Ironi Kegagalan Kim Jong-un Tangani Banjir Bandang di Korea Utara
Minggu, 06 Oktober 2024 - 21:19 WIB
loading...
A
A
A
Chung Eui-sung menjelaskan meskipun ada pandangan bahwa kunjungan Kim Jong-un ke daerah yang dilanda banjir dapat berdampak positif bagi warga Korea Utara, kenyataannya terdapat kritik luas yang menyebut bahwa Kim Jong-un adalah pemimpin yang gagal dalam mencegah kerusakan akibat bencana nasional.
Menurut dia, setiap tahun, Korea Utara mensosialisasikan kegiatan 'penanaman pohon' untuk konservasi hutan dan air sebagai upaya antisipasi kerusakan selama musim hujan, dengan menekankan gerakan nasional. Namun, tidak masuk akal jika penduduk didesak untuk melakukan gerakan semacam ini ketika pemanas di musim dingin tidak terjamin karena kekurangan bahan bakar.
‘’Sering disebutkan bahwa, sejak era Kim Il-sung, pembuatan sawah dan ladang terasering dengan dalih produksi beras untuk keperluan militer sebagai persiapan perang menjadi penyebab terjadinya tanah longsor dan banjir besar, karena pembangunan tersebut dilakukan dengan menebang pohon di pegunungan,’’ papar Chung Eui-sung yang membelot ke Korea Selatan ini.
Kunjungan Kim Jong-un ke daerah yang dilanda banjir merupakan sebuah show untuk menampilkan citra sebagai pemimpin yang baik hati dan mencintai rakyat, namun itu dianggap sebagai langkah yang konyol. Inspeksi yang dilakukan dengan perahu tanpa tujuan jelas dan narasi tentang kendaraannya yang terendam banjir justru memicu reaksi negatif dari warga.
Rodong Sinmun, media Korea Utara, menyatakan bahwa kerusakan akibat banjir disebabkan oleh hujan lebat dari China, secara halus mengalihkan kesalahan kepada China, bukan kepada otoritas Korea Utara. Kim Jong-un juga berusaha mengatasi situasi ini dengan memecat pejabat tinggi, seperti gubernur dan kepala polisi di wilayah banjir, untuk menutupi kegagalan manajemennya sendiri.
Namun, fakta yang jelas adalah bahwa Kim Jong-un harus mengambil tanggung jawab terbesar. Faktanya, semua bencana alam di Korea Utara merupakan bencana buatan manusia. ‘’Lebih tepatnya, ini adalah bencana buatan manusia yang disebabkan oleh Kim Jong-un,’’ ungkap Chung Eui-sung.
‘’Tidakkah dia merasa malu hanya dengan menyalahkan para eksekutif karena gagal mengambil langkah pencegahan yang tepat terhadap kerusakan akibat banjir? Fakta bahwa kerusakan akibat banjir besar terus berulang setiap tahun membuktikan bahwa banjir tersebut tidak dicegah secara sengaja,’’ jelasnya. Menurut Chung Eui-sung, jika saja setengah dari anggaran militer untuk senjata nuklir dan rudal dialokasikan untuk perekonomian, kerusakan akibat banjir tidak akan begitu signifikan, atau bahkan dapat dicegah.
Menurut dia, setiap tahun, Korea Utara mensosialisasikan kegiatan 'penanaman pohon' untuk konservasi hutan dan air sebagai upaya antisipasi kerusakan selama musim hujan, dengan menekankan gerakan nasional. Namun, tidak masuk akal jika penduduk didesak untuk melakukan gerakan semacam ini ketika pemanas di musim dingin tidak terjamin karena kekurangan bahan bakar.
‘’Sering disebutkan bahwa, sejak era Kim Il-sung, pembuatan sawah dan ladang terasering dengan dalih produksi beras untuk keperluan militer sebagai persiapan perang menjadi penyebab terjadinya tanah longsor dan banjir besar, karena pembangunan tersebut dilakukan dengan menebang pohon di pegunungan,’’ papar Chung Eui-sung yang membelot ke Korea Selatan ini.
Kunjungan Kim Jong-un ke daerah yang dilanda banjir merupakan sebuah show untuk menampilkan citra sebagai pemimpin yang baik hati dan mencintai rakyat, namun itu dianggap sebagai langkah yang konyol. Inspeksi yang dilakukan dengan perahu tanpa tujuan jelas dan narasi tentang kendaraannya yang terendam banjir justru memicu reaksi negatif dari warga.
Rodong Sinmun, media Korea Utara, menyatakan bahwa kerusakan akibat banjir disebabkan oleh hujan lebat dari China, secara halus mengalihkan kesalahan kepada China, bukan kepada otoritas Korea Utara. Kim Jong-un juga berusaha mengatasi situasi ini dengan memecat pejabat tinggi, seperti gubernur dan kepala polisi di wilayah banjir, untuk menutupi kegagalan manajemennya sendiri.
Namun, fakta yang jelas adalah bahwa Kim Jong-un harus mengambil tanggung jawab terbesar. Faktanya, semua bencana alam di Korea Utara merupakan bencana buatan manusia. ‘’Lebih tepatnya, ini adalah bencana buatan manusia yang disebabkan oleh Kim Jong-un,’’ ungkap Chung Eui-sung.
‘’Tidakkah dia merasa malu hanya dengan menyalahkan para eksekutif karena gagal mengambil langkah pencegahan yang tepat terhadap kerusakan akibat banjir? Fakta bahwa kerusakan akibat banjir besar terus berulang setiap tahun membuktikan bahwa banjir tersebut tidak dicegah secara sengaja,’’ jelasnya. Menurut Chung Eui-sung, jika saja setengah dari anggaran militer untuk senjata nuklir dan rudal dialokasikan untuk perekonomian, kerusakan akibat banjir tidak akan begitu signifikan, atau bahkan dapat dicegah.
Lihat Juga :