5 Alasan Donald Trump Tak Akan Pernah Membela Palestina
Senin, 11 November 2024 - 15:24 WIB
loading...
A
A
A
Kedua, penyusunan "Deal of the Century" tahun 2020. Trump, seperti dikutip New York Times, telah merancang rencana perdamaian yang disebut "Deal of the Century" yang dianggap sangat menguntungkan bagi Israel.
Rencana ini, yang menawarkan Palestina sebagian kecil dari wilayah yang mereka klaim, menegaskan dominasi Israel atas banyak wilayah yang diperebutkan, termasuk Yerusalem. Palestina menolak rencana ini karena tidak mencakup hak-hak dasar mereka, seperti kemerdekaan dan kontrol penuh atas Yerusalem Timur.
Lobi pro-Israel yang kuat di Amerika Serikat juga memainkan peran penting dalam membentuk kebijakan Trump terhadap Israel.
Kelompok-kelompok seperti AIPAC (American Israel Public Affairs Committee) dan tokoh-tokoh politik yang pro-Israel di Washington memiliki pengaruh besar dalam politik AS, dan Trump tidak segan-segan untuk bekerja sama dengan mereka dalam merumuskan kebijakan luar negeri.
Trump menerapkan kebijakan luar negeri yang lebih bersifat isolasionis dan berfokus pada kepentingan Amerika Serikat terlebih dahulu, yang dikenal dengan slogan "America First".
Dalam konteks ini, Trump lebih memilih untuk mendukung sekutu-sekutu utama AS, seperti Israel, yang dianggap memiliki kepentingan yang sejalan dengan AS.
Sebaliknya, Trump tidak menunjukkan minat yang signifikan untuk mendalami isu Palestina atau melakukan intervensi dalam upaya perdamaian yang lebih inklusif.
Pendekatan "America First" berarti Trump menghindari konflik internasional yang dianggap tidak langsung menguntungkan Amerika.
Dalam hal ini, meskipun konflik Israel-Palestina adalah masalah internasional yang penting, Trump cenderung memprioritaskan stabilitas politik di dalam negeri dan memperkuat hubungan dengan negara-negara yang dianggap penting secara strategis bagi AS, termasuk Israel.
Trump juga didorong oleh basis pendukung dari kalangan konservatif, termasuk kelompok evangelis Kristen di Amerika Serikat, yang seringkali sangat mendukung Israel.
Banyak kelompok evangelis percaya bahwa mendukung Israel adalah bagian dari keyakinan agama mereka, yang mengarah pada pandangan bahwa Israel harus diberi dukungan penuh.
Oleh karena itu, kebijakan luar negeri Trump seringkali disesuaikan dengan keyakinan agama dan politik ini, yang membuatnya semakin sulit untuk mendukung Palestina secara terbuka.
Rencana ini, yang menawarkan Palestina sebagian kecil dari wilayah yang mereka klaim, menegaskan dominasi Israel atas banyak wilayah yang diperebutkan, termasuk Yerusalem. Palestina menolak rencana ini karena tidak mencakup hak-hak dasar mereka, seperti kemerdekaan dan kontrol penuh atas Yerusalem Timur.
Lobi pro-Israel yang kuat di Amerika Serikat juga memainkan peran penting dalam membentuk kebijakan Trump terhadap Israel.
Kelompok-kelompok seperti AIPAC (American Israel Public Affairs Committee) dan tokoh-tokoh politik yang pro-Israel di Washington memiliki pengaruh besar dalam politik AS, dan Trump tidak segan-segan untuk bekerja sama dengan mereka dalam merumuskan kebijakan luar negeri.
2. Kebijakan America First dan Isolasionisme
Trump menerapkan kebijakan luar negeri yang lebih bersifat isolasionis dan berfokus pada kepentingan Amerika Serikat terlebih dahulu, yang dikenal dengan slogan "America First".
Dalam konteks ini, Trump lebih memilih untuk mendukung sekutu-sekutu utama AS, seperti Israel, yang dianggap memiliki kepentingan yang sejalan dengan AS.
Sebaliknya, Trump tidak menunjukkan minat yang signifikan untuk mendalami isu Palestina atau melakukan intervensi dalam upaya perdamaian yang lebih inklusif.
Pendekatan "America First" berarti Trump menghindari konflik internasional yang dianggap tidak langsung menguntungkan Amerika.
Dalam hal ini, meskipun konflik Israel-Palestina adalah masalah internasional yang penting, Trump cenderung memprioritaskan stabilitas politik di dalam negeri dan memperkuat hubungan dengan negara-negara yang dianggap penting secara strategis bagi AS, termasuk Israel.
3. Posisi Partai Republik dan Konservatisme Evangelis
Trump juga didorong oleh basis pendukung dari kalangan konservatif, termasuk kelompok evangelis Kristen di Amerika Serikat, yang seringkali sangat mendukung Israel.
Banyak kelompok evangelis percaya bahwa mendukung Israel adalah bagian dari keyakinan agama mereka, yang mengarah pada pandangan bahwa Israel harus diberi dukungan penuh.
Oleh karena itu, kebijakan luar negeri Trump seringkali disesuaikan dengan keyakinan agama dan politik ini, yang membuatnya semakin sulit untuk mendukung Palestina secara terbuka.
Lihat Juga :