Korea Utara Sebut Perang Nuklir Sudah Dekat
Rabu, 16 Agustus 2023 - 06:19 WIB
loading...
A
A
A
Carrier Strike Group 11 Angkatan Laut AS, yang dipimpin kapal induk USS Nimitz, tiba di pelabuhan militer Korea Selatan pada akhir Maret, segera setelah Pyongyang meluncurkan hulu ledak nuklir baru yang lebih kecil, yang konon dapat dipasang pada rudal balistik jarak pendek.
Pada akhir Juni, satu pesawat pembom strategis B-52 AS ikut serta dalam latihan bersama dengan Korea Selatan.
Hanya dua pekan kemudian, Amerika juga mengerahkan kapal selam rudal balistik kelas Ohio, USS Kentucky, ke Korea Selatan.
Dipersenjatai dengan 20 rudal balistik Trident II, kapal bawah laut itu membawa total 80 hulu ledak nuklir.
“AS, yang telah mengobarkan kebijakan negara yang bermusuhan terhadap Korea (Utara) … selama 80 tahun, secara terang-terangan mengganggu pembangunan independen dan kepentingan keamanan Korea Utara dan mendorong situasi di Asia Timur Laut ke ambang perang nuklir,” ujar Kang.
“Washington harus mengakui kebijakan berperang melawan Pyongyang dan meninggalkan pendekatan konfrontatifnya jika benar-benar ingin menyelesaikan krisis dengan cara damai,” tegas dia.
Dia menegaskan, “Sampai Amerika melakukan itu, dialog apa pun tidak mungkin, yang berarti kekuatan militer tetap menjadi satu-satunya cara untuk mengamankan perdamaian dan stabilitas di Semenanjung Korea.”
Pada akhir Juni, satu pesawat pembom strategis B-52 AS ikut serta dalam latihan bersama dengan Korea Selatan.
Hanya dua pekan kemudian, Amerika juga mengerahkan kapal selam rudal balistik kelas Ohio, USS Kentucky, ke Korea Selatan.
Dipersenjatai dengan 20 rudal balistik Trident II, kapal bawah laut itu membawa total 80 hulu ledak nuklir.
“AS, yang telah mengobarkan kebijakan negara yang bermusuhan terhadap Korea (Utara) … selama 80 tahun, secara terang-terangan mengganggu pembangunan independen dan kepentingan keamanan Korea Utara dan mendorong situasi di Asia Timur Laut ke ambang perang nuklir,” ujar Kang.
“Washington harus mengakui kebijakan berperang melawan Pyongyang dan meninggalkan pendekatan konfrontatifnya jika benar-benar ingin menyelesaikan krisis dengan cara damai,” tegas dia.
Dia menegaskan, “Sampai Amerika melakukan itu, dialog apa pun tidak mungkin, yang berarti kekuatan militer tetap menjadi satu-satunya cara untuk mengamankan perdamaian dan stabilitas di Semenanjung Korea.”
Lihat Juga :