Israel Disebut Bakal Biarkan Panglima Militer Hamas Mohammed Deif Pergi ke Arab Saudi
Kamis, 01 Februari 2024 - 07:33 WIB
loading...
A
A
A
Deif, panglima militer sayap militer Hamas Brigade al-Qassam, menjadi salah satu tokoh yang paling diburu militer dan intelijen Israel setelah serangan 7 Oktober.
Menurut laporan tersebut, beberapa pejabat Israel melihat rencana itu sebagai cara untuk membantu membujuk Hamas agar membebaskan para sandera yang tersisa di Gaza, meletakkan senjata dan menyerahkan pemerintahan wilayah kantong Palestina kepada kepemimpinan baru.
Perjanjian damai seperti itu mungkin akan mempercepat kesepakatan yang ditengahi AS bagi Arab Saudi untuk menjalin hubungan diplomatik dengan Israel.
John Hannah, mantan staf Gedung Putih di pemerintahan Presiden George W Bush, mengatakan kepada Semafor bahwa mengakhiri perang dengan cepat akan membuka pintu bagi normalisasi hubungan antara Riyadh dan Tel Aviv, sehingga melawan pengaruh Iran di wilayah tersebut.
Dia menyebut kesepakatan Israel-Saudi sebagai “tujuan utama AS” dan mengatakan dia telah membahas rencana pengasingan Hamas dengan pejabat senior Washington dan Israel dalam beberapa pekan terakhir.
Strategi membiarkan para pemimpin Hamas mengasingkan diri mungkin mirip dengan inisiatif tahun 1982 di mana Organisasi Pembebasan Palestina, yang dipimpin oleh Yasser Arafat, memindahkan markas besarnya ke Tunisia setelah dikepung oleh pasukan Israel di Lebanon.
Namun, bahkan jika ada negara yang bersedia menyediakan tempat berlindung yang aman, laporan Semafor mengatakan kecil kemungkinannya bahwa para pemimpin Hamas akan menerima tawaran tersebut.
Menurut laporan tersebut, beberapa pejabat Israel melihat rencana itu sebagai cara untuk membantu membujuk Hamas agar membebaskan para sandera yang tersisa di Gaza, meletakkan senjata dan menyerahkan pemerintahan wilayah kantong Palestina kepada kepemimpinan baru.
Perjanjian damai seperti itu mungkin akan mempercepat kesepakatan yang ditengahi AS bagi Arab Saudi untuk menjalin hubungan diplomatik dengan Israel.
John Hannah, mantan staf Gedung Putih di pemerintahan Presiden George W Bush, mengatakan kepada Semafor bahwa mengakhiri perang dengan cepat akan membuka pintu bagi normalisasi hubungan antara Riyadh dan Tel Aviv, sehingga melawan pengaruh Iran di wilayah tersebut.
Dia menyebut kesepakatan Israel-Saudi sebagai “tujuan utama AS” dan mengatakan dia telah membahas rencana pengasingan Hamas dengan pejabat senior Washington dan Israel dalam beberapa pekan terakhir.
Strategi membiarkan para pemimpin Hamas mengasingkan diri mungkin mirip dengan inisiatif tahun 1982 di mana Organisasi Pembebasan Palestina, yang dipimpin oleh Yasser Arafat, memindahkan markas besarnya ke Tunisia setelah dikepung oleh pasukan Israel di Lebanon.
Namun, bahkan jika ada negara yang bersedia menyediakan tempat berlindung yang aman, laporan Semafor mengatakan kecil kemungkinannya bahwa para pemimpin Hamas akan menerima tawaran tersebut.
Lihat Juga :