Jenderal NATO: Rusia Tak Miliki Kekuatan untuk Terobosan Besar di Ukraina

Jum'at, 17 Mei 2024 - 10:21 WIB
loading...
Jenderal NATO: Rusia...
Panglima Tertinggi Sekutu NATO Eropa Jenderal Christopher Cavoli sebut Rusia tak memiliki kekuatan cukup untuk membuat terobosan besar di Ukraina. Foto/Reina J Delgado/Departmen Pertahanan AS
A A A
BRUSSELS - Seorang jenderal top NATO mengeklaim Rusia tidak memiliki kekuatan yang cukup di lapangan untuk membuat terobosan besar di Ukraina.

Komentar yang terkesan meremehkan Moskow itu muncul setelah Rusia melancarkan serangan besar di wilayah Kharkhiv yang membuat pasukan Ukraina tidak berdaya.

“Rusia tidak memiliki jumlah [kekuatan] yang diperlukan untuk melakukan terobosan strategis...lebih tepatnya mereka tidak memiliki keterampilan dan kemampuan untuk melakukannya,” kata Jenderal Amerika Serikat Christopher Cavoli, Panglima Tertinggi Sekutu NATO Eropa, kepada wartawan, seperti dikutip AFP, Jumat (17/5/2024).

“Saya telah melakukan kontak sangat dekat dengan rekan-rekan kami di Ukraina dan saya yakin mereka akan menjaga garis [depan],” lanjut Jenderal Cavoli setelah militer Ukraina memberi pengarahan kepada petinggi NATO.

Baca Juga: Zelensky Salahkan Seluruh Dunia atas Kegagalan Ukraina Melawan Rusia di Kharkiv

Ukraina pada Kamis mengatakan pihaknya berusaha untuk menstabilkan garis depan di wilayah timur laut Kharkiv, tempat Moskow memperoleh perolehan teritorial terbesarnya dalam 18 bulan setelah melancarkan serangan cepat pekan lalu.

Presiden Volodymyr Zelensky mengatakan Kyiv mengirim lebih banyak bala bantuan ke wilayah tersebut, dan militer Ukraina mengatakan mereka berhasil menghentikan sebagian kemajuan Rusia.

Moskow telah merebut 278 kilometer persegi wilayah Ukraina antara 9 hingga 15 Mei, menurut perhitungan AFP berdasarkan data dari Institute for the Study of War (ISW). Ini merupakan perolehan teritorial terbesar dalam satu operasi sejak pertengahan Desember 2022.

Cavoli mengatakan sekutu Ukraina mempercepat pengiriman bantuan senjata besar-besaran ke pasukan Kyiv setelah Washington pada akhirnya setuju memasok bantuan militer ke Ukraina yang tertunda selama berbulan-bulan.

“Saat ini mereka sedang dikirimi amunisi dalam jumlah besar, sistem pertahanan udara jarak pendek dalam jumlah besar, dan kendaraan lapis baja dalam jumlah besar,” katanya.

Komentar jenderal NATO itu bertolak belakang dengan pernyataan Presiden Zelensky yang mengatakan seluruh dunia harus disalahkan atas kegagalan Ukraina menghentikan kemajuan Rusia baru-baru ini di Kharkiv.

Menurutnya, seluruh dunia sekarang harus membantu Kyiv untuk mengubah situasi tersebut. Itu disampaikan Presiden Ukraina tersebut dalam wawancara dengan ABC News pada hari Kamis (16/5/2024).

Para pejabat tinggi militer di Kyiv telah mengakui bahwa situasinya sekarang “sangat sulit", dan bahwa pasukan Ukraina sedang berjuang untuk bertahan karena kalah jumlah tentara dan persenjataan.

Ketika ditanya apakah menurutnya kegagalan Ukraina di medan perang adalah kesalahan Amerika Serikat (AS), Zelensky menjawab: “Ini adalah kesalahan dunia."

Dia menuduh komunitas internasional memberikan kesempatan bagi pasukan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menduduki wilayah tersebut.

"Ukraina tidak sanggup kehilangan Kharkiv,” katanya, seraya menambahkan bahwa dunia dapat membantu Kyiv untuk mempertahankan kota penting di timur laut negara tersebut.

“Yang kita butuhkan hanyalah dua sistem Patriot,” kata Zelensky, merujuk pada sistem pertahanan rudal canggih buatan Amerika Serikat (AS).

"Rusia tidak akan dapat menduduki Kharkiv jika kita memilikinya," katanya lagi.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Demi Cinta Bertaruh...
Demi Cinta Bertaruh Nyawa, Pasangan Ini Lamaran di Puncak Gedung Empire State 443 Meter
Siapa Vadym Yermolaiev?...
Siapa Vadym Yermolaiev? Taipan Ukraina yang Terluka dalam Ledakan di Monako
Italia Blokir Bantuan...
Italia Blokir Bantuan Militer NATO kepada Ukraina Senilai Rp1.436 Triliun, Sinyal Kemenangan bagi Rusia?
Kurangi Ketergantungan...
Kurangi Ketergantungan Eropa dari AS, Mampukah Turki Ingin Memperkuat NATO 3.0?
Paksa Rusia Mengakhiri...
Paksa Rusia Mengakhiri Perang, Ukraina Intensifkan Serangan Drone ke Moskow
Kesepakatan MiG untuk...
Kesepakatan MiG untuk Drone antara Polandia dan Drone Ukraina Batal, Ini Pemicu Utamanya
Teken Kerja Sama Hukum,...
Teken Kerja Sama Hukum, Indonesia dan Rusia Perkuat Mutual Legal Assistance
Majelis Ulama Senior...
Majelis Ulama Senior Iran Serukan Pembunuhan Donald Trump dan Netanyahu
Mantan Kepala Staf IDF...
Mantan Kepala Staf IDF Ini Siap "Gulingkan" Netanyahu sebagai PM Israel
Rekomendasi
Rekonstruksi Kasus Penganiayaan...
Rekonstruksi Kasus Penganiayaan Sadis Taufik Hidayat di Polda Jabar Digelar Tertutup
Rapat Paripurna RAPBN...
Rapat Paripurna RAPBN 2027 hingga Calon Anggota BS OJK Dihadiri 298 Anggota DPR
Sarah Gibson Resmi Berpisah...
Sarah Gibson Resmi Berpisah dari Diska Resha, Tetap Sepakat Co-Parenting
Berita Terkini
Usai Tewaskan 1.300...
Usai Tewaskan 1.300 Orang di Eropa, Gelombang Panas Ekstrem Kini Melanda AS
Gempa Kembar Venezuela...
Gempa Kembar Venezuela Tewaskan 2.295 Orang: Mirip Zona Perang, Bau Mayat Menyengat
Ini Detail Cekcok Trump...
Ini Detail Cekcok Trump dan Mohammed bin Salman Gara-gara Perang Iran
Eks Jenderal Zionis:...
Eks Jenderal Zionis: Netanyahu Mengarang Iran Miliki Bom Nuklir untuk Menakuti Publik Israel
Demi Cinta Bertaruh...
Demi Cinta Bertaruh Nyawa, Pasangan Ini Lamaran di Puncak Gedung Empire State 443 Meter
AS Pertimbangkan Tarik...
AS Pertimbangkan Tarik Pasukan dari Arab Saudi, Berseteru Gara-gara Perang Iran
Infografis
3 Alasan Rusia Kini...
3 Alasan Rusia Kini Didukung AS untuk Melawan Ukraina
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved