Perang Genosida Israel Merugikan Ekonomi Lebih dari Rp1.061 Triliun
Kamis, 15 Agustus 2024 - 21:30 WIB
loading...
Seseorang melihat layar grafik besar yang menggambarkan jatuhnya pasar saham pada 5 Agustus 2024. Foto/Fatih Kurt/Anadolu Agency
A
A
A
TEL AVIV - Perang genosida di Gaza telah merugikan ekonomi Israel lebih dari USD67,3 miliar (Rp1.061 triliun), menurut ekonom Israel pada Kamis (15/8/2024), Anadolu Agency melaporkan.
“Perang telah merugikan ekonomi Israel lebih dari NIS250 miliar (USD67,3 miliar), dan lembaga pertahanan menginginkan peningkatan tahunan setidaknya NIS20 miliar (USD5,39 miliar),” ungkap Rakefet Russak-Aminoach, mantan CEO Bank Leumi Israel, mengatakan kepada Channel 12 Israel.
“Defisitnya jauh lebih besar, kita memiliki pengungsi, yang terluka dan banyak kebutuhan ekonomi yang bahkan tidak dihitung dalam biaya perang,” ujar dia.
Jacob Frenkel, mantan gubernur Bank Sentral Israel, mengatakan defisit anggaran negara mencapai 8,1% Juli lalu.
“Tugas yang paling mendesak dan penting adalah menangani defisit,” papar dia.
Dia menjelaskan, “Israel mengawali tahun 2023 tanpa defisit dan sejak saat itu situasinya memburuk. Pada akhir Juli, defisit mencapai 8,1%, atau sekitar NIS155 miliar (USD41,8 miliar). Defisit itu harus ditutupi.”
Uri Levin, mantan CEO Israel Discount Bank, mengatakan Israel tidak akan mampu memulihkan ekonominya tanpa mendapatkan kembali kepercayaan investor internasional.
“Perang telah merugikan ekonomi Israel lebih dari NIS250 miliar (USD67,3 miliar), dan lembaga pertahanan menginginkan peningkatan tahunan setidaknya NIS20 miliar (USD5,39 miliar),” ungkap Rakefet Russak-Aminoach, mantan CEO Bank Leumi Israel, mengatakan kepada Channel 12 Israel.
“Defisitnya jauh lebih besar, kita memiliki pengungsi, yang terluka dan banyak kebutuhan ekonomi yang bahkan tidak dihitung dalam biaya perang,” ujar dia.
Jacob Frenkel, mantan gubernur Bank Sentral Israel, mengatakan defisit anggaran negara mencapai 8,1% Juli lalu.
“Tugas yang paling mendesak dan penting adalah menangani defisit,” papar dia.
Dia menjelaskan, “Israel mengawali tahun 2023 tanpa defisit dan sejak saat itu situasinya memburuk. Pada akhir Juli, defisit mencapai 8,1%, atau sekitar NIS155 miliar (USD41,8 miliar). Defisit itu harus ditutupi.”
Uri Levin, mantan CEO Israel Discount Bank, mengatakan Israel tidak akan mampu memulihkan ekonominya tanpa mendapatkan kembali kepercayaan investor internasional.
Lihat Juga :