Eks Jenderal AS: Jika Perang, 20.000 Orang di Korsel Terbunuh Per Hari

Selasa, 26 September 2017 - 11:02 WIB
Eks Jenderal AS: Jika...
Eks Jenderal AS: Jika Perang, 20.000 Orang di Korsel Terbunuh Per Hari
A A A
WASHINGTON - Seorang mantan jenderal Amerika Serikat (AS) mengatakan, jika perang pecah di Semenanjung Korea, sekitar 20.000 orang di Korea Selatan (Korsel) akan terbunuh setiap harinya. Menurutnya, angka perkiraan ini berasal dari Pentagon.

Rob Givens, pensiunan Brigadir Jenderal Angkatan Udara AS, mengatakan kepada Los Angeles Times pada hari Senin bahwa jika perang terjadi di Korea, maka situasinya tidak sama seperti invasi di Irak, Afghanistan dan Libya.

Dia mencontohkan, invasi di Libya yang berhasil menyingkirkan Muammar Gaddafi, pasukan AS bisa “santai” karena yang bekerja keras adalah pasukan oposisi Libya.

”Ini tidak akan menyerupai konflik tersebut,” kata Givens. Menurut Givens, perkiraan internal Pentagon menyebutkan korban tewas sekitar 20.000 per hari di Korsel. Angka itu tidak termasuk korban yang ditimbulkan pada populasi Korea Utara (Korut) antara 27 sampai 28 juta orang.

Baca: Korut: AS Nyatakan Perang, Kami Berhak Tembak Jatuh Pembom Strategisnya

Komentar mantan jenderal Pentagon ini munculnya hampir bersamaan dengan pernyataan Menteri luar Negeri Korut Ri Yong-ho yang menuduh AS sebagai pihak pertama yang menyatakan perang terhadap Pyongyang.

Menurut Ri, konsekuensi dari deklarasi perang itu adalah hak Pyongyang untuk menembak jatuh pesawat pembom strategis Washington, bahkan jika tak berada di wilayah udara Korut.

Presiden AS Donald Trump, lanjut Ri, telah secara efektif mengumumkan perang terhadap Pyongyang, yang berarti bahwa semua opsi ada di meja untuk kepemimpinan negaranya.

”Seluruh dunia harus ingat dengan jelas bahwa AS yang pertama kali mengumumkan perang terhadap negara kami,” katanya seperti dikutip Reuters, Selasa (26/9/2017).

”Sejak AS mengumumkan perang terhadap negara kami, kami memiliki hak untuk melakukan penanggulangan, termasuk hak untuk menembak jatuh (pesawat) pembom strategis AS bahkan ketika mereka tidak berada di dalam wilayah udara negara kami,” papar Ri.

Baca juga: Dituduh Korut Nyatakan Perang, AS Bilang Tak Masuk Akal

Sementara itu, manuver dua pesawat pembom B-1B AS di lepas pantai Korut pada Sabtu lalu diketahui atas mandat Presiden Korsel Moon Jae-in.

”Moon menerima pengarahan tentang rencana tersebut selama berada di New York, di mana pejabat Korsel dan AS mencapai kesepakatan mengenai status operasi tersebut untuk mengirim (pesawat) pembom ke (dekat Korea) Utara,” kata seorang pejabat dari Gedung Biru atau kantor presiden Korsel kepada The Korea Times, dalam kondisi anonim.

Pentagon sendiri menyatakan manuver pesawat pembom AS di dekat Korut sebagai pesan kuat bagi rezim Kim Jong-un atas perilaku sembrono Pyongyang, termasuk rentetan uji coba rudal dan senjata nuklir.

”Jelas Korea Utara adalah ancaman,” kata juru bicara Departemen Pertahanan AS Letnan Kolonel Christopher Logan pada hari Senin.
(mas)
Berita Terkait
Korut Ancam Akhiri Amerika...
Korut Ancam Akhiri Amerika Serikat dengan Senjata Nuklir
Amerika Serikat Prediksi...
Amerika Serikat Prediksi Korea Utara Siap Tes Nuklir Bulan Ini
Korea Utara Gelar Latihan...
Korea Utara Gelar Latihan Serangan Nuklir Taktis
Korea Utara Sebut Perang...
Korea Utara Sebut Perang Nuklir Sudah Dekat
Amerika Serikat Unjuk...
Amerika Serikat Unjuk Kekuatan Nuklir di Tengah Ketegangan Dunia
Digertak 2 Pesawat Pengebom...
Digertak 2 Pesawat Pengebom B-1 Amerika Serikat, Begini Respons Korea Utara
Berita Terkini
Bom Ransel Meledak di...
Bom Ransel Meledak di Apartemen Monako, Oligarki Ukraina Vadym Iermolaiev Terluka
12 menit yang lalu
Inggris Akan Ganti 6...
Inggris Akan Ganti 6 Kapal Perusak Tua dengan 6 Kapal Perang Hibrida Pengendali Drone
46 menit yang lalu
Jerman Diguncang Penembakan,...
Jerman Diguncang Penembakan, 6 Orang Tewas
1 jam yang lalu
Korut Tuding Jepang...
Korut Tuding Jepang Berubah Jadi Negara Perang, Apa Pemicunya?
4 jam yang lalu
3 Alasan Malaysia Lanjutkan...
3 Alasan Malaysia Lanjutkan Pencarian MH370, Operasi Termahal di Dunia
6 jam yang lalu
Merasa Dikucilkan di...
Merasa Dikucilkan di NATO, Erdogan Minta Turki Dimasukkan dalam Struktur Keamanan Eropa
7 jam yang lalu
Infografis
Ahmad Vahidi, Panglima...
Ahmad Vahidi, Panglima Baru IRGC di Tengah Perang Lawan AS-Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved