Pria AS Diduga Penggal Ayahnya dan Menyiarkannya ke YouTube, Hina Biden dan LGBT

Kamis, 01 Februari 2024 - 13:04 WIB
loading...
Pria AS Diduga Penggal...
Justin Mohn, pria AS yang diduga memenggal kepala ayahnya dan menyiarkannya ke YouTube. Dalam siarannya, dia menghina Presiden Joe Biden dan komunitas LGBT. Foto/Facebook/Todd France
A A A
WASHINGTON - Seorang pria berusia 32 tahun di Amerika Serikat (AS) diduga memenggal kepala ayahnya dan kemudian menyiarkannya ke YouTube. Dalam siarannya, dia menghina Presiden Joe Biden dan komunitas LGBT dengan kata-kata kasar.

Pria bernama Justin Mohn tersebut telah ditangkap polisi pada hari Selasa waktu Amerika.

Menurut laporan CNN, Kamis (1/2/2024), video yang menunjukkan pria tersebut memegang potongan kepala ayahnya telah beredar berjam-jam di YouTube sebelum akhirnya dihapus.

Mohn diduga memenggal kepala ayahnya, Michael Mohn, yang berusia 68 tahun di rumah mereka di Pennsylvania.

Mohn, yang ditahan tanpa jaminan, didakwa melakukan pembunuhan tingkat pertama, penyalahgunaan jasad, dan memiliki alat kejahatan dengan sengaja.

Baca Juga: Bisa Kalah, Pilot AS Ungkap Jet Tempur Siluman F-22 Akan Hindari Duel dengan Su-35 Rusia

Pasukan polisi datang ke lokasi kejadian setelah menerima telepon dari Ibu Mohn, Denice, yang memberitahukan bahwa suaminya sudah meninggal.

Denice mengatakan bahwa dia terakhir berada di rumah pada pukul 14.00 siang dan ketika dia pulang, dia melihat putranya dan Toyota Corolla 2009 milik suaminya tidak ditemukan.

"Telepon ke petugas darurat datang dari istri korban. Ketika petugas tiba, mereka menemukan pria yang meninggal di kamar mandi," kata kantor kejaksaan setempat dalam sebuah pernyataan.

“Putra korban yang sudah dewasa tidak ada saat polisi tiba dan meninggalkan lokasi dengan kendaraan ayahnya,” lanjut pernyataan itu.

Polisi menemukan parang dan pisau dapur berukuran besar di dalam bak mandi. Mereka juga menemukan kepala Michael Mohn di dalam kantong plastik yang ada di dalam panci di kamar tidur lantai satu di sebelah kamar mandi.

Lebih lanjut, petugas menemukan sarung tangan karet berlumruan darah di kamar tidur terpisah di lantai pertama dan di tempat sampah di samping meja.

Dalam pernyataan tertulisnya, polisi mengutip video yang di-posting Mohn di YouTube. Dalam klip tersebut, Mohn terlihat membaca pernyataan tertulis dan pada satu titik menunjukkan kepala yang tampak berlumuran darah di dalam kantong plastik bening.

Dia kemudian mengatakan bahwa ayahnya, yang merupakan pegawai federal selama lebih dari 20 tahun, adalah pengkhianat negara.

“Amerika sedang membusuk dari dalam ke luar, massa yang terbangun mengamuk di kota-kota yang dulunya makmur,” katanya dalam video yang sekarang sudah dihapus.

Menurut laporan The Independent, Mohn selanjutnya menghina Presiden AS Joe Biden, Gerakan Black Lives Matter, dan komunitas LGBTQ (lesbian, gay, biseksual, transgender, dan queer) dalam video tersebut.

Dia juga mendesak warga Amerika untuk menyerang pejabat federal, jurnalis, dan penegak hukum federal.

Pihak YouTube mengatakan mereka memiliki kebijakan ketat yang melarang kekerasan grafis dan ekstremisme kekerasan.

"Video tersebut dihapus karena melanggar kebijakan kekerasan grafis kami dan saluran Justin Mohn dihentikan sejalan dengan kebijakan ekstremisme kekerasan kami. Tim kami terus melakukan pelacakan untuk menghapus unggahan ulang video tersebut," kata pihak YouTube.

Mohn ditemukan beberapa jam kemudian di Fort Indiantown Gap, Pennsylvania—lebih dari 100 mil dari rumahnya—dan ditangkap polisi.

“Dia bersenjata saat itu tetapi tidak melawan ketika ditangkap,” kata polisi.

Dia didakwa Rabu pagi melalui sambungan video. Seorang hakim memerintahkan dia ditahan tanpa jaminan.

Sidang berikutnya dijadwalkan pada 8 Februari 2024.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Menhan Negara NATO Salahkan...
Menhan Negara NATO Salahkan Trump atas Penutupan Selat Hormuz
AS Kerahkan Sistem Rudal...
AS Kerahkan Sistem Rudal Canggih Typhon ke Jepang, Dapat Menargetkan China
Gunakan Mode Autopilot,...
Gunakan Mode Autopilot, Mobil Tesla Ini Malah Tabrak Rumah dan Tewaskan Penghuninya
Mengejutkan, 92% Warga...
Mengejutkan, 92% Warga Israel Yakin Iran Telah Menang Perang
Perundingan Iran-AS...
Perundingan Iran-AS Hasilkan 4 Kesepakatan Utama, Negosiator Teheran Sempat Walkout
Jenderal Iran Peringatkan...
Jenderal Iran Peringatkan Pasukan Israel: Tinggalkan Lebanon atau Diusir Secara Memalukan!
Janji Manis Investasi...
Janji Manis Investasi Rp5.323 Triliun di Balik Kesepakatan Damai AS-Iran
MoU Ditandatangani,...
MoU Ditandatangani, Iran Nyatakan Kemenangan Atas AS
Nah, Pentagon Minta...
Nah, Pentagon Minta Anggaran Rp1.426 Triliun untuk Tutupi Biaya Perang Lawan Iran
Rekomendasi
UU Polri Baru Dinilai...
UU Polri Baru Dinilai Perkuat Transformasi Polri dan Dukung Asta Cita
Komnas HAM Diminta Awasi...
Komnas HAM Diminta Awasi Dugaan Kriminalisasi dan Penahanan Sulaiman
Doa Anak Yatim Diyakini...
Doa Anak Yatim Diyakini Mustajab, Benarkah?
Berita Terkini
6 PM dalam 10 Tahun...
6 PM dalam 10 Tahun 44 Hari, Seperti Apa Politik Antrean di Inggris?
Jepang Naikkan Biaya...
Jepang Naikkan Biaya Visa sebanyak Lima Kali Lipat, Apa Pemicunya?
Tuntut Menteri Pendidikan...
Tuntut Menteri Pendidikan Mundur, Pendukung Partai Kecoa Berkemah di Jalanan
4 Pemicu PM Inggris...
4 Pemicu PM Inggris Keir Starmer Mundur, dari Pemberontakan Internal hingga Terlalu Banyak Janji
Iran dan AS Berdamai,...
Iran dan AS Berdamai, Upacara Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei Digelar selama 6 Hari
PM Inggris Keir Starmer...
PM Inggris Keir Starmer Mundur, Krisis Politik Berlanjut
Infografis
5 Alasan Perdamaian...
5 Alasan Perdamaian Amerika Serikat dan Iran Sulit Terwujud
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved