alexametrics

Persalinan Horor, Perawat Tarik Kepala Bayi Terlalu Keras hingga Putus

loading...
Persalinan Horor, Perawat Tarik Kepala Bayi Terlalu Keras hingga Putus
Ilustrasi operasi oleh tim medis rumah sakit. Foto/REUTERS
A+ A-
NEW DELHI - Insiden persalinan yang horor terjadi di sebuah rumah sakit di India. Kepala bayi yang tengah dilahirkan seorang pasien terputus setelah ditarik terlalu keras oleh seorang perawat.

Media setempat melaporkan, perawat tersebut kemudian menyembunyikan tubuh bayi dan mengirim ibunya ke rumah sakit lain. Sang perawat, menurut laporan tersebut, berdalih ada masalah dengan pasien dan pasien tersebut membutuhkan perawatan lebih lanjut.

Perawat itu membiarkan kepala bayi yang telah terputus terperangkap di dalam rahim pasien.



Mengutip The Hindustan Times, sang ayah bayi mengatakan staf di rumah sakit pemerintah di Ramgarh tidak memberitahunya tentang persalinan yang mengerikan itu. Menurutnya, kejadian itu berlangsung pada 6 Januari 2019.

"Perawat menarik janin dengan sangat keras ketika berusaha untuk melahirkan bayi sehingga terputus menjadi dua bagian," tulis surat kabar India itu, yang dikutip news.com.au, Senin (14/1/2019).

Perawat dan seorang rekannya menyimpan tubuh bagian bawah janin di kamar mayat rumah sakit dan meminta keluarga untuk membawa ibu bayi ke rumah sakit di Jaisalmer.

Laporan lain dari The Times mengatakan ibu bayi itu dikirim ke Rumah Sakit Ummed di Jodhpur. Petugas medis telah melakukan operasi untuk menghilangkan apa yang awalnya mereka pikir sebagai plasenta. Tetapi dokter kemudian menemukan kepala janin masih di dalam rahim.

Petugas medis Rumah Sakit Ummed akhirnya memberi tahu kerabat pasien wanita itu tentang penemuan mengerikan tersebut.

Sang ibu bayi, yang diidentifikasi bernama Dikhsha Kanwar, sekarang berjuang untuk hidup di rumah sakit di Jodhpur tersebut.
halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak