Seperti Apa yang Akan Terjadi Ketika Donald Trump Kembali Berkuasa?
Kamis, 09 Mei 2024 - 18:40 WIB
loading...
A
A
A
Baca Juga: Mengapa OKI Belum Mampu Menyelesaikan Konflik antara Israel dan Palestina?
![Seperti Apa yang Akan Terjadi Ketika Donald Trump Kembali Berkuasa?]()
Foto/AP
Mengenai kebijakan luar negeri, para pengamat mengatakan bahwa AS tidak dapat mempertahankan seluruh komitmennya di berbagai kawasan dan harus segera mengambil pilihan sulit.
Trump sering menyoroti kegagalan beberapa anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) untuk mengalokasikan minimal 2 persen dari produk domestik bruto mereka untuk belanja pertahanan.
“Saya pikir ada pengakuan bahwa Eropa memang harus meningkatkan belanja pertahanan, membangun kembali kemampuan industri pertahanan mereka, sehingga AS dapat mundur (dan) membiarkan Eropa menjaga keamanan Eropa dan memberikan prioritas pada Indo-Pasifik. kata Dr Adrian Ang, peneliti di S Rajaratnam School of International Studies (RSIS).
Dari 32 negara anggota NATO, 20 negara kini memenuhi target 2 persen tersebut dan fokus mendukung Ukraina dalam perang melawan Rusia.
Trump telah mengancam bahwa dia tidak akan membela sekutu-sekutu NATO yang gagal mengeluarkan dana yang cukup untuk pertahanan, dan bahkan akan mendorong Rusia untuk “melakukan apa pun yang mereka inginkan”.
“Saya pikir itu lebih merupakan taktik menakut-nakuti agar negara-negara Eropa mau menerima dan akhirnya membayar bagian mereka secara adil,” Ang, yang juga koordinator program AS di Institut Kajian Pertahanan dan Strategis RSIS.
Tercantum dalam Pasal 5 Perjanjian Atlantik Utara, dokumen pendiri NATO, adalah prinsip pertahanan kolektif, di mana serangan terhadap satu anggota dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota.
2. Meningkatkan Sekutu Lama AS

Foto/AP
Mengenai kebijakan luar negeri, para pengamat mengatakan bahwa AS tidak dapat mempertahankan seluruh komitmennya di berbagai kawasan dan harus segera mengambil pilihan sulit.
Trump sering menyoroti kegagalan beberapa anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) untuk mengalokasikan minimal 2 persen dari produk domestik bruto mereka untuk belanja pertahanan.
“Saya pikir ada pengakuan bahwa Eropa memang harus meningkatkan belanja pertahanan, membangun kembali kemampuan industri pertahanan mereka, sehingga AS dapat mundur (dan) membiarkan Eropa menjaga keamanan Eropa dan memberikan prioritas pada Indo-Pasifik. kata Dr Adrian Ang, peneliti di S Rajaratnam School of International Studies (RSIS).
Dari 32 negara anggota NATO, 20 negara kini memenuhi target 2 persen tersebut dan fokus mendukung Ukraina dalam perang melawan Rusia.
Trump telah mengancam bahwa dia tidak akan membela sekutu-sekutu NATO yang gagal mengeluarkan dana yang cukup untuk pertahanan, dan bahkan akan mendorong Rusia untuk “melakukan apa pun yang mereka inginkan”.
“Saya pikir itu lebih merupakan taktik menakut-nakuti agar negara-negara Eropa mau menerima dan akhirnya membayar bagian mereka secara adil,” Ang, yang juga koordinator program AS di Institut Kajian Pertahanan dan Strategis RSIS.
Tercantum dalam Pasal 5 Perjanjian Atlantik Utara, dokumen pendiri NATO, adalah prinsip pertahanan kolektif, di mana serangan terhadap satu anggota dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota.
Lihat Juga :