Mesir Marah kepada Israel karena Tidak Punya Keinginan Mengakhiri Perang
Sabtu, 10 Agustus 2024 - 17:25 WIB
loading...
Mesir marah kepada Israel karena tidak memiliki keinginan mengakhiri eprang. Foto/EPA
A
A
A
GAZA - Kementerian luar negeri Mesir dengan keras mengutuk serangan militer Israel di sekolah al-Tabin di Kota Gaza. Kairo mengatakan hal itu menunjukkan Israel tidak memiliki "keinginan politik" untuk mengakhiri perang.
Dalam sebuah pernyataan yang dikutip oleh Kantor Berita Timur Tengah yang dikelola pemerintah, kementerian luar negeri Mesir menuduh Israel berulang kali melakukan "kejahatan skala besar" terhadap "warga sipil tak bersenjata" setiap kali ada desakan internasional untuk gencatan senjata.
Dikatakan bahwa serangan tersebut mencerminkan "pengabaian yang belum pernah terjadi sebelumnya" terhadap hukum internasional.
Mesir, bersama dengan Qatar dan AS, membantu memediasi perundingan gencatan senjata yang dijadwalkan pada tanggal 15 Agustus.
Sementara itu, Hassan Barari, profesor hubungan internasional di Universitas Qatar, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa hal itu harus dilihat dari serangan yang menelan korban massal oleh tentara Israel, seperti pembunuhan lebih dari 100 orang pagi ini di Sekolah al-Tabin di Kota Gaza, dalam konteks politik dalam negeri Israel dan perundingan gencatan senjata.
Baca Juga: Israel Mengebom Aula Sekolah saat Ratusan Orang Sedang Salat Subuh
“Baru kemarin, [menteri keuangan Israel] Smotrich mengatakan bahwa pergi ke Doha atau Kairo adalah semacam kapitulasi dan bahwa Israel tidak boleh pergi dan melakukan perundingan mengenai gencatan senjata”, kata Barari. “Jadi PM Netayhahu mencoba menenangkan orang-orang sayap kanan di pemerintahannya sendiri”.
Dalam sebuah pernyataan yang dikutip oleh Kantor Berita Timur Tengah yang dikelola pemerintah, kementerian luar negeri Mesir menuduh Israel berulang kali melakukan "kejahatan skala besar" terhadap "warga sipil tak bersenjata" setiap kali ada desakan internasional untuk gencatan senjata.
Dikatakan bahwa serangan tersebut mencerminkan "pengabaian yang belum pernah terjadi sebelumnya" terhadap hukum internasional.
Mesir, bersama dengan Qatar dan AS, membantu memediasi perundingan gencatan senjata yang dijadwalkan pada tanggal 15 Agustus.
Sementara itu, Hassan Barari, profesor hubungan internasional di Universitas Qatar, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa hal itu harus dilihat dari serangan yang menelan korban massal oleh tentara Israel, seperti pembunuhan lebih dari 100 orang pagi ini di Sekolah al-Tabin di Kota Gaza, dalam konteks politik dalam negeri Israel dan perundingan gencatan senjata.
Baca Juga: Israel Mengebom Aula Sekolah saat Ratusan Orang Sedang Salat Subuh
“Baru kemarin, [menteri keuangan Israel] Smotrich mengatakan bahwa pergi ke Doha atau Kairo adalah semacam kapitulasi dan bahwa Israel tidak boleh pergi dan melakukan perundingan mengenai gencatan senjata”, kata Barari. “Jadi PM Netayhahu mencoba menenangkan orang-orang sayap kanan di pemerintahannya sendiri”.
Lihat Juga :