Wakil Wali Kota Yerusalem Dorong Non-Yahudi Tinggalkan Israel, Dicap Rasis

Jum'at, 11 November 2022 - 14:58 WIB
"Selama masa Benny Elon, saya adalah kepala cabang Moledet di Yerusalem dan kemudian kami mendirikan sebuah organisasi bernama 'Hagar', atas nama Hagar, orang Mesir, ibu dari Ismail, dan seluruh ide yang kami ambil dari di sana. Ismail dan Yitzhak tidak akur dan tidak ada pilihan lain selain menyuruh Hagar dan putranya, Ismail, untuk pergi." paparnya.

Elon adalah seorang pemimpin dalam gerakan Moledet dan mengusulkan agar orang-orang Palestina dan Arab dipindahkan ke negara-negara Arab dan pembentukan negara Palestina di Yordania.

Pada awal tahun 2000-an, Elon bekerja dengan pemimpin sayap kanan Rabi Shlomo Aviner untuk mempromosikan sebuah program untuk membayar pengungsi Palestina masing-masing USD50.000 hingga USD100.000 untuk beremigrasi ke negara lain.

King menolak klaim bahwa dia menginginkan Israel yang "bebas Arab".

"Akan selalu ada orang Arab di sini. Akan selalu ada orang Kristen di sini. Tapi tahukah Anda berapa banyak orang Israel dengan kartu identitas biru yang tinggal di AS? Hampir satu juta. Ini sangat penting karena jika kita memiliki lebih dari satu juta orang Israel yang tinggal di Eropa dan AS."

King menekankan bahwa ini adalah inisiatif pribadi yang tidak terkait dengan pemerintah dan bertujuan untuk menghasilkan uang dengan menawarkan layanan yang dapat dibayar oleh penduduk non-Yahudi untuk membantu mereka pindah dan mencari pekerjaan di luar negeri.

Inisiatif ini, kata dia, tidak bermaksud untuk membayar relokasi penduduk.

Dalam sebuah wawancara dengan Army Radio, Wakil Wali Kota Yerusalem mengatakan, "Selama beberapa tahun, orang Yahudi telah didorong untuk pindah—ada perusahaan yang menargetkan orang Yahudi dengan tawaran relokasi, tidak ada perusahaan yang menargetkan orang Arab. Mereka yang percaya bahwa ini adalah negara kita tidak perlu malu untuk mendorongnya."

"Tidak tertulis dalam Deklarasi Kemerdekaan bahwa Israel adalah negara demokratis, ini adalah negara Yahudi di mana minoritas memiliki hak. Lebih penting bagi saya bahwa negara ini menjadi Yahudi daripada [negara] demokratis," imbuh King.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!