2 Anak Muda yang Menjadi Miliarder karena Kembangkan Bisnis AI
Senin, 22 Mei 2023 - 10:22 WIB
loading...
A
A
A
Sagami menggunakan AI untuk membantu menyelesaikan permasalahan di masyarakat dengan populasi yang terus menua di Jepang. Sejak debutnya di Bursa Saham Tokyo pada Juni 2022, saham M&A Research Institute terus meningkat tajam. Pada tahun 2023 saja sudah meningkat 47%. Sagami yang berusia 32 tahun memiliki 72% saham pada perusahaan tersebut.
Pada April 2023, 620.000 perusahaan menguntungkan berisiko tutup karena tidak ada penerus. Kepada Bloomberg dalam wawancara terbaru, Sagami mengatakan dirinya menemukan inspirasi untuk memulai bisnis tersebut dari kakeknya yang terpaksa menutup bisnis agen properti pada 1980-an ketika pensiun karena dia tak mampu menemukan penerusnya. “Di kantor kakek, ada lisensi bagi agen properti yang dipajang di dinding. Ketika itu tutup, maka lisensi itu dibuang dan itu sangat menyedihkan,” katanya.
M&A Research Institute, kini mempekerjakan lebih dari 160 orang, fokus untuk menjual perusahaan dengan nilai penjualan USD3,7 juta per tahun. Dengan menggunakan AI dan data yang layak, perusahaan yang hendak dijual bisa membangun kesepakatan selama 49 hari hingga 6 bulan. Kesepakatan itu penjualan bisa mencapai satu tahun tergantung dengan kesepakatan.
M&A Research Institute tidak akan meminta upah hingga transaksi penjualan tersebut. Tapi, M&A Research Institute meminta 5% dari transaksi jika sukses. Itu menyebabkan M&A Research Institute mampu mengumpulkan dana hingga 10 juta yen. Hingga Maret 2023, terdapat 62 kesepakatan dan itu meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun lalu.
Itu bukan pertama kali bisnis bagi Sagami. Lulusan sarjana biologi dan pertania dari Universitas Kobe, awalnya dia adalah pengembang software dan pernah bekerja sebagai staf pemasaran. Dia pernah mendirikan Alpaca, perusahaan fashion perempuan pada 2017, dan dijual kepada perusahaan public relation. Dia belajar bahwa proses kesepakatan tidak efisien, akhirnya dia membuat sistem dengan algoritma AI untuk menyederhanakan aliran bisnis.
Baca Juga: Bos Microsoft Sebut Teknologi AI Ciptakan PHK dan Buka Lapangan Kerja
2. Alexandr Wang
Pada April 2023, 620.000 perusahaan menguntungkan berisiko tutup karena tidak ada penerus. Kepada Bloomberg dalam wawancara terbaru, Sagami mengatakan dirinya menemukan inspirasi untuk memulai bisnis tersebut dari kakeknya yang terpaksa menutup bisnis agen properti pada 1980-an ketika pensiun karena dia tak mampu menemukan penerusnya. “Di kantor kakek, ada lisensi bagi agen properti yang dipajang di dinding. Ketika itu tutup, maka lisensi itu dibuang dan itu sangat menyedihkan,” katanya.
M&A Research Institute, kini mempekerjakan lebih dari 160 orang, fokus untuk menjual perusahaan dengan nilai penjualan USD3,7 juta per tahun. Dengan menggunakan AI dan data yang layak, perusahaan yang hendak dijual bisa membangun kesepakatan selama 49 hari hingga 6 bulan. Kesepakatan itu penjualan bisa mencapai satu tahun tergantung dengan kesepakatan.
M&A Research Institute tidak akan meminta upah hingga transaksi penjualan tersebut. Tapi, M&A Research Institute meminta 5% dari transaksi jika sukses. Itu menyebabkan M&A Research Institute mampu mengumpulkan dana hingga 10 juta yen. Hingga Maret 2023, terdapat 62 kesepakatan dan itu meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun lalu.
Itu bukan pertama kali bisnis bagi Sagami. Lulusan sarjana biologi dan pertania dari Universitas Kobe, awalnya dia adalah pengembang software dan pernah bekerja sebagai staf pemasaran. Dia pernah mendirikan Alpaca, perusahaan fashion perempuan pada 2017, dan dijual kepada perusahaan public relation. Dia belajar bahwa proses kesepakatan tidak efisien, akhirnya dia membuat sistem dengan algoritma AI untuk menyederhanakan aliran bisnis.
Baca Juga: Bos Microsoft Sebut Teknologi AI Ciptakan PHK dan Buka Lapangan Kerja
2. Alexandr Wang
Lihat Juga :