PM Palestina Shtayyeh Mengundurkan Diri
Senin, 26 Februari 2024 - 16:43 WIB
loading...
PM Palestina Mohammad Shtayyeh mengundurkan diri untuk mencapai konsensus yang lebih luas. Foto/Reuters
A
A
A
GAZA - Perdana Menteri (PM) Palestina Mohammad Shtayyeh mengatakan bahwa ia mengundurkan diri pada Senin (26/2/2024). Itu untuk memungkinkan terbentuknya konsensus luas di antara warga Palestina mengenai pengaturan politik menyusul perang Israel melawan kelompok Islam Hamas di Gaza.
Langkah ini dilakukan di tengah meningkatnya tekanan AS terhadap Presiden Mahmoud Abbas untuk menggoyahkan Otoritas Palestina seiring dengan semakin intensifnya upaya internasional untuk menghentikan pertempuran di Gaza dan mulai menyusun struktur politik untuk memerintah wilayah tersebut setelah perang.
Pengunduran dirinya masih harus diterima oleh Abbas, yang mungkin akan memintanya untuk tetap menjabat sebagai caretaker sampai pengganti permanen ditunjuk.
Dalam sebuah pernyataan kepada kabinet, Shtayyeh, seorang akademisi ekonom yang mulai menjabat pada tahun 2019, mengatakan tahap selanjutnya perlu mempertimbangkan kenyataan yang muncul di Gaza, yang telah hancur akibat pertempuran sengit selama hampir lima bulan.
Dia mengatakan tahap selanjutnya akan membutuhkan pengaturan pemerintahan dan politik baru yang mempertimbangkan realitas yang muncul di Jalur Gaza. "Perlunya perundingan persatuan nasional, dan kebutuhan mendesak akan konsensus antar-Palestina," jelas Shtayyeh.
Langkah ini dilakukan di tengah meningkatnya tekanan AS terhadap Presiden Mahmoud Abbas untuk menggoyahkan Otoritas Palestina seiring dengan semakin intensifnya upaya internasional untuk menghentikan pertempuran di Gaza dan mulai menyusun struktur politik untuk memerintah wilayah tersebut setelah perang.
Pengunduran dirinya masih harus diterima oleh Abbas, yang mungkin akan memintanya untuk tetap menjabat sebagai caretaker sampai pengganti permanen ditunjuk.
Dalam sebuah pernyataan kepada kabinet, Shtayyeh, seorang akademisi ekonom yang mulai menjabat pada tahun 2019, mengatakan tahap selanjutnya perlu mempertimbangkan kenyataan yang muncul di Gaza, yang telah hancur akibat pertempuran sengit selama hampir lima bulan.
Dia mengatakan tahap selanjutnya akan membutuhkan pengaturan pemerintahan dan politik baru yang mempertimbangkan realitas yang muncul di Jalur Gaza. "Perlunya perundingan persatuan nasional, dan kebutuhan mendesak akan konsensus antar-Palestina," jelas Shtayyeh.
Lihat Juga :