Erdogan Kecam Pola Pikir Kolonial Ubah Laut Mediterania Jadi Kuburan Pengungsi

Kamis, 22 Juni 2023 - 01:01 WIB
loading...
Erdogan Kecam Pola Pikir...
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Foto/anadolu
A A A
ANKARA - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyalahkan pola pikir kolonial karena mengubah Laut Mediterania menjadi kuburan pengungsi raksasa.

Erdogan membuat komentarnya pada Hari Pengungsi Sedunia. Dia menunjukkan orang-orang terpaksa bermigrasi karena berbagai alasan, mulai dari terorisme, konflik dan perang saudara hingga kelaparan dan kekeringan, terutama di daerah pedalaman Turki.

"Jumlah orang terlantar di dunia sekarang hampir 110 juta dan 35,3 juta di antara mereka terpaksa bermigrasi, sementara 62,5 juta orang terlantar secara internal," papar dia.

Posisi Ankara tentang migrasi tidak teratur dan masalah pengungsi tetap tidak berubah, ungkap pemimpin Turki itu.

“Kami percaya ini adalah masalah global sambil berfokus pada keamanan Turki dan melindungi kehidupan dan martabat masyarakat. Bangsa kami telah merangkul mereka yang melarikan diri dari penindasan selama berabad-abad tanpa diskriminasi, dan menunjukkan sikap sadar yang sama dalam menghadapi krisis di wilayah kami, mulai dari Suriah ke Ukraina," ujar dia.

Turki, lanjutnya, selalu memenuhi tugas kemanusiaannya, tugasnya sebagai tetangga. "Ini mendukung proyek untuk pengembalian pengungsi yang aman, sukarela dan bermartabat ke tanah air mereka dan mengimplementasikan proyek untuk memastikannya," papar dia.

Mengekspresikan penolakan negaranya terhadap Islamofobia dan xenofobia, ideologi neo-Nazi, dan ujaran kebencian, Erdogan mencatat ini telah menyebar ke komunitas lain seperti tumbuhan beracun setelah mengakar di negara-negara Barat.

"Kami melihat tren patologis ini, yang tidak menganggap siapa pun selain ras, budaya, dan keyakinan mereka sendiri sebagai manusia, sebagai ancaman terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan masa depan bersama umat manusia," tegas dia.

Baca juga: Helikopter Tempur Israel Gempur Tepi Barat, 5 Warga Palestina Tewas

Dia menyalahkan "pola pikir menghina yang berakar pada kolonialisme" karena mengubah Mediterania menjadi kuburan pengungsi.

"Tragedi kemanusiaan di Laut Aegea pekan lalu, di mana ratusan orang tak berdosa, kebanyakan anak-anak, meninggal, adalah contoh terbaru dan paling memalukan dari pola pikir ini," ungkap dia.

Presiden Turki mendesak masyarakat internasional, "terutama negara-negara yang mencoba mengajarkan hak asasi manusia dan demokrasi kepada semua orang kecuali diri mereka sendiri, untuk memikul tanggung jawab mereka dalam krisis pengungsi ini."

Untuk menyelesaikan masalah pengungsi, migrasi dan pemindahan paksa, pungkas Erdogan, kita perlu menghilangkan penyebabnya.

“Global Compact on Refugees yang ditegaskan oleh PBB dengan kontribusi aktif Turki pada tahun 2018 adalah penting. Kami berharap Hari Pengungsi Sedunia akan membantu meningkatkan kesadaran global, mencegah tragedi lebih lanjut dan menyelesaikan masalah para pengungsi yang berjuang untuk bertahan hidup di berbagai belahan dunia," pungkas dia.
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Merasa Dikucilkan di...
Merasa Dikucilkan di NATO, Erdogan Minta Turki Dimasukkan dalam Struktur Keamanan Eropa
Israel Akui Genosida...
Israel Akui Genosida Armenia, Dikecam karena Juga Lakukan Genosida Gaza
Israel Anggap Turki...
Israel Anggap Turki Lebih Berbahaya Dibandingkan Iran
Aktivis Zionis: 15 Tahun...
Aktivis Zionis: 15 Tahun Lagi, Israel Akan Perang dengan Mesir
Untuk Pertama Kalinya,...
Untuk Pertama Kalinya, Turki Ekspor Kapal Perang
Koridor Dagang Ankara...
Koridor Dagang Ankara dan Riyadh Buat Israel Ketar-ketir, Ini 3 Pemicunya
7 Tahun Warga Mengungsi,...
7 Tahun Warga Mengungsi, Leri Gwijangge Desak Pemerintah Akhiri Krisis Kemanusiaan di Nduga
AS dan Iran Kembali...
AS dan Iran Kembali Saling Serang Pasca-Tandatangani Perjanjian Damai
Ngamuk! Iran Klaim Hancurkan...
Ngamuk! Iran Klaim Hancurkan 8 Lokasi Militer AS di Kuwait dan Bahrain
Rekomendasi
Jerman Ditahan Imbang...
Jerman Ditahan Imbang Paraguay 1-1, Laga Berlanjut ke Extra Time
Histeria Ojol dan Kerentanan...
Histeria Ojol dan Kerentanan Ekstrem Pekerja 'Gig Economy'
Rakor dengan Pimpinan...
Rakor dengan Pimpinan BGN, Dasco Tegaskan DPR Awasi Ketat Program MBG agar Tepat Sasaran
Berita Terkini
Bom Ransel Meledak di...
Bom Ransel Meledak di Apartemen Monako, Oligarki Ukraina Vadym Iermolaiev Terluka
Inggris Akan Ganti 6...
Inggris Akan Ganti 6 Kapal Perusak Tua dengan 6 Kapal Perang Hibrida Pengendali Drone
Jerman Diguncang Penembakan,...
Jerman Diguncang Penembakan, 6 Orang Tewas
Korut Tuding Jepang...
Korut Tuding Jepang Berubah Jadi Negara Perang, Apa Pemicunya?
3 Alasan Malaysia Lanjutkan...
3 Alasan Malaysia Lanjutkan Pencarian MH370, Operasi Termahal di Dunia
Merasa Dikucilkan di...
Merasa Dikucilkan di NATO, Erdogan Minta Turki Dimasukkan dalam Struktur Keamanan Eropa
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved