Militer Israel Serbu RS al-Shifa Gaza, Ultimatum Hamas untuk Menyerah
Rabu, 15 November 2023 - 10:42 WIB
loading...
A
A
A
“Tugas kita untuk membela diri berarti melenyapkan kelompok teror yang melakukan hal tersebut, sehingga mereka tidak dapat melakukan kekejaman yang sama lagi," paparnya.
RS terbesar di Gaza tersebut telah dikepung selama empat hari, tanpa pasokan listrik atau pun air untuk kebutuhan pasiennya. Stok terakhir pasokan medis dilaporkan habis setelah upaya pengiriman pasokan baru terhenti karena pengeboman konvoi ambulans oleh militer Israel.
Gedung Putih mendukung tuduhan Israel bahwa Hamas menggunakan RS al-Shifa sebagai tameng.
“Berbagai sumber intelijen telah mengonfirmasi Hamas dan Jihad Islam Palestina menggunakan beberapa rumah sakit di Jalur Gaza, termasuk al-Shifa, dan terowongan di bawahnya, untuk menyembunyikan dan mendukung operasi militer mereka dan menyandera," kata juru bicara Dewan Keamanan Nasional Amerika Serikat John Kirby.
Dia menyebut penggunaan rumah sakit seperti itu sebagai “kejahatan perang.”
“Jika benar, hal ini akan membahayakan warga sipil dan melanggar hukum perang,” kata Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus.
“Namun, hal ini tidak akan memberikan kebebasan kepada militer Israel untuk melakukan apa pun yang mereka inginkan terhadap rumah sakit tersebut.”
RS terbesar di Gaza tersebut telah dikepung selama empat hari, tanpa pasokan listrik atau pun air untuk kebutuhan pasiennya. Stok terakhir pasokan medis dilaporkan habis setelah upaya pengiriman pasokan baru terhenti karena pengeboman konvoi ambulans oleh militer Israel.
Gedung Putih mendukung tuduhan Israel bahwa Hamas menggunakan RS al-Shifa sebagai tameng.
“Berbagai sumber intelijen telah mengonfirmasi Hamas dan Jihad Islam Palestina menggunakan beberapa rumah sakit di Jalur Gaza, termasuk al-Shifa, dan terowongan di bawahnya, untuk menyembunyikan dan mendukung operasi militer mereka dan menyandera," kata juru bicara Dewan Keamanan Nasional Amerika Serikat John Kirby.
Dia menyebut penggunaan rumah sakit seperti itu sebagai “kejahatan perang.”
“Jika benar, hal ini akan membahayakan warga sipil dan melanggar hukum perang,” kata Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus.
“Namun, hal ini tidak akan memberikan kebebasan kepada militer Israel untuk melakukan apa pun yang mereka inginkan terhadap rumah sakit tersebut.”
Lihat Juga :