Tak Hanya Teroris, Kelompok Neo Nazi Juga Jadikan Virus Corona Senjata
Jum'at, 10 Juli 2020 - 05:39 WIB
"Sementara itu, politisi sayap kanan dan organisasi berita telah menggunakan virus untuk mendorong maju pesan anti-imigran dan populis mereka," kata laporan itu, sekaligus memperingatkan bahwa prevalensi konten seperti itu menormalkan kebencian terhadap komunitas etnis, ras dan agama.
Laporan tersebut juga mengemukakan kekhawatiran bahwa penguncian wilayah (lockdown) dapat menyebabkan orang menjadi lebih rentan terhadap radikalisasi dan perawatan.
Laporan ini seolah menguatkan peringatan yang dikeluarkan Koordinator nasional untuk program kontraterorisme Inggris, Kepala Inspektur Nik Adams, pada bulan Juni lalu. Saat itu Adams memperingatkan bahwa beberapa orang yang rentan akan tertarik pada kegiatan teroris, ketika sekolah, layanan kesehatan mental dan layanan kesehatan masyarakat dilanda pandemi.
Komisi itu juga memperingatkan bahwa teori konspirasi yang tidak berdasar dan informasi yang salah sebagian besar disebar secara online. Laporan itu menemukan bahwa sebuah postingan media sosial palsu tentang Muslim yang melanggar lockdown telah dibagikan sebanyak 2.700 kali.
Sebuah studi yang dikutip oleh laporan tersebut menemukan bahwa sekitar 90% dari posting yang berisi informasi yang salah tidak ditindaklanjuti oleh perusahaan media sosial, bahkan setelah ditandai oleh relawan.
"Pandemi itu tidak membuat ekstrimis tidak berani menyebarkan ideologi kebencian mereka," kata komisaris utama Sara Khan dalam sebuah pernyataan.
Laporan tersebut juga mengemukakan kekhawatiran bahwa penguncian wilayah (lockdown) dapat menyebabkan orang menjadi lebih rentan terhadap radikalisasi dan perawatan.
Laporan ini seolah menguatkan peringatan yang dikeluarkan Koordinator nasional untuk program kontraterorisme Inggris, Kepala Inspektur Nik Adams, pada bulan Juni lalu. Saat itu Adams memperingatkan bahwa beberapa orang yang rentan akan tertarik pada kegiatan teroris, ketika sekolah, layanan kesehatan mental dan layanan kesehatan masyarakat dilanda pandemi.
Komisi itu juga memperingatkan bahwa teori konspirasi yang tidak berdasar dan informasi yang salah sebagian besar disebar secara online. Laporan itu menemukan bahwa sebuah postingan media sosial palsu tentang Muslim yang melanggar lockdown telah dibagikan sebanyak 2.700 kali.
Sebuah studi yang dikutip oleh laporan tersebut menemukan bahwa sekitar 90% dari posting yang berisi informasi yang salah tidak ditindaklanjuti oleh perusahaan media sosial, bahkan setelah ditandai oleh relawan.
"Pandemi itu tidak membuat ekstrimis tidak berani menyebarkan ideologi kebencian mereka," kata komisaris utama Sara Khan dalam sebuah pernyataan.
Lihat Juga :