10 Aktor Internasional yang Bisa Menjadi Mediator Perang Gaza, Adakah Indonesia?
Kamis, 23 November 2023 - 22:02 WIB
loading...
A
A
A
Kairo telah bertindak sebagai mediator antara Israel dan kelompok Palestina dalam konflik sebelumnya, namun Zweiri mengatakan pihaknya akan berusaha menjauhkan diri dari meningkatnya situasi di Gaza.
“Mereka [Mesir] ingin menjauhkan diri dari apa yang terjadi karena… Mesir akan mengadakan pemilu,” katanya.
![10 Aktor Internasional yang Bisa Menjadi Mediator Perang Gaza, Adakah Indonesia?]()
Foto/Reuters
Para pemimpin banyak negara Eropa termasuk Perancis dan Jerman mengutuk serangan Hamas dan menunjukkan solidaritas dengan Israel.
Para menteri luar negeri Uni Eropa dijadwalkan mengadakan pertemuan luar biasa pada Selasa sore untuk membahas perang tersebut.
Tanggapan awal UE terhadap konflik ini adalah dengan mengumumkan penghentian segera bantuan pembangunan untuk Palestina. Kemudian mereka mengatakan akan meninjau bantuan tersebut, bukan menangguhkannya.
Menteri Luar Negeri Spanyol Jose Manuel Albarez mengatakan tindakan seperti itu tidak dapat diterima dan kerja sama harus dilanjutkan.
“Kita tidak bisa menyamakan Hamas, yang masuk dalam daftar kelompok teroris Uni Eropa, dengan penduduk Palestina, Otoritas Palestina, atau organisasi-organisasi PBB yang hadir di lapangan,” katanya kepada stasiun radio Spanyol Cadena SER pada Selasa pagi.
![10 Aktor Internasional yang Bisa Menjadi Mediator Perang Gaza, Adakah Indonesia?]()
Foto/Reuters
Kemungkinan peran Iran dalam mediasi masih belum jelas.
Pemimpin Tertingginya Ali Hosseini Khamenei mengatakan pada hari Selasa: “Kami tentu saja membela warga Palestina. Kita cium kening dan lengan para pejuang dan pemuda pemberani Palestina, iya betul.
“Tetapi mereka yang mengatakan orang-orang non-Palestina berada di balik tindakan ini… mereka tidak mengenal orang-orang Palestina dengan baik. Mereka telah meremehkan bangsa Palestina. Itu adalah kesalahan mereka.”
![10 Aktor Internasional yang Bisa Menjadi Mediator Perang Gaza, Adakah Indonesia?]()
Foto/Reuters
Negara Teluk ini dikenal karena upaya mediasinya dalam perselisihan Palestina-Israel dan bantuan berkelanjutannya ke Gaza, yang telah dikepung Israel selama 16 tahun.
“Prioritas kami adalah mengakhiri pertumpahan darah, membebaskan para tahanan dan memastikan konflik dapat diatasi tanpa adanya dampak regional,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Majed al-Ansari kepada Reuters.
“Mereka [Mesir] ingin menjauhkan diri dari apa yang terjadi karena… Mesir akan mengadakan pemilu,” katanya.
4. Eropa

Foto/Reuters
Para pemimpin banyak negara Eropa termasuk Perancis dan Jerman mengutuk serangan Hamas dan menunjukkan solidaritas dengan Israel.
Para menteri luar negeri Uni Eropa dijadwalkan mengadakan pertemuan luar biasa pada Selasa sore untuk membahas perang tersebut.
Tanggapan awal UE terhadap konflik ini adalah dengan mengumumkan penghentian segera bantuan pembangunan untuk Palestina. Kemudian mereka mengatakan akan meninjau bantuan tersebut, bukan menangguhkannya.
Menteri Luar Negeri Spanyol Jose Manuel Albarez mengatakan tindakan seperti itu tidak dapat diterima dan kerja sama harus dilanjutkan.
“Kita tidak bisa menyamakan Hamas, yang masuk dalam daftar kelompok teroris Uni Eropa, dengan penduduk Palestina, Otoritas Palestina, atau organisasi-organisasi PBB yang hadir di lapangan,” katanya kepada stasiun radio Spanyol Cadena SER pada Selasa pagi.
5. Iran

Foto/Reuters
Kemungkinan peran Iran dalam mediasi masih belum jelas.
Pemimpin Tertingginya Ali Hosseini Khamenei mengatakan pada hari Selasa: “Kami tentu saja membela warga Palestina. Kita cium kening dan lengan para pejuang dan pemuda pemberani Palestina, iya betul.
“Tetapi mereka yang mengatakan orang-orang non-Palestina berada di balik tindakan ini… mereka tidak mengenal orang-orang Palestina dengan baik. Mereka telah meremehkan bangsa Palestina. Itu adalah kesalahan mereka.”
6. Qatar

Foto/Reuters
Negara Teluk ini dikenal karena upaya mediasinya dalam perselisihan Palestina-Israel dan bantuan berkelanjutannya ke Gaza, yang telah dikepung Israel selama 16 tahun.
“Prioritas kami adalah mengakhiri pertumpahan darah, membebaskan para tahanan dan memastikan konflik dapat diatasi tanpa adanya dampak regional,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Majed al-Ansari kepada Reuters.
Lihat Juga :