Bak Kiamat, Analis Gambarkan Kengerian Jika AS Dibom Nuklir oleh Rusia Cs

Minggu, 12 Mei 2024 - 08:07 WIB
loading...
Bak Kiamat, Analis Gambarkan...
Tsar Bomba, bom nuklir terbesar sejagat yang diledakkan Uni Soviet pada 30 Oktober 1961. Analis gambarkan kengerian jika AS dibom nuklir oleh Rusia dan Korut. Foto/Rosatom State Atomic Energy Corporation
A A A
WASHINGTON - Para analis telah menggambarkan detail detik demi detik kengerian kondisi dunia jika Amerika Serikat (AS) diserang bom nuklir oleh musuh-musuhnya, termasuk Rusia dan Korea Utara (Korut). Mereka mengibaratkan kehancuran yang ditimbulkan oleh perang nuklir tersebut seperti akhir dunia atau kiamat.

Sembilan negara—AS, India, China, Rusia, Prancis, Inggris, Pakistan, Israel, dan Korea Utara—telah menjadi pemain utama dalam perlombaan senjata paling kuat dalam sejarah.

Para pejabat negara nuklir berdalih penambahan persenjataan nuklir adalah murni tindakan pencegahan. Namun kesalahan sekecil apa pun, seperti alarm palsu yang terkenal pada tahun 1983 yang hampir berbunyi dapat memicu efek kupu-kupu yang ditakuti sejak tragedi bom nuklir di Hiroshima.

Perincian mengerikan mengenai apa yang akan terjadi setelah peluncuran nuklir telah dibahas secara mendalam oleh para pemikir terbaik umat manusia, yang telah memperingatkan selama beberapa dekade bahwa kehancuran peradaban dapat dipicu hanya dengan menekan sebuah tombol.

Baca Juga: Putin Nilai Barat Sombong, Sebut Nuklir Rusia Siap Tempur

Namun hal itu tidak menghentikan para pemimpin negara nuklir untuk menunjukkan kekuatannya melalui kata-kata. Para pakar militer di Rusia secara teratur mengancam dengan persenjataan nuklir negara mereka ketika Presiden Vladimir Putin terus melanjutkan “kampanye militer khusus” yang sudah berlangsung selama dua tahun di Ukraina.

Dalam isyarat lain yang jelas, Putin pekan ini memerintahkan militernya untuk mengadakan latihan senjata nuklir untuk unit-unit yang berbasis di dekat perbatasan Ukraina.

Itu terjadi setelah dia memperingatkan pada bulan Februari bahwa ada risiko nyata terhadap perang nuklir.

Yang lebih parah lagi adalah Rusia telah membatalkan ratifikasi Perjanjian Larangan Uji Coba Nuklir Komprehensif dan menarik diri dari perjanjian pengurangan senjata utama dengan Amerika Serikat pada tahun 2023.

Korea Utara juga telah mengembangkan persenjataan nuklirnya, dengan berani membela haknya untuk mengatur warga negaranya sesuai keinginan dinasti Kim, sebuah topik yang sering memicu ketegangan dengan negara tetangga terdekatnya dan negara-negara Barat.

Meskipun mendapat pengawasan internasional selama bertahun-tahun, pemimpin Korea Utara Kim Jong-un terus melakukan uji coba rudal hingga tahun 2024, beberapa di antaranya meluncur sangat dekat dengan wilayah kedaulatan Jepang.

Analis Annie Jacobsen, penulis buku yang baru diterbitkan, “Nuclear War: A Scenario”, telah menguraikan kondisi geopolitik saat ini dan risiko yang sangat nyata dari konflik nuklir. “Yang dapat mengakhiri dunia seperti yang kita ketahui dalam hitungan jam,” katanya.

Meskipun ada entitas kuat seperti Kantor Urusan Perlucutan Senjata PBB yang mengkolaborasikan informasi mengenai jumlah senjata yang dimiliki oleh negara-negara pemain nuklir utama, Jacobsen memperingatkan bahwa jumlah sebenarnya mungkin jauh dari perkiraan resmi.

“CIA akan memberi tahu Anda bahwa Korea Utara memiliki 50 senjata nuklir,” katanya dalam penampilannya baru-baru ini di podcast Modern Wisdom milik Chris Williamson.

“Tetapi beberapa organisasi non-pemerintah akan memberitahu Anda bahwa jumlahnya mencapai 130,” ujarnya, seperti dikutip news.com.au, Minggu (12/5/2024).
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Trump Marah, Tuding...
Trump Marah, Tuding Iran Bocorkan Detail Kesepakatan Damai
Apa yang Ada dan Tidak...
Apa yang Ada dan Tidak Ada dalam Draf Kesepakatan Damai AS-Iran?
Iran Tegaskan Pengelolaan...
Iran Tegaskan Pengelolaan Selat Hormuz akan Disepakati Melalui Dialog Regional
Iran Tegaskan Belum...
Iran Tegaskan Belum Ada Kesepakatan Akhir dengan AS
Terungkap, Pokemon Go...
Terungkap, Pokemon Go Bantu Militer AS Petakan Dunia
Ayatollah Khamenei Sudah...
Ayatollah Khamenei Sudah Lebih dari 100 Hari Meninggal, Iran Tunda Lagi Penguburannya
Piala Dunia 2026: Saat...
Piala Dunia 2026: Saat Sepak Bola Jadi Mesin Uang FIFA
AS Kembali Gempur Iran...
AS Kembali Gempur Iran Usai Insiden Helikopter Apache di Selat Hormuz
Heli Militer Mi-17 Pakistan...
Heli Militer Mi-17 Pakistan Jatuh, 22 Tentara Tewas termasuk 3 Perwira
Rekomendasi
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan...
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan China, Ekspor Minyak Iran Merosot 80%
Harga BYD M6 DM Dirilis:...
Harga BYD M6 DM Dirilis: Mulai Rp298 Juta, Klaim Irit 65 Km/Liter Setara Motor Matic
BYD M6 DM Diklaim Irit...
BYD M6 DM Diklaim Irit 65 Km/Liter, Sudah Diuji 150 Km Nyaris Tanpa Minum Bensin
Berita Terkini
Trump Marah, Tuding...
Trump Marah, Tuding Iran Bocorkan Detail Kesepakatan Damai
Apa yang Ada dan Tidak...
Apa yang Ada dan Tidak Ada dalam Draf Kesepakatan Damai AS-Iran?
Iran Tegaskan Pengelolaan...
Iran Tegaskan Pengelolaan Selat Hormuz akan Disepakati Melalui Dialog Regional
Netanyahu dan Trump...
Netanyahu dan Trump Bahas Nota Kesepahaman Mendatang dengan Iran
Iran Tegaskan Belum...
Iran Tegaskan Belum Ada Kesepakatan Akhir dengan AS
Terungkap, Pokemon Go...
Terungkap, Pokemon Go Bantu Militer AS Petakan Dunia
Infografis
Perbandingan Gaji Tentara...
Perbandingan Gaji Tentara AS dengan Rusia, China, dan Inggris
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved