Tentara Ke-4 China yang Dikejar FBI Lari ke Konsulat Beijing di San Francisco

Jum'at, 24 Juli 2020 - 17:09 WIB
loading...
Tentara Ke-4 China yang...
Tang Juan, tentara keempat China yang diburu FBI dan diyakini bersembunyi di Konsulat China di San Fransico, Amerika Serikat. Foto/ US District Court / Handout via South China Morning Post
A A A
SAN FRANCISCO - FBI (Biro Investigasi Federal) Amerika Serikat (AS) percaya Konsulat China di San Francisco menyembunyikan seorang tentara keempat Beijing yang dikejar biro tersebut.

Tiga tentara lainnya telah ditangkap FBI atas tuduhan pemalsuan visa. Keempatnya dituduh menyamar sebagai peneliti selama berada di Amerika. Tentara keempat yang diburu biro tersebut bernama Tang Juan.

Keempat orang tersebut oleh pengadilan federal di California dikenai tuduhan berbohong tentang latar belakang militer mereka. Keempatnya juga dituduh menyembunyikan hubungan dengan pemerintah mereka. (Baca: Kian Panas, FBI Tangkap 3 Tentara China yang Menyamar Jadi Peneliti di AS )

Tang Juan dan tiga peneliti lainnya dituduh berbohong dalam pengajuan visa untuk bekerja di Amerika Serikat tentang status mereka sebagai anggota Tentara Pembebasan Rakyat (PLA).

Menurut pengaduan kriminal yang diumumkan Departemen Kehakiman AS, Tang Juan berbohong tentang afiliasi militernya dalam aplikasi visa Oktober lalu untuk bekerja di University of California (UC) Davis. Dia juga berbohong selama interogasi FBI bulan lalu.

Agen FBI menemukan foto-foto Tang Juan dengan seragam kader sipil PLA dan juga meninjau artikel dari China yang mengidentifikasi afiliasi militernya.

FBI bulan lalu mewawancarai atau menginterogasi Tang Juan, ketika dia membantah telah bertugas di militer atau mengetahui pentingnya lencana pada seragam yang dia kenakan seperti dalam fotonya. Menurut pengaduan kriminal yang diumumkan Departemen Kehakiman Amerika, FBI menemukan lebih banyak bukti afiliasi militernya ketika mereka kemudian menggeledah rumahnya.

"FBI menilai bahwa, pada titik tertentu setelah pencarian dan wawancara Tang pada 20 Juni 2020, Tang pergi ke Konsulat China di San Francisco, di mana FBI menilai dia tetap (di sana)," tulis jaksa penuntut dalam dokumennya di pengadilan 20 Juli 2020.

Dokumen itu juga mengonfirmasi bahwa FBI memburu para ilmuwan China lain yang Departemen Kehakiman Amerika sebut mereka berbohong tentang latar belakang militernya untuk memasuki AS.

Dokumen itu menuduh upaya beberapa warga negara China menyembunyikan hubungan mereka dengan militer atau pun dengan pemerintahnya. "Pemerintah China telah menginstruksikan anggota PLA di Amerika Serikat untuk menghalangi pengadilan dengan menghapus informasi dari perangkat mereka," bunyu dokumen tersebut seperti dikutip San Francisco CBS, Jumat (24/7/2020).

Tuduhan itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan China , khususnya terkait dengan pencurian kekayaan intelektual—termasuk oleh para peneliti China yang memiliki koneksi dengan militer dan pemerintah—untuk keuntungan Beijing.

Pekan ini, pemerintah AS memerintahkan penutupan Konsulat China di Houston, dan Departemen Kehakiman menuntut dua peretas China atas tuduhan menargetkan perusahaan yang mengerjakan vaksin untuk virus corona baru (Covid-19).

Dalam sebuah pernyataan, UC Davis mengatakan sekolah kedokterannya menyediakan informasi kepada petugas penegak hukum yang mereka minta. Universitas itu mengatakan Tang Juan telah menjadi peneliti tamu di Departemen Onkologi Radiasi yang karyanya didanai oleh program pertukaran yang berafiliasi dengan Kementerian Pendidikan China dan Xijing Hospital.

Menurut pihak kampus, Tang Juan meninggalkan universitas pada akhir Juni, dan pekerjaannya hanya berbasis di laboratorium penelitian. (Baca juga: China Balas Dendam, Tutup Paksa Konsulat AS di Chengdu )

Jurnalis Associated Press tidak dapat meninggalkan pesan telepon dengan Konsulat China di San Francisco pada Kamis pagi untuk mengonfirmasi klaim bahwa Tan Juan bersembunyi di konsulat tersebut. Tidak ada pengacara untuk Tang Juan yang terdaftar dalam dokumen pengadilan.

Sementara itu, FBI telah mewawancarai pemegang visa di lebih dari 25 kota di Amerika yang diduga menyembunyikan hubungan mereka dengan militer China. Departemen Kehakiman percaya bahwa penipuan seperti itu adalah bagian dari upaya yang disponsori pemerintah China untuk mencuri penelitian dan inovasi dari universitas-universitas Amerika untuk keuntungan ekonomi Beijing.

"Ini adalah bagian lain dari rencana Partai Komunis China untuk mengambil keuntungan dari masyarakat terbuka kita dan mengeksploitasi institusi akademik," kata John Demers, pejabat keamanan nasional di Departemen Kehakiman, dalam sebuah pernyataan.

"Pertama, saya akan mengatakan pemerintahan (Donald) Trump telah melakukan kampanye retorika dan tindakan yang mengarah ke China sebagai musuh," kata Daniel Sneider, pakar kebijakan internasional di Universitas Stanford. "Beberapa di antaranya terkait, tentu saja, dengan situasi virus corona."

Pemerintahan Trump telah menutup Konsulat China di Houston, tempat dokumen rahasia diduga dibakar. China mengecam penutupan paksa itu sebagai tindakan yang keterlaluan dan telah hari ini membalas dengan memerintahkan penutupan Konsulat AS di Chengdu.
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Jika AS Lanjutkan Perang,...
Jika AS Lanjutkan Perang, Trump: Iran Tidak Akan Ada Lagi
7 Pekerjaan Pertama...
7 Pekerjaan Pertama Para Pemimpin Dunia yang Tak Banyak Diketahui, Ada yang Jual Teh hingga Jadi Tukang Kayu
Pembangkang China Ini...
Pembangkang China Ini Kabur ke Korea Selatan dengan Perahu Karet, Sekarang Muncul di Kanada
Iran Tuduh AS Khianati...
Iran Tuduh AS Khianati Perjanjian Damai saat Kedua Pihak Saling Serang
AS Serang 10 Target...
AS Serang 10 Target di Iran, IRGC Balas Bombardir Pangkalan Amerika di Kuwait dan Bahrain
6 Pesawat Pengebom Nuklir...
6 Pesawat Pengebom Nuklir China dan Rusia Manuver Gabungan Dekati Jepang
Timnas Iran Pulang Tanpa...
Timnas Iran Pulang Tanpa Kekalahan
Kemlu Pastikan 3 WNI...
Kemlu Pastikan 3 WNI di Venezuela Aman Pascagempa Dahsyat M7,1
Pakistan: Ada Pihak...
Pakistan: Ada Pihak Tak Ingin Iran Bangkit dari Puing-Puing Kehancuran
Rekomendasi
Dari Sampang, Rihul...
Dari Sampang, Rihul CZ Bangun Peluang Lewat Konten Digital
BPS: Sensus Ekonomi...
BPS: Sensus Ekonomi 2026 Bukan untuk Penetapan Pajak Pribadi
Sidang Perdana Praperadilan...
Sidang Perdana Praperadilan Roy Suryo Digelar Besok Pagi di PN Jaksel
Berita Terkini
Iran Buat Senjata yang...
Iran Buat Senjata yang Lebih Canggih selama Perang dengan AS-Israel, Ini Bocorannya
Helikopter Saudi Aramco...
Helikopter Saudi Aramco Jatuh, 14 Orang Tewas
Ingin Kendalikan Selat...
Ingin Kendalikan Selat Hormuz, Iran Serukan Kerangka Keamanan dengan Negara Arab
Gelombang Panas Terjang...
Gelombang Panas Terjang Prancis, Rumah Duka Kewalahan
Jika AS Lanjutkan Perang,...
Jika AS Lanjutkan Perang, Trump: Iran Tidak Akan Ada Lagi
7 Pekerjaan Pertama...
7 Pekerjaan Pertama Para Pemimpin Dunia yang Tak Banyak Diketahui, Ada yang Jual Teh hingga Jadi Tukang Kayu
Infografis
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Libya Cuma Rp427 per Liter
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved