Operasi AS di Laut Merah, Gelombang Persatuan atau Kebingungan?

Minggu, 24 Desember 2023 - 09:30 WIB
loading...
Operasi AS di Laut Merah,...
Helikopter Yaman akan menurunkan pasukan untuk menyita kapal kargo di Laut Merah, 19 November 2023. Foto/AP/houthi media center
A A A
WASHINGTON - Amerika Serikat (AS) menyebut Operation Prosperity Guardian (Operasi Penjaga Kemakmuran) sebagai koalisi angkatan laut multinasional yang bertujuan melindungi lalu lintas maritim melalui Laut Merah ke Israel dari serangan angkatan bersenjata Yaman.

Pentagon mengklaim lebih dari 20 negara lain terlibat, namun sifat peran mereka masih dipertanyakan.

Sekutu-sekutu AS menjauhkan diri dari serangan angkatan laut pimpinan AS ke Laut Merah sebagai respons terhadap blokade maritim Yaman terhadap Israel.

Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin mengumumkan koalisi tersebut selama perjalanannya ke Timur Tengah.

Dia mengklaim negara-negara termasuk Inggris, Bahrain, Kanada, Prancis, Italia, Belanda, Norwegia, Seychelles, dan Spanyol telah bergabung.

Yunani dan Australia kemudian ditambahkan ke dalam daftar tersebut, sehingga totalnya menjadi 20 negara.

Namun pimpinan Pentagon menambahkan delapan negara lagi memilih untuk tidak mengungkapkan partisipasi mereka.

Prancis menyatakan dukungannya untuk menjamin kebebasan navigasi di Laut Merah tetapi mengklarifikasi kapal-kapalnya akan tetap berada di bawah komando Prancis, dan tidak menyebutkan secara spesifik apakah pasukan angkatan laut tambahan akan dikerahkan.

Baca juga: AS Terjebak di Laut Merah, Harus Siap Hadapi Penutupan Selat Gibraltar

Italia mengkonfirmasi pengiriman kapal fregat angkatan laut Virginio Fasan untuk melindungi kepentingan nasional di Laut Merah.

Mereka menekankan bahwa itu adalah bagian dari operasi yang ada dan bukan Operasi Penjaga Kemakmuran.

Spanyol menyatakan partisipasinya dalam misi yang dipimpin NATO atau operasi yang dikoordinasikan oleh Uni Eropa (UE), dan mengesampingkan keterlibatan sepihak dalam operasi Laut Merah.

Inggris menyerahkan kapal perusak HMS Diamond ke Operation Prosperity Guardian, yang beroperasi di dalam Pasukan Maritim Gabungan (CMF) pimpinan AS.

Yunani mengkonfirmasi pengerahan salah satu kapal fregat angkatan lautnya ke Laut Merah.

Sekutu NATO lainnya bahkan tidak mengirimkan kapal. Partisipasi Norwegia dibatasi hingga 10 perwira angkatan laut, yang diperbantukan di markas besar CMF di Bahrain.

Belanda mengirimkan dua petugas staf dan Denmark hanya satu orang.

Koalisi angkatan laut yang ada di kawasan ini termasuk Operasi Atalanta, yang memerangi pembajakan di lepas pantai Tanduk Afrika, dan Operasi Agenor, yang berfokus pada menjamin kebebasan navigasi di Selat Hormuz.

CMF yang dipimpin AS beroperasi di Laut Merah melalui Satuan Tugas Gabungan 153 (CTF 153).

Pascakonflik Israel-Palestina yang meletus pada tanggal 7 Oktober, pemerintah Yaman yang dipimpin gerakan Ansarallah (yang dijuluki Houthi di Barat sesuai nama klan dominan di Yaman) menyatakan mereka tidak akan mengizinkan pelayaran ke dan dari pelabuhan Israel melewati Laut Merah sampai rezim kolonial mengakhiri pengepungan dan serangannya di Jalur Gaza dan mengizinkan bantuan kemanusiaan masuk ke wilayah kantong tersebut.

Yaman menguasai pantai timur selat Bab al-Mandab, pintu masuk selatan ke Laut Merah.

Pasukannya menyita kapal pengangkut mobil Galaxy Leader milik Israel namun berbendera asing pada tanggal 19 November, dan telah menargetkan kapal lain dengan serangan drone dan rudal.

Ketika ketegangan meningkat, perusahaan pelayaran besar, termasuk Mediterranean Shipping Company, Maersk, Hapag-Lloyd dan raksasa minyak Inggris BP telah mengambil tindakan proaktif.

Mereka mengalihkan kapal-kapal mereka menjauh dari Laut Merah, menerapkan upaya terkoordinasi untuk memitigasi risiko yang ditimbulkan konflik yang sedang berlangsung dan melindungi kepentingan maritim di wilayah tersebut.
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pria Ini Bunuh Pacar,...
Pria Ini Bunuh Pacar, tapi Tewas Serangan Jantung saat Buang Mayat Korban
Bagaimana Program Rudal...
Bagaimana Program Rudal Iran Bertahan dari Perang dan Diplomasi? Ini Analisisnya
Trump Ingin Beri Turki...
Trump Ingin Beri Turki Jet Tempur Siluman F-35 AS, Kongres Siap Blokir dengan Alasan S-400 Rusia
Menipu hingga Rp17,8...
Menipu hingga Rp17,8 Triliun untuk Hidup Mewah, Miliarder Ini Dipenjara 30 Tahun
Mengapa Pangkalan-pangkalan...
Mengapa Pangkalan-pangkalan Militer AS di Teluk Akan Berakhir? Ini Analisisnya
Setelah Saling Serang,...
Setelah Saling Serang, AS dan Iran Sepakat Menahan Diri, Ternyata Ini Pemicunya!
Rudal AGM-188A Rusty...
Rudal AGM-188A Rusty Dagger, Membentuk Masa Depan Medan Perang
AS dan Iran Kembali...
AS dan Iran Kembali Saling Serang Pasca-Tandatangani Perjanjian Damai
Prancis Terpanggang!...
Prancis Terpanggang! Korban Tewas Gelombang Panas Tembus 1.000 Orang, 85% Lansia
Rekomendasi
Nasib IHSG Siang Ini,...
Nasib IHSG Siang Ini, Babak Belur Tergelincir 2,42% ke 5.679
RGI dan NNA Jalin Kemitraan,...
RGI dan NNA Jalin Kemitraan, Perluas Distribusi SKT ke Wilayah Baru
Kemnaker: Korban PHK...
Kemnaker: Korban PHK Tembus 43.000 Orang, Sektor Manufaktur Terbanyak
Berita Terkini
Menteri Israel Usulkan...
Menteri Israel Usulkan Rencana Relokasi Gaza yang Libatkan Mossad
Pria Ini Bunuh Pacar,...
Pria Ini Bunuh Pacar, tapi Tewas Serangan Jantung saat Buang Mayat Korban
Apakah Gerakan Amal...
Apakah Gerakan Amal Bisa Menggantikan Hizbullah?
Bagaimana Program Rudal...
Bagaimana Program Rudal Iran Bertahan dari Perang dan Diplomasi? Ini Analisisnya
Indonesia Lunasi Proyek...
Indonesia Lunasi Proyek Jet Tempur KF-21 Korsel Rp6,9 Triliun, Dapat Transfer Teknologi Apa?
Rusia dan Ukraina Makin...
Rusia dan Ukraina Makin Jauh dari Perdamaian, Apa Pemicunya?
Infografis
Ahmad Vahidi, Panglima...
Ahmad Vahidi, Panglima Baru IRGC di Tengah Perang Lawan AS-Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved