Dampak Krisis Corona, Dunia Terancam Kelaparan
Kamis, 23 April 2020 - 06:45 WIB
Dalam laporan yang dilansir BBC, pemaparan WFP yang tercantum dalam Laporan Krisis Makanan Dunia menyoroti Yaman, Republik Demokratik Kongo, Afghanistan, Venezuela, Etiopia, Sudan Selatan, Sudan, Suriah, Nigeria, dan Haiti. Di Sudan Selatan, seperti dijabarkan laporan tahunan tersebut, 61% penduduknya terdampak krisis makanan tahun lalu. Bahkan, sebelum wabah virus korona berlangsung, sebagian wilayah Afrika Timur dan Asia Selatan telah mengalami kekurangan makanan yang parah akibat kekeringan dan wabah serangga terparah sejak puluhan tahun terakhir.
Ekonom senior WFP, Arif Husain, mengatakan dampak pandemi terhadap ekonomi berpotensi menimbulkan bencana untuk jutaan jiwa "yang sudah berada di ujung tanduk". "Ini adalah pukulan godam bagi jutaan jiwa yang hanya bisa makan jika memperoleh upah," ujar Husain.
Dia mengungkapkan, lockdown dan resesi ekonomi dunia sudah menghancurkan simpanan mereka. “Hanya perlu satu ledakan lagi—seperti Covid-19—untuk mendorong mereka hingga jatuh. Sekarang kita harus bertindak secara kolektif untuk memitigasi dampak bencana dunia ini,” ujar Husai, dilansir BBC.
Awal bulan ini, WFP menyatakan mengurangi bantuan hingga setengah ke sejumlah kawasan Yaman yang dikendalikan pemberontak Houthi akibat krisis pendanaan. Lembaga PBB itu mengakui penyumbang telah menghentikan sumbangan mereka karena khawatir pengantaran bantuan akan dihalangi pemberontak Houthi.
Setiap bulan WFP memberi makanan kepada 12 juta warga Yaman, 80% di antara mereka berada di kawasan yang dikendalikan pasukan Houthi. Yaman mengonfirmasi kasus Covid-19 pertamanya awal bulan ini. Sejumlah lembaga bantuan mewanti-wanti penyakit itu dapat dengan cepat membuat sistem kesehatan negara itu kewalahan.
Penguatan Sistem Pangan
Krisis pangan juga menjadi perhatian pada pertemuan G-20 Extraordinary Agriculture Ministers Virtual Meeting pada Selasa (21/4), yang digagas pemerintah Arab Saudi. Pertemuan tersebut dipimpin Menteri Lingkungan Hidup, Air, dan Pertanian Arab Saudi Abdulrahman Abdulmochsin Alfadley, diikuti oleh para Menteri Pertanian G-20, dan Perwakilan Organisasi Internasional. Karena pandemi Covid-19, pertemuan ini dilaksanakan melalui video conference.
Dalam pertemuan itu, pandemi Covid-19 dinilai berpotensi menghambat sistem pangan dengan terganggunya rantai pasok. Untuk itu, pemerintah Indonesia menilai setiap negara perlu menjadikan upaya pemulihan dan penguatan sistem pangan sebagai prioritas utama saat ini.
"Pandemi Covid-19 mengganggu rantai pasokan makanan sehingga terjadi volatilitas harga pangan dan penurunan daya beli di tingkat nasional dan global. Karena itu, prioritas kami adalah untuk memperkuat sistem pangan,’’ kata Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo dalam pertemuan tersebut.
Ekonom senior WFP, Arif Husain, mengatakan dampak pandemi terhadap ekonomi berpotensi menimbulkan bencana untuk jutaan jiwa "yang sudah berada di ujung tanduk". "Ini adalah pukulan godam bagi jutaan jiwa yang hanya bisa makan jika memperoleh upah," ujar Husain.
Dia mengungkapkan, lockdown dan resesi ekonomi dunia sudah menghancurkan simpanan mereka. “Hanya perlu satu ledakan lagi—seperti Covid-19—untuk mendorong mereka hingga jatuh. Sekarang kita harus bertindak secara kolektif untuk memitigasi dampak bencana dunia ini,” ujar Husai, dilansir BBC.
Awal bulan ini, WFP menyatakan mengurangi bantuan hingga setengah ke sejumlah kawasan Yaman yang dikendalikan pemberontak Houthi akibat krisis pendanaan. Lembaga PBB itu mengakui penyumbang telah menghentikan sumbangan mereka karena khawatir pengantaran bantuan akan dihalangi pemberontak Houthi.
Setiap bulan WFP memberi makanan kepada 12 juta warga Yaman, 80% di antara mereka berada di kawasan yang dikendalikan pasukan Houthi. Yaman mengonfirmasi kasus Covid-19 pertamanya awal bulan ini. Sejumlah lembaga bantuan mewanti-wanti penyakit itu dapat dengan cepat membuat sistem kesehatan negara itu kewalahan.
Penguatan Sistem Pangan
Krisis pangan juga menjadi perhatian pada pertemuan G-20 Extraordinary Agriculture Ministers Virtual Meeting pada Selasa (21/4), yang digagas pemerintah Arab Saudi. Pertemuan tersebut dipimpin Menteri Lingkungan Hidup, Air, dan Pertanian Arab Saudi Abdulrahman Abdulmochsin Alfadley, diikuti oleh para Menteri Pertanian G-20, dan Perwakilan Organisasi Internasional. Karena pandemi Covid-19, pertemuan ini dilaksanakan melalui video conference.
Dalam pertemuan itu, pandemi Covid-19 dinilai berpotensi menghambat sistem pangan dengan terganggunya rantai pasok. Untuk itu, pemerintah Indonesia menilai setiap negara perlu menjadikan upaya pemulihan dan penguatan sistem pangan sebagai prioritas utama saat ini.
"Pandemi Covid-19 mengganggu rantai pasokan makanan sehingga terjadi volatilitas harga pangan dan penurunan daya beli di tingkat nasional dan global. Karena itu, prioritas kami adalah untuk memperkuat sistem pangan,’’ kata Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo dalam pertemuan tersebut.
Lihat Juga :