AS Ternyata Bergantung pada China dan Rusia untuk Bisa Produksi Senjata

Sabtu, 11 Juni 2022 - 00:53 WIB
Sebuah laporan yang menyertai RUU tersebut akan meminta manajer persediaan pertahanan nasional untuk memberi penjelasan singkat kepada komite tentang status antimon pada bulan Oktober sambil memberikan pandangan lima tahun mineral ini dan kerentanan rantai pasokan saat ini dan di masa depan.

“Komite prihatin tentang dinamika geopolitik baru-baru ini dengan Rusia dan China dan bagaimana hal itu dapat mempercepat gangguan rantai pasokan, terutama dengan antimon,” bunyi laporan tersebut, seperti dikutip dari Defense News, Jumat (10/6/2022).

RUU juga akan mengharuskan Departemen Pertahanan untuk menerapkan kebijakan daur ulang baterai bekas untuk merebut kembali logam mulia, mineral tanah jarang, dan elemen strategis yang penting (seperti cobalt dan lithium) ke dalam rantai pasokan atau cadangan strategis Amerika Serikat.

Subkomite kesiapan DPR diharapkan akan menyetujui teks RUU itu pada forum yang dijadwalkan pada hari Kamis waktu Washington, dan Komite Angkatan Bersenjata akan memajukan RUU tersebut sebagai bagian dari RUU otorisasi pertahanan tahunan akhir bulan ini.

Setelah Jepang memotong pasokan antimon AS dari China selama Perang Dunia II, Amerika Serikat mulai membeli mineral dari bijih di tambang emas Idaho. Namun, tambang itu berhenti berproduksi pada 1997.

“Tidak ada ranjau domestik untuk antimon,” bunyi laporan tahun 2020 dari US Geological Survey, sebuah badan pemerintah Amerika.

“China adalah produsen antimon yang ditambang dan dimurnikan terbesar dan sumber utama impor bagi Amerika Serikat.”
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!