Eks Pejabat: Departemen Luar Negeri AS Menipu Kongres tentang Gaza

Sabtu, 01 Juni 2024 - 13:07 WIB
loading...
Eks Pejabat: Departemen...
Demonstran pro-Palestina mengangkat tangan berdarah saat Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken memberikan kesaksian di depan sidang Komite Hubungan Luar Negeri Senat, 21 Mei 2024. Foto/REUTERS
A A A
GAZA - Departemen Luar Negeri (Deplu) Amerika Serikat (AS) berbohong kepada Kongres ketika mengatakan Israel tidak membatasi aliran bantuan ke Gaza.

Pernyataan itu diungkap seorang mantan pejabat yang mengundurkan diri sebagai bentuk protes.

Stacy Gilbert bertugas di Biro Populasi, Pengungsi, dan Migrasi Departemen Luar Negeri AS selama 20 tahun.

Dia meninggalkan pekerjaannya sebagai penasihat senior pada Selasa, dengan alasan keberatan terkait memo setebal 46 halaman berjudul NSM-20, yang diberikan kepada anggota parlemen AS pada 10 Mei, menurut dia kepada Reuters dan The Guardian.

Dalam memo tersebut, Departemen Luar Negeri mengatakan Israel tidak melanggar hukum AS yang melarang penyediaan senjata kepada negara-negara yang membatasi bantuan kemanusiaan Amerika.

Gilbert adalah salah satu ahli yang dimintai pendapatnya untuk laporan tersebut dan mengatakan kesimpulan tersebut tidak sesuai dengan kenyataan.

"Itu sepenuhnya pendapat para ahli masalah kemanusiaan di Departemen Luar Negeri, dan bukan hanya di biro saya, orang-orang yang melihat ini dari komunitas intelijen dan dari biro-biro lain," papar dia tentang posisinya.

Dia menggambarkan NSM-20 "jelas salah" dalam komentarnya kepada surat kabar Inggris tersebut.

“Rancangan laporan diambil alih oleh para ahli dan disunting pada tingkat yang lebih tinggi,” ungkap dia.

Baca juga: Hamas Anggap Positif Usulan Gencatan Senjata Israel Terbaru

Setelah membaca apa yang akhirnya diberitahukan kepada Kongres, dia memberi tahu rekan-rekannya bahwa dia akan mengundurkan diri.

Pengunduran dirinya dikonfirmasi kepada Washington Post oleh sumber-sumber internal. Pada Kamis, departemen tersebut tetap membela NSM-20, tetapi menolak berkomentar mengenai peran Gilbert.

Alexander Smith, kontraktor untuk Badan Pembangunan Internasional AS (USAID), juga dilaporkan meninggalkan pekerjaannya karena perbedaan pendapatnya tentang Gaza.

Dia mengatakan presentasinya tentang kematian ibu dan anak di antara warga Palestina telah dibatalkan pimpinan lembaga tersebut pekan lalu.

"Saya tidak dapat melakukan pekerjaan saya di lingkungan di mana orang-orang tertentu tidak dapat diakui sebagai manusia seutuhnya," ujar dia kepada media yang sama.

Smith dan Gilbert termasuk di antara sembilan pejabat AS yang diketahui telah mengundurkan diri sebagai protes terhadap kebijakan Washington sejak Israel melancarkan kampanye militernya di Gaza.

Josh Paul, yang merupakan salah satu orang pertama yang mengundurkan diri beberapa pekan setelah konflik dimulai, mengatakan kepada Washington Post bahwa sebanyak dua lusin pejabat AS lainnya juga telah mengundurkan diri secara diam-diam sejak Oktober.

Presiden AS Joe Biden mengatakan tidak ada "batasan merah" untuk dukungan Washington terhadap Israel, bahkan ketika organisasi bantuan memperingatkan orang-orang yang terjebak di daerah kantong itu menghadapi kelaparan, kurangnya perawatan medis, dan kondisi yang mengancam jiwa lainnya.

Rezim penjajah Israel telah membunuh lebih dari 36.000 warga Palestina di Jalur Gaza. AS menjadi pemasok senjata yang digunakan pasukan Zionis untuk membunuh warga Gaza.
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Trump Ingin Beri Turki...
Trump Ingin Beri Turki Jet Tempur Siluman F-35 AS, Kongres Siap Blokir dengan Alasan S-400 Rusia
Menipu hingga Rp17,8...
Menipu hingga Rp17,8 Triliun untuk Hidup Mewah, Miliarder Ini Dipenjara 30 Tahun
Mengapa Pangkalan-pangkalan...
Mengapa Pangkalan-pangkalan Militer AS di Teluk Akan Berakhir? Ini Analisisnya
Setelah Saling Serang,...
Setelah Saling Serang, AS dan Iran Sepakat Menahan Diri, Ternyata Ini Pemicunya!
Israel Akui Genosida...
Israel Akui Genosida Armenia, Dikecam karena Juga Lakukan Genosida Gaza
10 Kali Amerika Serikat...
10 Kali Amerika Serikat dan Iran Duduk di Meja Perundingan, tapi Perang Terus Berlanjut, Ini Penyebabnya
Penembakan di Fan Zone...
Penembakan di Fan Zone Piala Dunia 2026, Satu Orang Tewas dan Satu Kritis
Presiden Serbia Aleksandar...
Presiden Serbia Aleksandar Vučić Umumkan Pengunduran Diri
Penembakan di Fasilitas...
Penembakan di Fasilitas Remaja, 6 Orang Tewas
Rekomendasi
Perkuat Industri Maritim,...
Perkuat Industri Maritim, BKI Dorong Kolaborasi PIKKI Bersama PT PAL
Kejutan! Maroko Singkirkan...
Kejutan! Maroko Singkirkan Belanda Lewat Drama Adu Penalti
Malaysia Prediksi Gejolak...
Malaysia Prediksi Gejolak Harga Energi Berlanjut Dua Tahun ke Depan
Berita Terkini
Iran Ngamuk, Luncurkan...
Iran Ngamuk, Luncurkan Serangan Siber 3 Kali Lipat terhadap Israel
Trump Ingin Beri Turki...
Trump Ingin Beri Turki Jet Tempur Siluman F-35 AS, Kongres Siap Blokir dengan Alasan S-400 Rusia
5 Momen Penyelamatan...
5 Momen Penyelamatan Korban Gempa Venezuela yang Mengharukan
Menipu hingga Rp17,8...
Menipu hingga Rp17,8 Triliun untuk Hidup Mewah, Miliarder Ini Dipenjara 30 Tahun
5 Alasan Putin Menolak...
5 Alasan Putin Menolak Perjanjian Batasan Serangan Jarak Jauh dengan Ukraina
Mengapa Pangkalan-pangkalan...
Mengapa Pangkalan-pangkalan Militer AS di Teluk Akan Berakhir? Ini Analisisnya
Infografis
Mau Caplok Gaza, Anggota...
Mau Caplok Gaza, Anggota Parlemen AS Ingin Trump Dimakzulkan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved