Macron Sangkal Penangkapan Miliarder Bos Telegram Pavel Durov Bermotif Politik

Selasa, 27 Agustus 2024 - 10:58 WIB
loading...
Macron Sangkal Penangkapan...
Miliarder Rusia pendiri Telegram Pavel Durov ditangkap polisi Prancis. Presiden Prancis Emmanuel Macron bantah penangkapan Durov bermotif politik. Foto/AP Photo/Tatan Syuflana
A A A
PARIS - Presiden Prancis Emmanuel Macron membantah adanya hubungan politik dengan penangkapan miliarder pendiri Telegram Pavel Durov di Bandara Paris-Le Bourget.

Bantahan Macron disampaikan pada Senin saat miliarder teknologi Rusia itu menghabiskan hari kedua dalam tahanan polisi Prancis setelah penangkapannya pada Sabtu pekan lalu.

Banyak pertanyaan telah diajukan tentang waktu dan keadaan penahanan Durov, yang menurut sumber yang dekat dengan kasus tersebut telah diperpanjang hingga Rabu.

Baca Juga: Prancis Tangkap Miliarder Pendiri Telegram Pavel Durov

Miliarder berusia 39 tahun itu dituduh gagal mengekang penyebaran konten ilegal di Telegram, yang memiliki lebih dari 900 juta pengguna. Pihak Telegram telah menolak tuduhan tersebut.

Lahir di masa Soviet dalam keluarga akademisi di Leningrad, yang sekarang dikenal sebagai Saint Petersburg, Durov menghabiskan masa kecilnya di Italia sebelum membangun jejaring sosial terbesar di Rusia saat itu, VKontakte (VK), di awal usia 20-an tahun.

Dia mendirikan Telegram setelah meninggalkan Rusia satu dekade lalu, dan majalah Forbes memperkirakan kekayaannya saat ini mencapai USD15,5 miliar.

Dalam sebuah posting di X untuk menanggapi apa yang disebutnya sebagai "informasi palsu" terkait kasus tersebut, Macron mengatakan penangkapan Durov terjadi sebagai bagian dari penyelidikan yudisial yang sedang berlangsung.

"Ini sama sekali bukan keputusan politik. Terserah hakim untuk memutuskan masalah ini," tulisnya dalam komentar yang sangat tidak biasa tentang kasus hukum, seperti dikutip AFP, Selasa (27/8/2024).

Durov memegang paspor Prancis selain kewarganegaraan Rusia-nya.

Pada Senin malam, otoritas Prancis kembali memperpanjang penahanan awal Durov untuk diinterogasi hingga Rabu, menurut sumber yang dekat dengan penyelidikan tersebut.

Baca Juga: Si Cantik yang Ditangkap Bersama Miliarder Bos Telegram Pavel Durov Terungkap, Ini Sosoknya

Ketika periode interogasi awal selama 96 jam berakhir, hakim investigasi dapat membebaskan Durov atau mengajukan tuntutan dan menahannya dalam tahanan.

Durov, yang telah bermukim di Dubai dalam beberapa tahun terakhir, tiba di Paris dari Ibu Kota Azerbaijan, Baku, dan berencana untuk makan malam di Ibu Kota Prancis tersebut, kata seorang sumber yang dekat dengan kasus tersebut.

Dia ditemani oleh seorang pengawal dan asisten pribadi yang selalu bepergian bersamanya, imbuh sumber tersebut, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya.

Salah satu pertanyaan kunci adalah mengapa Durov terbang ke Prancis ketika dia kemungkinan besar menyadari bahwa dia dicari di negara tersebut.

“Mungkin dia merasa bebas dari hukuman,” kata seorang sumber yang dekat dengan kasus tersebut, yang juga meminta untuk tidak disebutkan namanya.

Presiden Rusia Vladimir Putin berada di Baku dalam kunjungan kenegaraan ke Azerbaijan pada tanggal 18 dan 19 Agustus, meskipun juru bicara Kremlin Dmitry Peskov membantah bahwa Putin dan Durov telah bertemu.

Durov dituduh gagal mengambil tindakan untuk mengekang penggunaan platformnya secara kriminal.

OFMIN Prancis, kantor yang bertugas mencegah kekerasan terhadap anak di bawah umur, mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Durov dalam penyelidikan awal atas dugaan pelanggaran termasuk penipuan, perdagangan narkoba, perundungan siber, kejahatan terorganisasi, dan promosi terorisme, kata sumber lain.

Telegram mengatakan sebagai tanggapan bahwa Durov tidak menyembunyikan apa pun dan sering bepergian ke Eropa.

"Telegram mematuhi hukum Uni Eropa, termasuk Undang-Undang Layanan Digital—moderasinya sesuai dengan standar industri," imbuh perusahaan tersebut.

"Tidak masuk akal untuk mengklaim bahwa platform atau pemiliknya bertanggung jawab atas penyalahgunaan platform tersebut."

Telegram telah memposisikan dirinya sebagai alternatif "netral" untuk platform milik AS, yang telah dikritik karena eksploitasi komersial terhadap data pribadi pengguna.

Telegram juga memainkan peran penting sejak invasi Rusia ke Ukraina, yang digunakan secara aktif oleh politisi dan komentator di kedua belah pihak yang bertikai.

Namun, para kritikus menuduhnya sering kali memuat konten ilegal mulai dari gambar seksual ekstrem hingga disinformasi dan juga layanan narkotika.

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan Moskow tidak menerima informasi apa pun dari Prancis tentang mengapa Durov ditahan, dengan mengatakan: "Kami tidak tahu secara konkret apa yang dituduhkan kepada Durov".

Elon Musk, yang memimpin Tesla dan X, mengunggah tanda pagar (tagar) #FreePavel di platformnya dan berkomentar dalam bahasa Prancis, "Liberte Liberte! Liberte?" (Kebebasan, Kebebasan! Kebebasan?).

Macron mengatakan bahwa meskipun Prancis sangat berkomitmen pada kebebasan berekspresi dan berkomunikasi, kebebasan tersebut ditegakkan dalam kerangka hukum. "Baik di media sosial maupun dalam kehidupan nyata," katanya.

"Terserah kepada peradilan, dengan independensi penuh, untuk menegakkan hukum," katanya lagi.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Gelombang Panas Terjang...
Gelombang Panas Terjang Prancis, Rumah Duka Kewalahan
6 Pesawat Pengebom Nuklir...
6 Pesawat Pengebom Nuklir China dan Rusia Manuver Gabungan Dekati Jepang
Finlandia Izinkan Wilayahnya...
Finlandia Izinkan Wilayahnya Jadi Lokasi Pengerahan Senjata Nuklir NATO, Rusia Terancam
Rudal Ukraina Hancurkan...
Rudal Ukraina Hancurkan Pabrik Senjata Rusia
Jet Tempur China dan...
Jet Tempur China dan Rusia Kompak Masuk ke Zona Pertahanan Udara Korsel
Ukraina Berusaha Rebut...
Ukraina Berusaha Rebut Kesempatan Pertama untuk Menang, tapi Kenapa Selalu Gagal?
Teken Kerja Sama Hukum,...
Teken Kerja Sama Hukum, Indonesia dan Rusia Perkuat Mutual Legal Assistance
Gempa Dahsyat Venezuela,...
Gempa Dahsyat Venezuela, Bandara Internasional Ditutup hingga Warga Berhamburan ke Jalan
AS Rilis Paspor Edisi...
AS Rilis Paspor Edisi Terbatas Bergambar Trump, Begini Wujudnya
Rekomendasi
Penegak Hukum Terkoneksi...
Penegak Hukum Terkoneksi Politik, Ubedilah Badrun: Mestinya Independen
Ketum PB Akuatik Optimistis...
Ketum PB Akuatik Optimistis Skema Anggaran Pelatnas Multiyears Lahirkan Atlet Berprestasi
Perbarui IPKP PPKP Daruba,...
Perbarui IPKP PPKP Daruba, BNPP Soroti Transportasi hingga Infrastruktur Morotai
Berita Terkini
7 Pemimpin yang Mengubah...
7 Pemimpin yang Mengubah Dunia, Fatima al Fihri yang Mendirikan Kampus Pertama di Dunia
Iran Buat Senjata yang...
Iran Buat Senjata yang Lebih Canggih selama Perang dengan AS-Israel, Ini Bocorannya
Helikopter Saudi Aramco...
Helikopter Saudi Aramco Jatuh, 14 Orang Tewas
Ingin Kendalikan Selat...
Ingin Kendalikan Selat Hormuz, Iran Serukan Kerangka Keamanan dengan Negara Arab
Gelombang Panas Terjang...
Gelombang Panas Terjang Prancis, Rumah Duka Kewalahan
Jika AS Lanjutkan Perang,...
Jika AS Lanjutkan Perang, Trump: Iran Tidak Akan Ada Lagi
Infografis
Kaleidoskop 2025: 6...
Kaleidoskop 2025: 6 Peristiwa Politik Nasional yang Menggemparkan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved