5 Alasan Krisis Kelahiran di Eropa Menjadikan Benua Itu Menuju Abad Kegelapan

Kamis, 04 April 2024 - 17:17 WIB
loading...
A A A
Namun, gagasan mengenai kebijakan “imigrasi terbuka” merupakan kutukan bagi banyak negara demokrasi Barat saat ini.

Di Inggris, misalnya, Perdana Menteri Inggris Rishi Sunak telah menjadikan pembatasan imigrasi sebagai prioritas utama ketika pemerintahan Partai Konservatifnya menunggu kebijakan pengiriman pencari suaka ke Rwanda yang telah lama ditunggu-tunggu untuk ditandatangani menjadi undang-undang.

Dan di Prancis, Presiden Emmanuel Macron berupaya menerapkan rancangan undang-undang imigrasi “garis keras” setelah disahkan oleh parlemen Prancis pada bulan Desember tahun lalu. Namun, pada akhir bulan Januari, mahkamah konstitusi negara tersebut, yang memeriksa undang-undang baru untuk memastikan undang-undang tersebut sesuai dengan prinsip konstitusi Perancis, membatalkan sebagian besar rancangan undang-undang tersebut, termasuk usulan untuk membatasi akses migran terhadap tunjangan kesejahteraan, sehingga memicu Macron akan mengumumkan versi RUU yang lebih sederhana.

Meskipun demikian, banyak pengamat berpendapat bahwa undang-undang baru tersebut masih mencerminkan aturan imigrasi Perancis yang lebih ketat.

5. Kelompok Sayap Kanan Paling Kritis

Para pendukung kelompok sayap kanan telah mengkhawatirkan gagasan penurunan angka kelahiran jauh sebelum The Lancet menerbitkan penelitiannya.

Memang benar, teori konspirasi “Penggantian Besar” – yang pertama kali dipopulerkan oleh filsuf sayap kanan Perancis Renaud Camus dalam bukunya tahun 2011, Le Grand Remplacement – mempromosikan gagasan yang salah dan rasis bahwa penurunan angka kelahiran di masyarakat Barat adalah bagian dari “plot” yang dapat menyebabkan sebagian besar orang kulit putih “digantikan” oleh orang-orang dari ras lain.

Perdana Menteri Hongaria yang berhaluan sayap kanan dan anti-imigrasi, Viktor Orban, juga dituduh memanfaatkan teori “Penggantian Besar” dalam upayanya mengadvokasi peningkatan angka kelahiran di Eropa, termasuk di negaranya sendiri.

Pada tahun 2019, saat ia mengumumkan serangkaian kebijakan ramah keluarga di Hongaria seperti subsidi perumahan dalam upaya meningkatkan angka kelahiran, Orban menolak gagasan bahwa Eropa abad ke-21 “dihuni oleh orang non-Eropa”.

“Jika Eropa tidak akan dihuni oleh orang-orang Eropa di masa depan dan kita menganggap hal ini sebagai hal yang wajar, maka kita berbicara tentang pertukaran populasi, untuk menggantikan populasi orang Eropa dengan orang lain,” katanya.

(ahm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Saat Banyak Orang Bermigrasi...
Saat Banyak Orang Bermigrasi ke Berlin, tapi 288.000 Warga Jerman Justru Pilih Tinggalkan Negaranya
Tren Tak Mau Punya Anak...
Tren Tak Mau Punya Anak Melonjak di Jepang, Humanisasi Bayi Berbulu Berkembang Pesat
Pendiri Telegram: Uni...
Pendiri Telegram: Uni Eropa Berubah Menjadi Republik Pisang
Ini Reaksi 9 Pemimpin...
Ini Reaksi 9 Pemimpin Negara NATO setelah Menerima Hadiah Pistol dari Erdogan
AS Makin Kerdil, Pakar...
AS Makin Kerdil, Pakar Ini Sebut Eropa Kini Jadi Pemimpin Utama NATO
Turki Jadi Bagian Penting...
Turki Jadi Bagian Penting Arsitektur Keamanan NATO di Masa Depan
Hari Anak Nasional 2026:...
Hari Anak Nasional 2026: Jangan Paksa Anak Sempurna, Beri Kesempatan Bereksplorasi Sejak Dini
AS Resmi Jalin Kerja...
AS Resmi Jalin Kerja Sama Nuklir dengan Arab Saudi di Tengah Konflik Iran
Lagi, Houthi Serang...
Lagi, Houthi Serang Kapal Tanker Saudi di Laut Merah
Rekomendasi
345 Karateka Ambil Bagian...
345 Karateka Ambil Bagian di Kejuaraan Porkot Jakarta Pusat 2026, Ajang Seleksi Bibit Atlet Porprov
PGE Raih Fasilitas Pendanaan...
PGE Raih Fasilitas Pendanaan USD75 Juta Percepat Proyek Panas Bumi
Kabar Duka, Juru Bicara...
Kabar Duka, Juru Bicara IKN Troy Harold Yohanes Pantouw Meninggal Dunia
Berita Terkini
Siapa Yu Deng dan Hong...
Siapa Yu Deng dan Hong Wang? Matematikawan China yang Memecahkan Masalah Paling Sulit di Dunia
Selama 30 Tahun, Kakek...
Selama 30 Tahun, Kakek di Singapura Ini Perkosa 11 Gadis, Termasuk Anak, Cucu, hingga Keponakan
Ini Perceraian Termahal...
Ini Perceraian Termahal Abad Ini! Nilainya Capai Rp11 Triliun
Houthi dan Arab Saudi...
Houthi dan Arab Saudi Saling Serang, Ini 5 Pemicunya
AS Tak Umumkan Serangan...
AS Tak Umumkan Serangan Udara ke Iran, Apakah Dikaitkan dengan Angka Sial?
Dipaksa Akui Israel...
Dipaksa Akui Israel untuk Kesepakatan Nuklir, Akankah Saudi Merapat ke China dan Pakistan?
Infografis
5 Pesepak Bola Dunia...
5 Pesepak Bola Dunia yang Tetap Puasa di Tengah Kompetisi Padat Ramadan 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved