakan seluruh jaringan pertahanan udara Israel, yang memungkinkan Teheran merencanakan serangan rudal terhadap Israel.
Serangan ini, menurut Teheran, sangat efektif dalam menembus pertahanan Israel, yang menandai pergeseran keseimbangan kekuatan militer di kawasan tersebut.
Selain itu, ada laporan lain yang menyebutkan bahwa Rusia telah memasok Iran dengan sistem pertahanan udara S-400. Meskipun hal ini belum dikonfirmasi secara resmi, The New York Times mengutip sumber pada bulan Agustus 2024, yang menunjukkan bahwa pengiriman S-400 telah dimulai.
Media lokal Iran menguatkan laporan tersebut, di mana pejabat setempat mengonfirmasi bahwa sistem tersebut kemungkinan adalah S-400 buatan Rusia, yang mampu melacak dan menargetkan pesawat siluman pada jarak yang lebih jauh.
Meskipun perkembangan ini belum diverifikasi secara independen, hal ini menunjukkan bahwa S-400 dapat secara signifikan meningkatkan kemampuan Iran untuk melawan pesawat Israel, termasuk F-35.
Namun, bahkan jika S-400 dikerahkan di Iran, para pakar berpendapat bahwa akan membutuhkan beberapa bulan untuk mengaktifkan sistem dan membuatnya beroperasi penuh. Garis waktu ini menunjukkan bahwa S-400, meskipun merupakan aset yang tangguh, tidak akan memainkan peran penting dalam serangan udara Oktober.
Meskipun demikian, prospek jaringan pertahanan udara canggih, termasuk S-300, dan S-400, dan sistem dalam negeri seperti Bavar-373, menimbulkan tantangan serius bagi dominasi udara Israel di wilayah tersebut.
Menurut laporan Bulgarian Military, Jumat (15/11/2024), insiden ini menggarisbawahi semakin canggihnya sistem pertahanan udara Iran, yang sekarang mencakup teknologi Rusia dan dalam negeri.
Keseimbangan kekuatan di kawasan itu sedang bergeser, dan Israel perlu memikirkan kembali pendekatannya dalam melakukan operasi udara dalam menghadapi pertahanan yang semakin canggih ini. Langit di Timur Tengah bukan lagi wilayah kekuasaan udara Israel yang tak tertandingi.
Menurut laporan tersebut, peluncuran rudal awal ini merupakan kejadian yang tak terduga, yang mencerminkan kemampuan canggih sistem radar Iran dalam mendeteksi pesawat siluman.
Ini menandai pertama kalinya sistem pertahanan udara Iran atau Rusia berhasil "mengunci" F-35 Israel, yang membuat pimpinan militer Israel lengah.
Pada bulan April 2024, Rusia dan Iran dilaporkan memetakan seluruh jaringan pertahanan udara Israel, yang memungkinkan Teheran merencanakan serangan rudal terhadap Israel.
Serangan ini, menurut Teheran, sangat efektif dalam menembus pertahanan Israel, yang menandai pergeseran keseimbangan kekuatan militer di kawasan tersebut.
Selain itu, ada laporan lain yang menyebutkan bahwa Rusia telah memasok Iran dengan sistem pertahanan udara S-400. Meskipun hal ini belum dikonfirmasi secara resmi, The New York Times mengutip sumber pada bulan Agustus 2024, yang menunjukkan bahwa pengiriman S-400 telah dimulai.
Media lokal Iran menguatkan laporan tersebut, di mana pejabat setempat mengonfirmasi bahwa sistem tersebut kemungkinan adalah S-400 buatan Rusia, yang mampu melacak dan menargetkan pesawat siluman pada jarak yang lebih jauh.
Meskipun perkembangan ini belum diverifikasi secara independen, hal ini menunjukkan bahwa S-400 dapat secara signifikan meningkatkan kemampuan Iran untuk melawan pesawat Israel, termasuk F-35.
Namun, bahkan jika S-400 dikerahkan di Iran, para pakar berpendapat bahwa akan membutuhkan beberapa bulan untuk mengaktifkan sistem dan membuatnya beroperasi penuh. Garis waktu ini menunjukkan bahwa S-400, meskipun merupakan aset yang tangguh, tidak akan memainkan peran penting dalam serangan udara Oktober.
Meskipun demikian, prospek jaringan pertahanan udara canggih, termasuk S-300, dan S-400, dan sistem dalam negeri seperti Bavar-373, menimbulkan tantangan serius bagi dominasi udara Israel di wilayah tersebut.
Menurut laporan Bulgarian Military, Jumat (15/11/2024), insiden ini menggarisbawahi semakin canggihnya sistem pertahanan udara Iran, yang sekarang mencakup teknologi Rusia dan dalam negeri.
Keseimbangan kekuatan di kawasan itu sedang bergeser, dan Israel perlu memikirkan kembali pendekatannya dalam melakukan operasi udara dalam menghadapi pertahanan yang semakin canggih ini. Langit di Timur Tengah bukan lagi wilayah kekuasaan udara Israel yang tak tertandingi.
(mas)
Lihat Juga :