Demonstran Pro-Palestina Menang, Universitas Brown Setuju Voting Divestasi Israel

Rabu, 01 Mei 2024 - 12:07 WIB
loading...
Demonstran Pro-Palestina...
Demonstran pro-Palestina menuntut divestasi Israel di Universitas Brown, AS. Foto/REUTERS
A A A
WASHINGTON - Dewan perusahaan Universitas Brown akan menggelar voting untuk proposal divestasi dari kepentingan Israel.

Universitas tersebut mengumumkan langkah terbaru itu pada Selasa (30/4/2024), setelah unjuk rasa pro-Palestina selama beberapa pekan.

Ini menjadi kemenangan besar bagi mahasiswa pengunjuk rasa yang telah mengambil alih puluhan kampus perguruan tinggi di penjuru AS.

“Para pengunjuk rasa di Brown akan merobohkan perkemahan mereka di pusat kampus dan menghentikan demonstrasi hingga akhir tahun ajaran sebagai bagian dari kesepakatan yang dicapai pada Selasa,” ungkap Rektor Universitas Christina Paxson.

“Kehancuran dan korban jiwa di Timur Tengah telah mendorong banyak orang menyerukan perubahan yang berarti, sekaligus mengangkat isu-isu nyata tentang cara terbaik untuk mencapai hal ini,” tulis Paxson.

Dia menjelaskan, “Brown selalu bangga dapat menyelesaikan perbedaan melalui dialog, debat, dan mendengarkan satu sama lain.”

“Saya tidak bisa memaafkan perkemahan yang melanggar kebijakan Universitas,” papar dia. “Saya juga prihatin dengan meningkatnya retorika yang menghasut yang kita lihat baru-baru ini, dan meningkatnya ketegangan di kampus-kampus di seluruh negeri. Saya menghargai upaya tulus dari mahasiswa kami untuk mengambil langkah-langkah guna mencegah eskalasi lebih lanjut.”

Baca juga: Netanyahu Ketakutan Ditangkap ICC, Minta Tolong Biden Gunakan Pengaruh AS

Brown, anggota Ivy League, adalah sekolah paling bergengsi yang mencapai kesepakatan dengan pengunjuk rasa pro-Palestina sejak perkemahan yang memprotes perang genosida Israel muncul di kampus-kampus nasional pekan lalu.

Para pengunjuk rasa Brown secara khusus menuntut agar universitas tersebut melakukan divestasi dari kepentingan Israel dan telah melobi pemerintahan Presiden AS Joe Biden untuk menghentikan bantuan militer ke Israel dan mendorong gencatan senjata dalam perang tersebut, dengan alasan banyaknya korban sipil di Gaza.

Paxson menulis lima aktivis mahasiswa akan menyampaikan argumen mereka mengenai divestasi kepada dewan universitas bulan depan, dan dewan akan melakukan pemungutan suara pada proposal tersebut pada bulan Oktober.

Dia menambahkan, pengunjuk rasa mahasiswa tidak akan diskors atau diusir karena tindakan mereka.

Para pemimpin protes merayakan perjanjian itu sebagai kemenangan dalam pernyataan pada hari Selasa.

“Administrasi Brown telah menyetujui permintaan mahasiswa agar Korporasi menggelar voting soal divestasi setelah bertahun-tahun tekanan tak kenal lelah dari organisasi mahasiswa, 61 penangkapan mahasiswa, mogok makan selama delapan hari, dan tujuh hari berkemah,” ungkap Koalisi Divestasi Brown di media sosial.

“Kami mendukung para pengunjuk rasa mahasiswa saat mereka menghadapi penindasan di universitas dan kebrutalan polisi, dan rakyat Palestina saat mereka terus melawan pendudukan Israel,” ungkap kelompok tersebut. “Kemenangan ini bukanlah akhir dari pekerjaan kami, melainkan bahan bakar untuk itu.”

Ratusan mahasiswa telah ditangkap di perguruan tinggi di seluruh negeri karena aksi protes, beberapa di antaranya telah berubah menjadi kekerasan antara mahasiswa, pengunjuk rasa tandingan, dan polisi.

Protes meningkat di Universitas Columbia, perkemahan skala besar pertama yang menarik perhatian politik nasional, dengan para mahasiswa pindah ke dalam ruangan untuk mengambil alih gedung administrasi.

Para pemimpin universitas telah mempertimbangkan tuntutan pidana karena perdebatan mengenai kebebasan berekspresi melumpuhkan kampus-kampus.
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Lebih dari 50.000 Orang...
Lebih dari 50.000 Orang Dilaporkan Hilang akibat Gempa Venezuela
AS Ingin Pindahkan Pangkalan-Pangkalan...
AS Ingin Pindahkan Pangkalan-Pangkalan di Teluk yang Rusak Akibat Serangan Iran ke Israel
Lebanon dan Israel Tandatangani...
Lebanon dan Israel Tandatangani Kesepakatan Kerangka Kerja untuk Akhiri Perang
India Tuntut Pertanggungjawaban...
India Tuntut Pertanggungjawaban atas Para Pelaku Pemboman Sekolah
AS Kembali Serang Iran,...
AS Kembali Serang Iran, IRGC Balas Gempur Pasukan Amerika
Israel Melarang Seruan...
Israel Melarang Seruan Azan di Masjid Ibrahimi Hebron, Sudah Hari Kelima
10 Negara dengan Biaya...
10 Negara dengan Biaya Hidup Termahal di Dunia pada 2026, Ada Tetangga Indonesia
PM Inggris Keir Starmer...
PM Inggris Keir Starmer Umumkan Pengunduran Diri
2 Gempa Dahsyat M7,2-7,5...
2 Gempa Dahsyat M7,2-7,5 Guncang Venezuela, 32 Orang Tewas 700 Luka
Rekomendasi
Bukan Gelora E, Bukan...
Bukan Gelora E, Bukan Seres: E5 Plus Jadi Taruhan Terbesar DFSK Sepanjang Sejarah
BPS Canangkan Sensus...
BPS Canangkan Sensus Ekonomi 2026 di Kalimantan Timur: Perkuat Kompas Pembangunan Daerah
Kemendagri dan DPR Sinergi...
Kemendagri dan DPR Sinergi Pemberdayaan Ormas untuk Percepat Kesejahteraan Masyarakat NTB
Berita Terkini
UEA Keluarkan Alarm...
UEA Keluarkan Alarm Rudal Iran, Beberapa Detik Kemudian Dicabut, Pemerintah Minta Maaf
Pesawat Tabrak Gedung...
Pesawat Tabrak Gedung Tertinggi di China, 1 Jam Setelahnya Tampak Normal
Jet Tempur China dan...
Jet Tempur China dan Rusia Kompak Masuk ke Zona Pertahanan Udara Korsel
Balas Serangan AS, Iran...
Balas Serangan AS, Iran Gempur Bahrain
Korut Masih Andalkan...
Korut Masih Andalkan Senjata Besar, Korsel Beralih ke 500.000 Prajurit Drone, Siapa Lebih Unggul?
Ukraina Berusaha Rebut...
Ukraina Berusaha Rebut Kesempatan Pertama untuk Menang, tapi Kenapa Selalu Gagal?
Infografis
20 Universitas Terbaik...
20 Universitas Terbaik di Indonesia Versi QS WUR 2027
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved