Pengungsi Kurdi Irak Buang Banyak Alquran di Toilet Masjid Jerman
Kamis, 19 September 2019 - 02:57 WIB
Pengungsi Kurdi Irak Buang Banyak Alquran di Toilet Masjid Jerman
A
A
A
BREMEN - Seorang pengungsi Irak dari etnik Kurdi ditangkap polisi Jerman. Musababnya, dia membuang banyak salinan kitab suci Alquran di beberapa toilet di masjid-masjid di Jerman utara.
Pengungsi pria tersebut telah ditahan di Schleswig sejak pekan lalu. Dia juga mengaku telah melakukan tindakan serupa di kota-kota lain, termasuk menodai 50 salinan Alquran, mencabik-cabik dan buang air kecil di halaman kitab suci itu di sebuah masjid di Bremen pada awal Juni.
Polisi tidak merinci identitas tersangka. Menurut polisi, tersangka telah merobohkan dispenser sabun dan melemparkan halaman-halaman Alquran ke toilet di sebuah masjid di Schleswig, sebulan setelah dia berulah serupa di Bremen.
Insiden serupa juga terjadi di dua kota lain di Jerman utara, yaknni di Minden dan Muenster. Di Minden, dia membuang halaman-halaman kitab suci Alquran di ruang salat.
Serangkaian tindakannya itu memicu kemarahan di kalangan komunitas Muslim. Asosiasi Masjid Bremen, Shura, menyebut insiden itu sebagai "serangan menjijikkan" dan melukai perasaan umat Islam.
Dewan Sentral Muslim di Jerman juga mengutuk tindakan tersebut. Ketua Dewan Sentral Muslim, Aiman Mazyek, menggambarkan tindakan itu sebagai dimensi baru penyimpangan."Jelas bertujuan untuk semakin memicu spiral kebencian dan kekerasan terhadap Muslim dan masjid," katanya, dikutip Sputniknews, Kamis (19/9/2019).
Dia juga menuntut agar polisi Bremen menyelidiki kasus ini dengan saksama. Lebih lanjut, Mazyek meminta polisi melindungi masjid-masjid di Jerman.
Polisi memperingatkan agar tidak "menunjuk jari" pada pihak tertentu selama kasus itu masih diselidiki. Selain itu, jaksa penuntut di Flensburg, yang berlokasi di Schleswig, mengesampingkan latar belakang keterlibatan kelompok sayap kanan dalam insiden tersebut.
"Latar belakang xenophobia dapat dikesampingkan. Tidak ada tanda-tanda sama sekali", kata juru bicara kantor kejaksaan, Stephanie Gropp.
Pengungsi pria tersebut telah ditahan di Schleswig sejak pekan lalu. Dia juga mengaku telah melakukan tindakan serupa di kota-kota lain, termasuk menodai 50 salinan Alquran, mencabik-cabik dan buang air kecil di halaman kitab suci itu di sebuah masjid di Bremen pada awal Juni.
Polisi tidak merinci identitas tersangka. Menurut polisi, tersangka telah merobohkan dispenser sabun dan melemparkan halaman-halaman Alquran ke toilet di sebuah masjid di Schleswig, sebulan setelah dia berulah serupa di Bremen.
Insiden serupa juga terjadi di dua kota lain di Jerman utara, yaknni di Minden dan Muenster. Di Minden, dia membuang halaman-halaman kitab suci Alquran di ruang salat.
Serangkaian tindakannya itu memicu kemarahan di kalangan komunitas Muslim. Asosiasi Masjid Bremen, Shura, menyebut insiden itu sebagai "serangan menjijikkan" dan melukai perasaan umat Islam.
Dewan Sentral Muslim di Jerman juga mengutuk tindakan tersebut. Ketua Dewan Sentral Muslim, Aiman Mazyek, menggambarkan tindakan itu sebagai dimensi baru penyimpangan."Jelas bertujuan untuk semakin memicu spiral kebencian dan kekerasan terhadap Muslim dan masjid," katanya, dikutip Sputniknews, Kamis (19/9/2019).
Dia juga menuntut agar polisi Bremen menyelidiki kasus ini dengan saksama. Lebih lanjut, Mazyek meminta polisi melindungi masjid-masjid di Jerman.
Polisi memperingatkan agar tidak "menunjuk jari" pada pihak tertentu selama kasus itu masih diselidiki. Selain itu, jaksa penuntut di Flensburg, yang berlokasi di Schleswig, mengesampingkan latar belakang keterlibatan kelompok sayap kanan dalam insiden tersebut.
"Latar belakang xenophobia dapat dikesampingkan. Tidak ada tanda-tanda sama sekali", kata juru bicara kantor kejaksaan, Stephanie Gropp.
(mas)