Bos CIA dan Mossad Bertemu di Qatar, Ada Apa?
Rabu, 29 November 2023 - 05:00 WIB
loading...
A
A
A
Selama kunjungan ke unit intelijen IDF, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan: “Kami berkomitmen untuk menyelesaikan misi ini: membebaskan semua sandera, melenyapkan organisasi teroris di atas dan di bawah tanah serta, tentu saja, Gaza tidak boleh kembali seperti semula, sehingga tidak lagi menjadi ancaman bagi negara Israel.”
Dia kembali menuduh Hamas menggunakan warga sipil sebagai tameng manusia.
“Kami melihat sesuatu yang luar biasa… bahwa penduduk, warga sipil di Gaza melindungi semua teroris di bawah. Mereka membangun kota bawah tanah untuk melindungi diri mereka sendiri dan mengorbankan warga sipil di atas,” tudingnya.
Baca Juga: Sombongnya PM Israel Netanyahu Sambangi Gaza: Tak Ada yang Bisa Hentikan Kami!
Menurut media Israel, Netanyahu enggan memperpanjang gencatan senjata lebih dari 10 hari, jumlah maksimum yang ditetapkan dalam kesepakatan awal yang ditandatangani oleh pemerintahnya. Ia mengatakan 74 sandera telah dibebaskan sejauh ini, termasuk 50 perempuan dan anak-anak.
Sementara itu Herzi Halevi, kepala staf IDF, pada hari Selasa mengatakan: “Kami sedang mempersiapkan kelanjutan operasi untuk membubarkan Hamas. Ini akan memakan waktu, ini adalah tujuan yang kompleks, tetapi tujuan tersebut tidak dapat diukur.”
Baca Juga: Bertekad Berangus Hamas, Israel Bakal Lanjutkan Perang dengan Kekuatan Penuh
Rencana IDF adalah menargetkan Khan Younis, tempat yang diyakini Israel sebagai markas pemimpin Hamas, Yahya Sinwar.
Organisasi-organisasi kemanusiaan sudah memperingatkan konsekuensi yang mengerikan jika pertempuran intensif dimulai di selatan Gaza. Bushra Khalidi, seorang pemimpin kebijakan di Oxfam, mengatakan: “Terulangnya kembali pertempuran dapat meningkatkan jumlah korban massal yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan telah mencapai angka yang mengkhawatirkan."
"Dari apa yang kami amati, niat Israel untuk melanjutkan operasi di wilayah selatan sudah jelas dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan mereda,” ujarnya.
Di Israel, ada kekhawatiran bahwa kesabaran Washington semakin menipis. Para pejabat menggambarkan “jendela legitimasi” yang mungkin akan segera berakhir.
Dia kembali menuduh Hamas menggunakan warga sipil sebagai tameng manusia.
“Kami melihat sesuatu yang luar biasa… bahwa penduduk, warga sipil di Gaza melindungi semua teroris di bawah. Mereka membangun kota bawah tanah untuk melindungi diri mereka sendiri dan mengorbankan warga sipil di atas,” tudingnya.
Baca Juga: Sombongnya PM Israel Netanyahu Sambangi Gaza: Tak Ada yang Bisa Hentikan Kami!
Menurut media Israel, Netanyahu enggan memperpanjang gencatan senjata lebih dari 10 hari, jumlah maksimum yang ditetapkan dalam kesepakatan awal yang ditandatangani oleh pemerintahnya. Ia mengatakan 74 sandera telah dibebaskan sejauh ini, termasuk 50 perempuan dan anak-anak.
Sementara itu Herzi Halevi, kepala staf IDF, pada hari Selasa mengatakan: “Kami sedang mempersiapkan kelanjutan operasi untuk membubarkan Hamas. Ini akan memakan waktu, ini adalah tujuan yang kompleks, tetapi tujuan tersebut tidak dapat diukur.”
Baca Juga: Bertekad Berangus Hamas, Israel Bakal Lanjutkan Perang dengan Kekuatan Penuh
Rencana IDF adalah menargetkan Khan Younis, tempat yang diyakini Israel sebagai markas pemimpin Hamas, Yahya Sinwar.
Organisasi-organisasi kemanusiaan sudah memperingatkan konsekuensi yang mengerikan jika pertempuran intensif dimulai di selatan Gaza. Bushra Khalidi, seorang pemimpin kebijakan di Oxfam, mengatakan: “Terulangnya kembali pertempuran dapat meningkatkan jumlah korban massal yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan telah mencapai angka yang mengkhawatirkan."
"Dari apa yang kami amati, niat Israel untuk melanjutkan operasi di wilayah selatan sudah jelas dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan mereda,” ujarnya.
Di Israel, ada kekhawatiran bahwa kesabaran Washington semakin menipis. Para pejabat menggambarkan “jendela legitimasi” yang mungkin akan segera berakhir.
Lihat Juga :