Beban Berat Trump pada Pemilu 2020
Senin, 10 Agustus 2020 - 09:35 WIB
loading...
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Foto/Reuters
A
A
A
WASHINGTON - Banyak pakar politik memprediksi Presiden Donald Trump akan kalah pada pemilu yang digelar November 2020 mendatang. Kandidat calon presiden (capres) dari Partai Demokrat, Joe Biden , diunggulkan banyak pihak akan memenangkan pemilu presiden yang digelar di tengah pandemi virus corona (Covid-19) mendatang.
Kegagalan Trump dalam mengatasi pandemi menjadi alasan kuat kenapa dia mungkin saja kalah pada pemilu akhir tahun ini. Berbagai kebijakan kontroversialnya juga membuat perpolitikan Amerika Serikat (AS) semakin gaduh. Dia pun ditempatkan sebagai politikus yang anti-sains dalam berbagai komentarnya terkait penanganan pandemi corona.
Selain itu, Trump juga dipastikan akan mendapatkan dukungan dari kelompok warga kulit hitam dan nonkulit putih di AS. Keberpihakannya pada sistem rasial yang melembaga pada politik, ekonomi, dan sosial AS, justru menjadikan dia menjauh dari dukungan warga nonkulit putih. Trump lebih mempertahankan dukungan dari warga kulit putih semata dengan mengobarkan nasionalisme dan patriotisme. (Baca: Kampanye Trump di Oklahoma Dikacaukan Pengguna TikTok dan K-Pop)
Hal berbeda ditunjukkan oleh Biden. Biden selalu fokus pada narasi kampanye yang konsisten. Dia tetap fokus pada reformasi ekonomi dan kesehatan untuk mengatasi pandemi korona. Dia memosisikan pemimpin pro-sains dengan mengutamakan kekuatan dan pengetahuan dalam berbicara mengenai isu tersebut. Dia juga memberikan simpati yang nyata dan jelas dalam kasus pembunuhan warga kulit hitam, George Floyd.
Narasi yang disampaikan Biden pun cenderung detail dalam hal kebijakan, meskipun dia tetap menunjukkan dirinya adalah bagian dari politikus dengan nilai-nilai mainstream. Namun, dia minimal berusaha mempersatukan sayap progresif di Partai Demokrat dan kubu liberal di partainya terlebih dahulu.
Mengenai perebutan suara-suara elektoral, Biden juga sangat memperhatikan peta. Dia tidak terlalu memperhatikan suara populer, sebab Hillary Clinton juga kalah dari Trump karena suara-suara elektoral. Dalam setiap kampanyenya, Biden fokus pada negara bagian tempat Hillary mengalami kekalahan. Karena dia ingin mendapatkan 270 suara-suara elektoral untuk memenangkan pemilu.
Kegagalan Trump dalam mengatasi pandemi menjadi alasan kuat kenapa dia mungkin saja kalah pada pemilu akhir tahun ini. Berbagai kebijakan kontroversialnya juga membuat perpolitikan Amerika Serikat (AS) semakin gaduh. Dia pun ditempatkan sebagai politikus yang anti-sains dalam berbagai komentarnya terkait penanganan pandemi corona.
Selain itu, Trump juga dipastikan akan mendapatkan dukungan dari kelompok warga kulit hitam dan nonkulit putih di AS. Keberpihakannya pada sistem rasial yang melembaga pada politik, ekonomi, dan sosial AS, justru menjadikan dia menjauh dari dukungan warga nonkulit putih. Trump lebih mempertahankan dukungan dari warga kulit putih semata dengan mengobarkan nasionalisme dan patriotisme. (Baca: Kampanye Trump di Oklahoma Dikacaukan Pengguna TikTok dan K-Pop)
Hal berbeda ditunjukkan oleh Biden. Biden selalu fokus pada narasi kampanye yang konsisten. Dia tetap fokus pada reformasi ekonomi dan kesehatan untuk mengatasi pandemi korona. Dia memosisikan pemimpin pro-sains dengan mengutamakan kekuatan dan pengetahuan dalam berbicara mengenai isu tersebut. Dia juga memberikan simpati yang nyata dan jelas dalam kasus pembunuhan warga kulit hitam, George Floyd.
Narasi yang disampaikan Biden pun cenderung detail dalam hal kebijakan, meskipun dia tetap menunjukkan dirinya adalah bagian dari politikus dengan nilai-nilai mainstream. Namun, dia minimal berusaha mempersatukan sayap progresif di Partai Demokrat dan kubu liberal di partainya terlebih dahulu.
Mengenai perebutan suara-suara elektoral, Biden juga sangat memperhatikan peta. Dia tidak terlalu memperhatikan suara populer, sebab Hillary Clinton juga kalah dari Trump karena suara-suara elektoral. Dalam setiap kampanyenya, Biden fokus pada negara bagian tempat Hillary mengalami kekalahan. Karena dia ingin mendapatkan 270 suara-suara elektoral untuk memenangkan pemilu.
Lihat Juga :