Taktik Perang AS Gagal dalam Perang Ukraina Lawan Rusia, Ini Sebabnya

Senin, 07 Agustus 2023 - 09:11 WIB
loading...
Taktik Perang AS Gagal...
Taktik perang AS dan NATO yang dijalankan Ukraina gagal dalam perang melawan pasukan Rusia. Foto/REUTERS/Kai Pfaffenbach
A A A
KYIV - Taktik perang Amerika Serikat (AS) dan sekutu NATO yang dijalankan pasukan Ukraina gagal dalam perang melawan pasukan Rusia. Menurut analis militer, penyebab utamnya karena pasukan Kyiv tidak mendominasi langit atau kekuatan udara.

Kegagalan ini mendorong pasukan Kyiv meninjau kembali taktik perangnya untuk menekan pertahanan musuh.

Pasukan Ukraina, sekarang lebih dari dua bulan memasuki serangan balasan musim panas mereka, telah memasukkan gaya tempur NATO ke dalam angkatan bersenjata mereka bersama dengan peralatan Barat, seperti tank dan kendaraan lapis baja yang disediakan AS dan sekutunya.

Tetapi pada Rabu lalu, sebuah laporan di The New York Times menyatakan pelatihan NATO mungkin tidak sesukses yang diharapkan.

Baca Juga: Begini Cara Rusia Kerjai Rudal Canggih AS Menjadi Tak Berguna di Ukraina

"Tentara Ukraina untuk saat ini mengesampingkan metode pertempuran AS dan kembali ke taktik yang paling dikenalnya," tulis surat kabar Amerika tersebut dalam laporannya.

Para analis militer mengatakan kepada Newsweek bahwa negara-negara NATO mengapresiasi senjata gabungan atau semua komponen militer bekerja sama. Namun, agar pasukan Ukraina berhasil dengan taktik NATO, mereka membutuhkan superioritas udara—yang sayangnya tidak mereka miliki.

“Agar pendekatan Barat bekerja secara efektif, Anda memerlukan semua elemen, dan elemen kuncinya adalah kekuatan udara,” kata pensiunan Kolonel Angkatan Darat Inggris Hamish de Bretton-Gordon, yang sebelumnya memimpin pertahanan kimia, biologi, radiologi, dan nuklir pasukan Inggris dan NATO.

Negara-negara Barat telah menyalurkan puluhan miliar dolar ke Ukraina dalam bantuan keamanan, tetapi bantuan ini belum termasuk jet tempur Barat seperti F-16 atau helikopter serang berstandar NATO.

Hanya beberapa jam sebelum serangan balasan berlangsung, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan kepada The Wall Street Journal bahwa superioritas udara Rusia dan kebutuhan Kyiv akan pertahanan udara berarti "sejumlah besar tentara akan mati" dalam beberapa bulan mendatang.

"Tanpa pesawat Barat untuk menentang kendali Rusia atas langit, pasukan Ukraina bertempur dengan setidaknya satu tangan terikat di belakang punggung mereka," kata Bretton-Gordon kepada Newsweek.

"Bagi saya, itu adalah bagian terpenting di sini."

Analis lain mengatakan gaya pertempuran NATO, yang sangat bergantung pada pengendalian langit, juga baru diuji dalam beberapa tahun terakhir di arena di mana aliansi tersebut memiliki keunggulan udara.

"Tidak ada anggota angkatan bersenjata NATO yang masih hidup yang mengalami pertempuran yang mirip dengan yang dialami Ukraina selama 18 bulan terakhir," kata Davis Ellison, seorang analis strategis di Hague Center for Security Studies (HCSS), kepada Newsweek, yang dilansir Senin (7/8/2023).

“Cara perang darat NATO belum pernah diuji secara serius terhadap musuh negara utama, meskipun telah melakukan investasi dan pelatihan selama puluhan tahun,” imbuh dia.

"Dalam kasus seperti Irak dan Perang Teluk 1991, pasukan AS dan Barat dapat dengan cepat membangun superioritas udara besar-besaran," kata Paul van Hooft, analis lain dari HCSS, kepada Newsweek.

"Tanpa ini, angkatan bersenjata Ukraina telah melalui pelatihan cepat NATO untuk menghilangkan doktrin era Soviet, tidak terlalu berbeda dengan metode yang digunakan oleh pasukan Moskow. Beberapa elemen dari doktrin yang telah lama dianut ini pada dasarnya berbeda dengan bagaimana pasukan Barat sekarang mengajar Ukraina untuk berperang," papar kata Nick Reynolds, peneliti perang darat di lembaga think tank pertahanan Royal United Services Institute Inggris, kepada Newsweek.

Tidak hanya itu, sambung Reynolds, ada kekurangan besar-besaran personel berpengalaman, dan mereka yang memperoleh pengalaman seringkali tidak menjalani pelatihan taktis ekstensif seperti yang dilakukan pasukan Barat.

“Bisa dibilang, masalahnya adalah asumsi bahwa dengan beberapa bulan pelatihan, unit Ukraina dapat diubah menjadi lebih banyak pertempuran dengan cara yang mungkin dilakukan pasukan Amerika, memimpin serangan terhadap pertahanan Rusia yang dipersiapkan dengan baik, daripada membantu Ukraina bertempur lebih banyak dengan cara terbaik yang mereka tahu," papar Michael Kofman, seorang senior fellow di Carnegie Endowment for International Peace.

"Tidak mengherankan bahwa orang Ukraina telah menyerah pada beberapa pelatihan Barat karena pengalaman dan adaptasi mereka di bawah tekanan mengalahkan konsep masa damai Barat," kata Ellison mengamini pendapat Kofman.

"Jika ada, kami harus belajar lebih banyak dari Ukraina daripada yang bisa mereka pelajari dari kami."

Bretton-Gordon mengatakan dalam dunia yang ideal, petarung Ukraina akan memiliki waktu satu tahun untuk melatih dan menyerap gaya bertarung dan pelatihan baru.

"Terkadang, ketika keadaan menjadi sulit, Anda mungkin kembali ke apa yang intuitif bagi Anda, daripada apa yang telah diajarkan kepada Anda," katanya.

Analis telah lama bertanya-tanya apakah pelatihan Ukraina akan menghasilkan kesuksesan di medan perang. Dengan hanya memperoleh keuntungan kecil dalam pertempuran berminggu-minggu, Ukraina telah menghadapi kritik karena lambatnya kemajuan dan ada kekhawatiran tentang bagaimana Kyiv menghadapi pertahanan Moskow yang digali di Ukraina timur dan selatan.

"Rusia memiliki waktu untuk membangun pertahanan di sepanjang wilayah yang diduduki mereka dan Ukraina melakukan perlawanan terhadap mereka dan itu akan menjadi pertarungan yang sulit," kata juru bicara Pentagon, Brigadir Jenderal Pat Ryder.

“Kami telah melatih Ukraina sejak 2014,” kata Ryder. "AS yakin bahwa mereka memiliki kemampuan tempur yang signifikan tersedia bagi mereka dan bahwa mereka akan menggunakannya pada waktu dan tempat yang mereka pilih.”
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Wabah Flu Serang Pangkalan...
Wabah Flu Serang Pangkalan AS, 159 Tentara Jatuh Sakit
10 Pesawat Militer Termahal...
10 Pesawat Militer Termahal di Dunia, Harga 7 Bomber B-2 Hampir Setara Anggaran MBG Indonesia
Marahnya Warga Israel...
Marahnya Warga Israel atas Kesepakatan AS-Iran: Kami Dikhianati Trump, Ini Kesalahan Besar
Zelensky Ancam Serang...
Zelensky Ancam Serang Belarusia, Perang Rusia-Ukraina Bisa Meluas
Menkeu AS Sebut Zelensky...
Menkeu AS Sebut Zelensky Bajingan Kecil Bertingkah seperti Mr Bean yang Sakau
Iran Tutup Lagi Selat...
Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, Militer AS Waspada
Perang Rusia-Ukraina...
Perang Rusia-Ukraina Memicu Perlombaan Senjata AI
Israel Bombardir Lebanon...
Israel Bombardir Lebanon Selatan Tewaskan 16 Orang
Pesawat Air Force One...
Pesawat Air Force One Hadiah dari Qatar untuk Trump Diuji Terbang
Rekomendasi
BMKG Deteksi Siklon...
BMKG Deteksi Siklon Tropis Mekkhala, Ingatkan Potensi Hujan Lebat
Pemerintah Paksa Daerah...
Pemerintah Paksa Daerah Hentikan Open Dumping Sampah dengan Skema Stick and Carrot
Dukung Pendanaan UMKM,...
Dukung Pendanaan UMKM, Easycash Perkuat Tata Kelola dan Manajemen Risiko
Berita Terkini
Meski IRGC Tutup Selat...
Meski IRGC Tutup Selat Hormuz, Perundingan Damai AS dan Iran Digelar di Swiss
Wabah Flu Serang Pangkalan...
Wabah Flu Serang Pangkalan AS, 159 Tentara Jatuh Sakit
Raja Charles Inggris...
Raja Charles Inggris Akan Ungkap Tagihan Pajak Pribadinya, Berapa Besar?
Pilot Australia Terbangkan...
Pilot Australia Terbangkan 2 Buronan Paling Dicari ke Indonesia via Penerbangan Gelap
Israel Bunuh Jurnalis...
Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera dalam Serangan Udara di Gaza, Menuduhnya Milisi Hamas
India Gempar, Seorang...
India Gempar, Seorang Ibu Diperkosa Beramai-ramai di Depan Anaknya
Infografis
37 Pesawat AS Hancur...
37 Pesawat AS Hancur dan Rusak dalam Perang Iran, Kerugian Rp28 Triliun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved