Bersembunyi dan Dilindungi 24 Jam, Politisi Anti-Islam Belanda Tak Menyesal
Selasa, 09 Maret 2021 - 14:06 WIB
Politisi anti-Islam Belanda, Geert Wilders. Foto/REUTERS
AMSTERDAM - Politisi anti-Islam Belanda , Geert Wilders, mengatakan dia tidak menyesal atas berbagai tindakannya yang memicu kemarahan komunitas Muslim dunia. Dia saat ini tinggal di persembunyian dan mendapat perlindungan 24 jam dari negara.
Dalam kondisi bersembunyi, Wilders siap untuk meningkatkan kampanyenya melawan imigrasi meskipun krisis virus corona akan mendominasi isu dalam pemilu Belanda minggu depan.
Baca juga: Sanksi AS Tak Mempan, Iran Leluasa Jual Minyak ke China Secara Fantastis
Pernah dijuluki "Trump-nya Belanda" karena rambut pirangnya yang memutih dan retorika yang menghasut, Wilders kini lebih fokus pada isu perawatan kesehatan dan menentang pembatasan lockdown selama kampanye pemilu.
Partainya, Partai Kebebasan (PVV), menjadi partai terbesar kedua di parlemen pada pemilu 2017. Namun, politisi 57 tahun itu mengakui bahwa Perdana Menteri Rutte masih berada di jalur untuk menang.
"Pemerintah saat ini agak populer sekarang—setidaknya, perdana menteri—tetapi sekali lagi, pada saat krisis orang cenderung mengerahkan diri di sekitar bendera,” kata Wilders kepada AFP dalam sebuah wawancara di parlemen Belanda yang dilansir Selasa (9/3/2021).
Dalam kondisi bersembunyi, Wilders siap untuk meningkatkan kampanyenya melawan imigrasi meskipun krisis virus corona akan mendominasi isu dalam pemilu Belanda minggu depan.
Baca juga: Sanksi AS Tak Mempan, Iran Leluasa Jual Minyak ke China Secara Fantastis
Pernah dijuluki "Trump-nya Belanda" karena rambut pirangnya yang memutih dan retorika yang menghasut, Wilders kini lebih fokus pada isu perawatan kesehatan dan menentang pembatasan lockdown selama kampanye pemilu.
Partainya, Partai Kebebasan (PVV), menjadi partai terbesar kedua di parlemen pada pemilu 2017. Namun, politisi 57 tahun itu mengakui bahwa Perdana Menteri Rutte masih berada di jalur untuk menang.
"Pemerintah saat ini agak populer sekarang—setidaknya, perdana menteri—tetapi sekali lagi, pada saat krisis orang cenderung mengerahkan diri di sekitar bendera,” kata Wilders kepada AFP dalam sebuah wawancara di parlemen Belanda yang dilansir Selasa (9/3/2021).
Lihat Juga :