Perusahaan Mesir Raup Rp32 Miliar per Hari dari Warga Palestina yang Tinggalkan Gaza

Kamis, 02 Mei 2024 - 19:01 WIB
loading...
A A A
MEE telah berulang kali meminta komentar dari perusahaan induk Hala, Organi Group, dan pemerintah Mesir, namun belum menerima tanggapan hingga berita ini diterbitkan.

Perbatasan Rafah dengan Mesir selama ini menjadi satu-satunya pintu gerbang bagi warga Palestina yang melarikan diri dari perang Israel di Gaza.

Israel telah menutup semua penyeberangan darat bagi pelancong Palestina sejak serangan pimpinan Hamas terhadap komunitas Israel selatan pada 7 Oktober.

Secara teori, pemerintah Mesir mengontrol penyeberangan. Namun Israel, yang merupakan pendudukan Jalur Gaza berdasarkan hukum internasional, memberlakukan pembatasan ketat terhadap pergerakan orang dan barang melalui Rafah.

Sementara itu, perusahaan-perusahaan Organi, seperti Hala, telah mengumpulkan keuntungan besar dengan membebankan biaya ribuan dolar kepada orang dan truk untuk memasuki dan keluar dari kawasan tersebut.

Pada bulan Januari, badan amal internasional mengatakan kepada MEE bahwa mereka terpaksa membayar USD5.000 untuk satu truk dalam bentuk “biaya manajemen” kepada satu perusahaan yang berafiliasi dengan Sons of Sinai, perusahaan lain yang dimiliki Organi, yang mengontrol lalu lintas truk barang komersial dan bantuan melalui Rafah.

Badan amal tersebut menggambarkan pembayaran tersebut sebagai suap, dan menuduh negara Mesir mengambil keuntungan dari bantuan kemanusiaan.

Kelompok hak asasi manusia mengecam pembatasan tersebut karena memperburuk penderitaan warga Palestina di Gaza.

“Pembatasan Mesir terhadap kebebasan bergerak melalui Rafah, yang diberlakukan selama bertahun-tahun, telah memungkinkan perilaku bisnis predator oleh banyak aktor yang mengenakan biaya pemerasan pada orang-orang yang ingin melakukan perjalanan,” ujar Amr Magdy, peneliti senior di Human Rights Watch, kepada MEE.

“Pihak berwenang Mesir harus menyelidiki praktik-praktik yang dilakukan Hala Company dan memastikan orang-orang dapat melakukan perjalanan melalui sistem yang transparan dan menghormati hak,” tegas Magdy.

Seorang warga Palestina yang meninggalkan Gaza menuju Mesir bersama keluarganya menggambarkan sistem tersebut sebagai “eksploitasi jahat”.

Mereka mengatakan kepada MEE bahwa keluarga tersebut harus membayar puluhan ribu dolar kepada Hala untuk meninggalkan Gaza beberapa pekan lalu.

Jumlah tersebut termasuk tambahan USD1.000 per orang untuk layanan jalur cepat, yang seharusnya memastikan transfer mereka dalam waktu tiga hari setelah mendaftar ke kantor pusat Hala di Kota Nasr Kairo.

Namun, layanan tersebut tidak pernah diberikan dan keluarga tersebut malah harus menunggu waktu proses normal yaitu 25 hari untuk keluar dari Gaza. Warga Palestina mengatakan mereka merasa "ditipu" oleh Hala.

Sebelum keluar dari Gaza, keluarga tersebut dua kali mengungsi akibat pertempuran dan tinggal di Rafah. Rumah mereka dihancurkan oleh pemboman Israel.

Seorang kerabat yang tinggal di Amerika Serikat (AS) membantu mereka mengumpulkan biaya melalui kampanye crowdfunding online.

“Ini menyedihkan. Kami seharusnya menggunakan uang ini untuk membangun kembali rumah kami,” ujar warga Palestina tersebut kepada MEE.
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Juru Bicara Hamas Lolos...
Juru Bicara Hamas Lolos dari Serangan Israel, Warga Sipil Tewas Dirudal Zionis di Kota Gaza
Abbas Tetapkan 28 November...
Abbas Tetapkan 28 November untuk Pemilu Legislatif Palestina Pertama dalam Lebih dari 20 Tahun
Setelah Turki, Giliran...
Setelah Turki, Giliran Mesir Tolak Masuk Kapal Pesiar Pembawa 2.000 Penumpang LGBTQ
Delegasi Hamas Kembali...
Delegasi Hamas Kembali ke Kairo, Pembicaraan Fokus Fase Kedua Gencatan Senjata
Apa itu Administrasi...
Apa itu Administrasi Gaza yang Baru setelah Pemerintahan Hamas Bubar?
Hamas Bubarkan Pemerintahannya...
Hamas Bubarkan Pemerintahannya di Gaza, Bagaimana Selanjutnya?
Adara Ajak Masyarakat...
Adara Ajak Masyarakat Berkarya untuk Al-Aqsa dan Palestina melalui Art & Craft for Palestine
Iran Ancam Beri Balasan...
Iran Ancam Beri Balasan Atas Serangan AS, IRGC Klaim Tembak Jatuh Drone MQ-9
Tragis! Ibu dan 4 Putrinya...
Tragis! Ibu dan 4 Putrinya Tewas dalam Kebakaran Apartemen, Loncat dari Lantai 7
Rekomendasi
Pemerintah Bakal Bangun...
Pemerintah Bakal Bangun Pusat Finansial di Bali, PP Ditargetkan Rampung Agustus
Raih Pengakuan Riset...
Raih Pengakuan Riset STEM, 2 Peneliti SGU Masuk Kandidat Ilmuwan Muda
Digelar 5 Hari, Ini...
Digelar 5 Hari, Ini Rangkaian Kegiatan MPLS 2026 untuk Murid TK
Berita Terkini
Bagaimana Rencana Baru...
Bagaimana Rencana Baru Iran Bunuh Trump Terungkap?
AS dan Iran Akan Kembali...
AS dan Iran Akan Kembali ke Meja Perundingan, tapi Trump punya 1 Syarat, Apa Itu?
Iran Ungkap Kelompok...
Iran Ungkap Kelompok Garis Keras yang Sesat Tembaki Kapal untuk Rusak Negosiasi dengan AS
Trump Ungkap 1.000 Rudal...
Trump Ungkap 1.000 Rudal Diarahkan ke Iran Jika Dia Dibunuh
Rusia Terbuka Jika Turki...
Rusia Terbuka Jika Turki Jual Sistem Pertahanan Udara S-400 ke UEA
Iran Tegaskan Siap untuk...
Iran Tegaskan Siap untuk Pertahanan Skala Penuh, Trump Sebut Gencatan Senjata Berakhir
Infografis
20 Negara yang Pernah...
20 Negara yang Pernah Dijajah Alexander Agung, dari Pakistan hingga Palestina
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved