Jor-joran Bantu Ukraina, AS Hampir Kehabisan Amunisi dan Keamanannya Terancam

Minggu, 03 September 2023 - 15:27 WIB
loading...
Jor-joran Bantu Ukraina,...
Amerika Serikat hampir kehabisan amunisi dan keamanannya terancam karena terlalu banyak membantu Ukraina dalam perangnya melawan invasi Rusia. Foto/REUTERS
A A A
WASHINGTON - Selama seminggu terakhir, Amerika Serikat (AS) telah mengumumkan paket bantuan militer baru untuk Ukraina dan Taiwan. Namun porsinya dinilai tidak adil.

Keputusan tersebut telah meningkatkan perdebatan di kalangan strategis Amerika, apakah dengan menyetujui setiap permintaan bantuan militer Ukraina yang lebih banyak, Washington tidak hanya mengabaikan Taiwan tetapi juga merusak kesiapan pertahanannya sendiri.

Pada 29 Agustus, Pemerintahan Presiden Joe Biden mengumumkan paket bantuan militer berikutnya untuk membantu Ukraina, yang berisi kemampuan penting seperti rudal AIM-9M untuk pertahanan udara, amunisi untuk Sistem Roket Artileri Mobilitas Tinggi (HIMARS), amunisi artileri 155 mm dan 105 mm, serta peralatan pembersih ranjau, rudal Javelin dan sistem anti-lapis baja serta roket lainnya, lebih dari 3 juta butir amunisi senjata ringan, ambulans, amunisi penghancur untuk mengatasi rintangan, serta suku cadang, layanan, pelatihan, dan transportasi.

Baca Juga: Rentetan Invasi Balik Ukraina ke Rusia, 24 Pesawat Militer Moskow Hancur dan Rusak

Paket senjata dan peralatan ini bernilai USD250 juta. Jumlah ini melebihi USD41 miliar yang telah disalurkan AS ke Ukraina sebagai bantuan militer.

Sebaliknya, pada 30 Agustus, Presiden Biden menyetujui bantuan militer hanya sebesar USD80 juta untuk Taiwan di bawah program Pembiayaan Militer Asing (FMF), yang biasanya digunakan untuk negara-negara berdaulat.

Disebutkan bahwa FMF akan digunakan untuk memperkuat kemampuan pertahanan diri Taiwan melalui kemampuan pertahanan bersama dan gabungan serta meningkatkan kesadaran domain maritim dan kemampuan keamanan maritim.

Itu adalah pengiriman peralatan militer AS yang pertama ke Taiwan di bawah program yang biasanya ditujukan untuk negara-negara berdaulat. Sebenarnya, AS tidak menganggap Taiwan sebagai negara merdeka, dan berkomitmen pada prinsip "Satu-China".

Namun, berdasarkan Undang-Undang Peningkatan Ketahanan Taiwan yang disahkan tahun lalu, pemerintah AS diberi wewenang untuk menghabiskan hingga USD2 miliar per tahun dalam bentuk bantuan hibah militer ke pulau tersebut dari tahun 2023 hingga 2027.

Ada perbedaan besar antara Ukraina dan Taiwan dalam hal bantuan militer AS. Ukraina sedang berperang, sedangkan Taiwan mungkin menghadapi perang.

Namun bagi para pakar, demi keamanan jangka panjang Amerika Serikat dan seluruh dunia, perang apa pun yang dilakukan China atas Taiwan adalah ancaman yang jauh lebih besar.

Apakah AS memiliki cukup senjata untuk menghadapi ancaman terhadap Taiwan? Analis militer tidak begitu yakin. Menurut mereka, Ukraina bahkan membuat Amerika semakin "kurus".

Jajak pendapat CNN baru-baru ini menunjukkan bahwa sebagian besar warga Amerika (55%) menentang Kongres yang mengizinkan pendanaan tambahan untuk mendukung Ukraina dalam perangnya dengan Rusia. Sebanyak 51% mengatakan Amerika telah berbuat cukup banyak untuk membantu Ukraina.

Temuan-temuan tersebut tidak mengejutkan karena Amerika telah memberikan bantuan kemanusiaan, keuangan, dan militer kepada Ukraina senilai lebih dari USD75 miliar, yang setara dengan 0,33 persen PDB Ukraina. Angka ini bukanlah jumlah yang berarti ketika Amerika menghadapi kenaikan biaya hidup dan pengangguran.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Putin Mengamuk! Serangan...
Putin Mengamuk! Serangan Rusia Tewaskan 11 Orang dan Hancurkan Katedral Bersejarah
Bagaimana Perdamaian...
Bagaimana Perdamaian Iran dan AS Membentuk Arsitektur Timur Tengah yang Baru?
Analis Israel: Kesepakatan...
Analis Israel: Kesepakatan AS-Iran Adalah Kemenangan Besar bagi Teheran
14 Poin Perdamaian Iran...
14 Poin Perdamaian Iran dan AS, Ada Dana Rekonstruksi Senilai Rp5.316 Triliun yang Dibayar Negara-negara Arab
Trump Marahi Netanyahu:...
Trump Marahi Netanyahu: 'Mengapa Harus Lakukan Serangan Sialan Itu?'
Inggris Cegat dan Rebut...
Inggris Cegat dan Rebut Kapal Tanker Armada Bayangan Rusia, Ini Respons Kremlin
Kapten Iran: Perang...
Kapten Iran: Perang Merampas Euforia Piala Dunia 2026
China Tangkap Warga...
China Tangkap Warga Negara AS Atas Tuduhan Spionase
Gempa Dahsyat M7,8 Angkat...
Gempa Dahsyat M7,8 Angkat Dasar Laut Filipina 2 Meter, Ikan-Ikan Mati
Rekomendasi
Hello Jadoo Tampil Perdana...
Hello Jadoo Tampil Perdana di Indonesia, Yuk Meriahkan Liburan Sekolah Bersama Animasi Populer Kesayanganmu
Harga Tiket Whoosh Pakai...
Harga Tiket Whoosh Pakai Skema Dinamis Sambut Libur Sekolah Plus Long Weekend, Termurah Rp250 Ribu
Begini Cara kerja AirTag...
Begini Cara kerja AirTag dan SmartTag, Pelacak Bluetooth Murah untuk Android dan iPhone
Berita Terkini
China Tangkap 2 Pemimpin...
China Tangkap 2 Pemimpin Gereja Bawah Tanah yang Berpengaruh, Apa Pemicunya?
Putin Mengamuk! Serangan...
Putin Mengamuk! Serangan Rusia Tewaskan 11 Orang dan Hancurkan Katedral Bersejarah
Bagaimana Perdamaian...
Bagaimana Perdamaian Iran dan AS Membentuk Arsitektur Timur Tengah yang Baru?
Israel Tak Akan Mundur...
Israel Tak Akan Mundur dari Suriah, Gaza dan Lebanon
Dunia Sambut Positif...
Dunia Sambut Positif Perdamaian AS dan Iran, Hanya Israel yang Marah
Perdamaian Segera Terwujud,...
Perdamaian Segera Terwujud, Militer Iran: Keinginan Rakyat Sudah Dipaksakan kepada Musuh
Infografis
Pete Hegseth, Menteri...
Pete Hegseth, Menteri Perang AS yang Dikenal Rasis, Radikal, dan Pemabuk
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved