Nilai Dolar AS Melonjak, Yuan Kehilangan Kilaunya di Kalangan Eksportir China

Jum'at, 03 Mei 2024 - 14:27 WIB
loading...
A A A
Nilai yuan juga turun 2,1 persen terhadap dolar AS di awal tahun 2024, memberikan cukup alasan bagi eksportir China untuk memarkir modalnya dalam bentuk dolar dan menempatkan piutang dagang luar negerinya di Hong Kong.

Jika dibandingkan, perbedaan suku bunga yuan vs dolar juga terlihat sangat besar dan menjadi perhatian Beijing. Meski dolar memberi investor tingkat bunga sebesar 6 persen, yuan, di sisi lain, memiliki tingkat bunga rendah, yaitu 1,5 persen—cukup menjadi alasan bagi eksportir China untuk condong ke arah dolar AS.

Sebuah laporan oleh Bank of America (BOA) menunjukkan bahwa pengusaha China lebih memilih dolar daripada yuan untuk transaksi lintas batas. Di dalam negeri, para eksportir tetap mempertahankan investasi dolar mereka sejak bank sentral AS menaikkan suku bunganya di tahun 2022.

Laporan BOA menyoroti melonjaknya permintaan dolar di kalangan bankir China dan menunjukkan bagaimana terdapat surplus perdagangan barang sejak tahun 2020. Namun, konversi dari surplus perdagangan ke penjualan valuta asing telah melemah karena suku bunga dolar AS yang lebih menarik.

Melemahnya Permintaan Domestik


Meski eksportir China masih mengandalkan yuan untuk membeli bahan mentah bagi bisnis mereka masing-masing, namun keinginan mereka lebih pada berinvestasi pada deposito dolar AS ketika melakukan bisnis di luar negeri.

Emas juga merupakan pilihan investasi yang dapat diandalkan di China bagi para pedagang yang merasakan depresiasi nilai yuan. Meski suku bunga pinjaman lebih rendah, eksportir China masih menahan diri untuk tidak meminjam dari bank lokal karena pengembalian pinjaman yang tidak terlalu menguntungkan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Bagaimana Industri Farmasi...
Bagaimana Industri Farmasi Besar AS Raup Untung dari Pandemi dengan Perlakukan Warga Seperti Kelinci Percobaan?
Badan Intelijen AS Peringatkan...
Badan Intelijen AS Peringatkan Israel Bisa Sabotase Kesepakatan Perdamaian AS-Iran
Trump Klaim Tidak Ada...
Trump Klaim Tidak Ada Batasan pada Kekuasaannya
Otoritas Selat Teluk...
Otoritas Selat Teluk Persia Umumkan Kapal-kapal Diizinkan Melintasi Selat Hormuz
Langkah Mengejutkan,...
Langkah Mengejutkan, Partai Komunis Kuba Bersedia Buka Ekonomi Menuju Pasar Bebas
Swiss Ungkap Perundingan...
Swiss Ungkap Perundingan AS-Iran Tidak Jadi Digelar, Wapres Vance Batalkan Perjalanan
Rupiah Hari Ini Masih...
Rupiah Hari Ini Masih Terseok-seok ke Posisi Rp17.804 per Dolar AS
Serangan Rusia Tewaskan...
Serangan Rusia Tewaskan 9 Orang di Ukraina, Katedral Bersejarah Kyiv Terbakar
Harga Minyak Dunia Naik,...
Harga Minyak Dunia Naik, Aktivitas Pelayaran di Selat Hormuz Belum Pulih
Rekomendasi
Din Syamsuddin Sebut...
Din Syamsuddin Sebut Penahanan Roy Suryo dan Dokter Tifa Dipaksakan: Kezaliman yang Nyata
Garda Bangsa Dukung...
Garda Bangsa Dukung Penuh Program Pemerintahan Prabowo
Kantor Imigrasi Denpasar...
Kantor Imigrasi Denpasar dan 2 Lokasi Lainnya Digeledah KPK, Bukti Elektronik hingga Dokumen Disita
Berita Terkini
Tanpa Bantuan AS, Trump:...
Tanpa Bantuan AS, Trump: Israel Akan Hancur
PM Meloni Kecam Trump...
PM Meloni Kecam Trump soal Minta Foto: Italia Tidak Pernah Mengemis
Bagaimana Industri Farmasi...
Bagaimana Industri Farmasi Besar AS Raup Untung dari Pandemi dengan Perlakukan Warga Seperti Kelinci Percobaan?
Starmer Didesak Mundur...
Starmer Didesak Mundur dari Jabatan Perdana Menteri Inggris
PM Australia Ungkap...
PM Australia Ungkap Pengiriman BBM Baru, Ancaman di Selat Hormuz Masih Moderat
Pasukan Israel Gagal...
Pasukan Israel Gagal Ambil Tank Komandan yang Gugur di Lebanon Selatan
Infografis
Daftar Lengkap Skuad...
Daftar Lengkap Skuad Timnas Jerman di Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved