China Tunda Perundingan Senjata Nuklir dengan AS, Protes soal Taiwan
Kamis, 18 Juli 2024 - 09:21 WIB
loading...
A
A
A
AS juga menyetujui pembelian suku cadang dan perbaikan senilai USD300 juta untuk jet tempur F-16 Taiwan.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian mengatakan bahwa AS terus menjual senjata ke Taiwan meskipun terdapat tentangan kuat China.
"Konsekuensinya, pihak China memutuskan untuk menunda diskusi dengan AS perihal putaran baru konsultasi mengenai pengendalian senjata dan nonproliferasi [nuklir]. Tanggung jawab sepenuhnya berada di tangan AS," katanya, seperti dikutip The Guardian, Kamis (18/7/2024).
Lin mengatakan China bersedia menjaga komunikasi mengenai pengendalian senjata internasional."Namun AS harus menghormati kepentingan inti China dan menciptakan kondisi yang diperlukan untuk dialog dan pertukaran," paparnya.
Sebagai respons, juru bicara Departemen Luar Negeri AS Matthew Miller menuduh China “mengikuti jejak Rusia” dengan menyandera negosiasi pengendalian senjata terhadap konflik lain dalam hubungan bilateral.
“Kami pikir pendekatan ini melemahkan stabilitas strategis, meningkatkan risiko dinamika perlombaan senjata,” kata Miller kepada wartawan.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian mengatakan bahwa AS terus menjual senjata ke Taiwan meskipun terdapat tentangan kuat China.
"Konsekuensinya, pihak China memutuskan untuk menunda diskusi dengan AS perihal putaran baru konsultasi mengenai pengendalian senjata dan nonproliferasi [nuklir]. Tanggung jawab sepenuhnya berada di tangan AS," katanya, seperti dikutip The Guardian, Kamis (18/7/2024).
Lin mengatakan China bersedia menjaga komunikasi mengenai pengendalian senjata internasional."Namun AS harus menghormati kepentingan inti China dan menciptakan kondisi yang diperlukan untuk dialog dan pertukaran," paparnya.
Ini Respons Amerika
Sebagai respons, juru bicara Departemen Luar Negeri AS Matthew Miller menuduh China “mengikuti jejak Rusia” dengan menyandera negosiasi pengendalian senjata terhadap konflik lain dalam hubungan bilateral.
“Kami pikir pendekatan ini melemahkan stabilitas strategis, meningkatkan risiko dinamika perlombaan senjata,” kata Miller kepada wartawan.
Lihat Juga :