Militer Komunis Klaim Rudal Naga Api China Mampu Tenggelamkan Kapal Perang AS

Jum'at, 21 Juni 2024 - 10:15 WIB
loading...
A A A
Dalam skenario alternatif, para ilmuwan mengganti hulu ledak delapan rudal dengan “swarm hulu ledak”, yang masing-masing menampung enam drone.

Ketika rudal-rudal yang dimodifikasi ini mendekati armada AS, mereka memperlambat kecepatan dan melepaskan muatan drone mereka. Tujuan dari kawanan drone ini adalah untuk mengalihkan daya tembak pertahanan udara kapal penjelajah dan memberikan koordinat target yang lebih tepat untuk serangan roket gelombang kedua.

“Setelah rudal jarak jauh menyelesaikan serangannya, gerombolan tersebut mulai melancarkan serangan langsung terhadap kapal musuh yang tersisa,” kata Li.

Setelah beberapa putaran simulasi, para ilmuwan memperkirakan bahwa tingkat kelangsungan hidup dua kapal penjelajah kelas Ticonderoga dengan taktik ini mendekati nol.

Menurut Li, drone yang digunakan untuk serangan gerombolan bisa dari jenis Switchblade 600 atau model serupa. Dengan radius operasional lebih dari 40 km, drone ini hemat biaya dan tersedia di pasar internasional.

Drone ini rentan terhadap sistem pertahanan dekat seperti Phalanx. Namun, jika diintegrasikan dengan roket jarak jauh, mereka menimbulkan ancaman signifikan bagi kapal perang, menurut Li.

Agar rudal Fire Dragon 480 dan taktik gerombolan drone yang menyertainya dapat mencapai potensi penuhnya, sistem peluncur misil jarak jauh China perlu menerima beberapa upgrade dan modifikasi teknologi, menurut penelitian tersebut.

Kemampuan anti-interferensi dan hubungan data heterogen antara rudal dan drone juga harus diperkuat untuk memenuhi tuntutan pertempuran sebenarnya.

Sementara itu, Amerika secara bertahap menonaktifkan kapal penjelajah kelas Ticonderoga demi menggantikan kapal yang lebih modern, dan kapal penjelajah terakhir akan dipensiunkan pada tahun 2027.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
AS Siap Mulai Lagi Perang...
AS Siap Mulai Lagi Perang dan Terapkan Kembali Blokade Jika Iran Tidak Patuh
Trump Bela Kesepakatan...
Trump Bela Kesepakatan Iran: Orang-orang Dungu Itu Iri, Orang Jahat, atau Bodoh
Ketua Parlemen Tegaskan...
Ketua Parlemen Tegaskan Iran akan Pungut Biaya dari Kapal untuk Layanan di Selat Hormuz
AS Ternyata Gunakan...
AS Ternyata Gunakan AI Grok Elon Musk untuk Tembakkan 2.000 Rudal ke Iran
Trump Bilang Israel...
Trump Bilang Israel Tak Berhak Kritik Deal AS-Iran karena Dulu Ogah Bunuh Jenderal Soleimani
Iran Nyatakan Menang...
Iran Nyatakan Menang Perang Melawan AS dan Israel
Tantang Dominasi Dolar...
Tantang Dominasi Dolar AS, China Perluas Penggunaan Yuan secara Global
AS: Selat Hormuz Terbuka...
AS: Selat Hormuz Terbuka untuk Dilalui Semua Kapal Tanpa Biaya Tol
Trump Ingin Buru-Buru...
Trump Ingin Buru-Buru Teken Perjanjian Damai dengan Iran, Tak Menunggu 19 Juni
Rekomendasi
Sidang Tuntutan Dalang...
Sidang Tuntutan Dalang Pembunuhan Kacab Bank Ditunda
Dianggap Mampu, 76 Sekolah...
Dianggap Mampu, 76 Sekolah di Pulau Jawa Dicoret dari Daftar Penerima MBG
Monitoring Konsumsi...
Monitoring Konsumsi Listrik Kini Jadi Langkah Awal Efisiensi Energi
Berita Terkini
Pemimpin Hizbullah:...
Pemimpin Hizbullah: Perlawanan Gagalkan Proyek Israel Raya, Perlucutan Senjata Tak akan Disetujui
AS Siap Mulai Lagi Perang...
AS Siap Mulai Lagi Perang dan Terapkan Kembali Blokade Jika Iran Tidak Patuh
Trump Bela Kesepakatan...
Trump Bela Kesepakatan Iran: Orang-orang Dungu Itu Iri, Orang Jahat, atau Bodoh
Ketua Parlemen Tegaskan...
Ketua Parlemen Tegaskan Iran akan Pungut Biaya dari Kapal untuk Layanan di Selat Hormuz
AS Ternyata Gunakan...
AS Ternyata Gunakan AI Grok Elon Musk untuk Tembakkan 2.000 Rudal ke Iran
Trump Bilang Israel...
Trump Bilang Israel Tak Berhak Kritik Deal AS-Iran karena Dulu Ogah Bunuh Jenderal Soleimani
Infografis
Tegang, Jet Tempur China...
Tegang, Jet Tempur China Kejar Pesawat AS Dekat Kapal Induk
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved