Assad Sebut Serangan Senjata Kimia di Suriah Cuma Isapan Jempol
Jum'at, 14 April 2017 - 00:29 WIB
Assad Sebut Serangan Senjata Kimia di Suriah Cuma Isapan Jempol
A
A
A
DAMASKUS - Presiden Suriah, Bashar al-Assad akhirnya bersuara mengenai tudingan serangan senjata kimia yang dialamatkan kepadanya. Dalam sebuah wawancara, Assad menyebut serangan senjata kimia yang menewaskan puluhan warga sipil itu hanyalah sebuah isapan jempol belaka untuk membenarkan aksi militer Amerika Serikat (AS).
Bashar al-Assad juga menolak foto dan rekaman video yang membuat Presiden Trump meluncurkan serangan balasan ke pangkalan udara Suriah. Ia menegaskan bahwa pemerintahannya tidak akan pernah menggunakan senjata yang dilarang.
"Kesan kami adalah bahwa Barat, terutama Amerika Serikat, erat dengan teroris. Mereka mengarang seluruh cerita untuk memiliki dalih untuk menyerang," kata Assad seperti dikutip dari Washington Post, Jumat (14/4/2017).
Menurut Assad, bukti yang dikumpulkan di TKP hanya berasal dari "kelompok cabang al-Qaeda," mengacu pada bekas kelompok jihad yang merupakan salah satu kelompok yang menguasai provinsi Idlib, di mana Khan Sheikhoun berada. Khan Sheikhoun adalah lokasi serangan senjata kimia yang menewaskan 87 orang, termasuk anak-anak.
Pernyataan ini merupakan versi kedua dari pemerintah Suriah terkait peristiwa sembilan hari lalu itu. Dalam komentar sebelumnya, pejabat terkait menyebut serangan udara Suriah menghantam sebuah pabrik senjata kimia pemberontak dan melepaskan racun.
"Tidak ada perintah untuk melakukan serangan. Kami tidak memiliki senjata kimia apapun. Kami menyerahkan gudang kami beberapa tahun yang lalu," katanya.
"Bahkan jika kami memilikinya, kami tidak akan menggunakannya, dan kami tidak pernah menggunakan senjata kimia kami dalam sejarah kami," tukas Bashar al-Assad.
Pemerintah Suriah seharusnya telah menyerahkan seluruh persenjataan kimia milik mereka di bawah persyaratan sesuai dengan kesepakatan pada 2013 lalu yang ditengahi oleh Rusia dan AS.
"Terus terang, itu tidak terjadi,” kata seorang diplomat Barat pekan ini, yang berbicara tanpa menyebut nama.
Aktivis dan kelompok pemantau terus mencatat serangan senjata kimia di daerah yang dikuasai oposisi. Menurut Jaringan Suriah untuk Hak Asasi Manusia, pesawat-pesawat tempur pemerintah Suriah telah menggunakan gas klorin di wilayah oposisi pada sembilan kesempatan terpisah tahun ini.
Organisasi untuk Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) telah memulai penyelidikan terhadap serangan yang dituduhkan. Namun Rusia memveto resolusi Dewan Keamanan PBB yang menuntut Suriah untuk bekerja sama dengan penyidik.
Bashar al-Assad juga menolak foto dan rekaman video yang membuat Presiden Trump meluncurkan serangan balasan ke pangkalan udara Suriah. Ia menegaskan bahwa pemerintahannya tidak akan pernah menggunakan senjata yang dilarang.
"Kesan kami adalah bahwa Barat, terutama Amerika Serikat, erat dengan teroris. Mereka mengarang seluruh cerita untuk memiliki dalih untuk menyerang," kata Assad seperti dikutip dari Washington Post, Jumat (14/4/2017).
Menurut Assad, bukti yang dikumpulkan di TKP hanya berasal dari "kelompok cabang al-Qaeda," mengacu pada bekas kelompok jihad yang merupakan salah satu kelompok yang menguasai provinsi Idlib, di mana Khan Sheikhoun berada. Khan Sheikhoun adalah lokasi serangan senjata kimia yang menewaskan 87 orang, termasuk anak-anak.
Pernyataan ini merupakan versi kedua dari pemerintah Suriah terkait peristiwa sembilan hari lalu itu. Dalam komentar sebelumnya, pejabat terkait menyebut serangan udara Suriah menghantam sebuah pabrik senjata kimia pemberontak dan melepaskan racun.
"Tidak ada perintah untuk melakukan serangan. Kami tidak memiliki senjata kimia apapun. Kami menyerahkan gudang kami beberapa tahun yang lalu," katanya.
"Bahkan jika kami memilikinya, kami tidak akan menggunakannya, dan kami tidak pernah menggunakan senjata kimia kami dalam sejarah kami," tukas Bashar al-Assad.
Pemerintah Suriah seharusnya telah menyerahkan seluruh persenjataan kimia milik mereka di bawah persyaratan sesuai dengan kesepakatan pada 2013 lalu yang ditengahi oleh Rusia dan AS.
"Terus terang, itu tidak terjadi,” kata seorang diplomat Barat pekan ini, yang berbicara tanpa menyebut nama.
Aktivis dan kelompok pemantau terus mencatat serangan senjata kimia di daerah yang dikuasai oposisi. Menurut Jaringan Suriah untuk Hak Asasi Manusia, pesawat-pesawat tempur pemerintah Suriah telah menggunakan gas klorin di wilayah oposisi pada sembilan kesempatan terpisah tahun ini.
Organisasi untuk Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) telah memulai penyelidikan terhadap serangan yang dituduhkan. Namun Rusia memveto resolusi Dewan Keamanan PBB yang menuntut Suriah untuk bekerja sama dengan penyidik.
(ian)