Lukashenko: Rusia Bisa Tempatkan Rudal Nuklir Antarbenua di Belarusia Jika Perlu
Sabtu, 01 April 2023 - 05:01 WIB
loading...
Presiden Belarusia Alexander Lukashenko. Foto/REUTERS
A
A
A
MINSK - Presiden Alexander Lukashenko mengatakan pada Jumat (31/3/2023) bahwa Rusia "jika perlu" dapat menempatkan rudal nuklir antarbenua di Belarusia juga.
Pernyataan itu muncul karena Moskow telah memutuskan menempatkan senjata nuklir taktis di wilayah sekutunya tersebut. Belarusia berbagi sekitar 1.084 km perbatasan dengan Ukraina.
Dalam pidato tahunan kepada anggota parlemen dan pejabat pemerintah, Lukashenko mengatakan rencana Moskow menempatkan senjata nuklir di wilayah Belarusia akan membantu melindungi negara tersebut, yang menurutnya berada dalam ancaman Barat.
"Saya tidak berusaha mengintimidasi atau memeras siapa pun. Saya ingin melindungi negara Belarusia dan memastikan perdamaian bagi rakyat Belarusia," ujar Lukashenko.
Baca juga: Rusia Anggap Penjaga Perdamaian NATO Target Sah jika Dikerahkan di Ukraina
Lukashenko mengatakan, “Belarusia memiliki cukup senjata konvensional untuk melawan ancaman, tetapi jika kami melihat bahwa di balik (ancaman) terletak kehancuran negara kami, kami akan menggunakan semua yang kami miliki."
"Jika perlu, Putin dan saya akan memutuskan dan membawa senjata strategis, jika diperlukan," ungkap dia.
Meskipun Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan pada Sabtu bahwa rudal taktis akan tetap berada di bawah kendali Moskow, Lukashenko menyarankan dia dapat menggunakannya dengan persetujuan Rusia jika Belarusia terancam kehancuran.
Baca juga: Putin Setujui Doktrin Kebijakan Luar Negeri Baru, Sebut Barat Lemahkan Rusia
Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky bersumpah mengalahkan Rusia pada Jumat saat berbicara bersama para pemimpin Eropa di Bucha.
Pernyataan itu muncul satu tahun setelah pasukan Moskow menarik diri dari kota Ukraina yang identik dengan tuduhan kejahatan perang itu.
"Pertempuran untuk fondasi dunia bebas terjadi di tanah Ukraina. Kami pasti akan menang. Kejahatan Rusia akan jatuh, di sini di Ukraina dan tidak akan dapat bangkit kembali," tegas Zelensky, menurut wartawan di sana.
Zelensky didampingi Presiden Moldova Maia Sandu dan perdana menteri Kroasia, Slovenia, dan Slovakia.
Pernyataan itu muncul karena Moskow telah memutuskan menempatkan senjata nuklir taktis di wilayah sekutunya tersebut. Belarusia berbagi sekitar 1.084 km perbatasan dengan Ukraina.
Dalam pidato tahunan kepada anggota parlemen dan pejabat pemerintah, Lukashenko mengatakan rencana Moskow menempatkan senjata nuklir di wilayah Belarusia akan membantu melindungi negara tersebut, yang menurutnya berada dalam ancaman Barat.
"Saya tidak berusaha mengintimidasi atau memeras siapa pun. Saya ingin melindungi negara Belarusia dan memastikan perdamaian bagi rakyat Belarusia," ujar Lukashenko.
Baca juga: Rusia Anggap Penjaga Perdamaian NATO Target Sah jika Dikerahkan di Ukraina
Lukashenko mengatakan, “Belarusia memiliki cukup senjata konvensional untuk melawan ancaman, tetapi jika kami melihat bahwa di balik (ancaman) terletak kehancuran negara kami, kami akan menggunakan semua yang kami miliki."
"Jika perlu, Putin dan saya akan memutuskan dan membawa senjata strategis, jika diperlukan," ungkap dia.
Meskipun Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan pada Sabtu bahwa rudal taktis akan tetap berada di bawah kendali Moskow, Lukashenko menyarankan dia dapat menggunakannya dengan persetujuan Rusia jika Belarusia terancam kehancuran.
Baca juga: Putin Setujui Doktrin Kebijakan Luar Negeri Baru, Sebut Barat Lemahkan Rusia
Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky bersumpah mengalahkan Rusia pada Jumat saat berbicara bersama para pemimpin Eropa di Bucha.
Pernyataan itu muncul satu tahun setelah pasukan Moskow menarik diri dari kota Ukraina yang identik dengan tuduhan kejahatan perang itu.
"Pertempuran untuk fondasi dunia bebas terjadi di tanah Ukraina. Kami pasti akan menang. Kejahatan Rusia akan jatuh, di sini di Ukraina dan tidak akan dapat bangkit kembali," tegas Zelensky, menurut wartawan di sana.
Zelensky didampingi Presiden Moldova Maia Sandu dan perdana menteri Kroasia, Slovenia, dan Slovakia.
(sya)
Lihat Juga :